SEDIH

September 2nd, 2007 by surjorimba

Gue menghabiskan 12 tahun di suatu tempat. Mengejar ilmu, mengejar karir, mengejar impian, mengejar uang, mengejar popularitas….. ingin membuktikan bahwa gue bisa berguna bagi rumah dan keluarga tempat gue bernaung selama 12 tahun. Sampai pada waktunya gue menyerah. Tak ada lagi yang bisa gue lakukan untuk rumah yang sudah membesarkan selama ini. Semua yang gue lakukan berangkat dari impian untuk menjadikan rumah itu lebih baik. Namun rupanya kepala keluarga dan hampir semua anggota keluarganya lebih merasa nyaman dengan keadaan sekarang ini. Jadi buat apa lagi gue berlama-lama disini? Mending gue menjelajah petualangan baru.

Jauh ketika itu gue mengajak semua orang untuk bergandengan tangan. "Yuk, kita bareng menuju masa depan yang lebih baik. Jika loe ngga pe-de, loe bareng ama gue. Kita bareng. Bersama kita bisa." Tapi uluran tangan tinggallah uluran tangan.

Jadi gue memilih untuk pergi.

Seorang sahabat terbaik berkata,"Dahulu kala seorang laksamana membakar seluruh kapalnya agar para prajurit tidak punya pilihan lain: maju dan menang, atau mati." Lalu ku jawab,"Gue tidak perlu membakar kapal. Loe ngga lihat kapal kita sekarang sedang kebakaran?"

Empat bulan kemudian, nyaris tiap hari gue mendengar tangisan, ratapan, keluhan, makian, cemoohan dan segudang lainnya yang ditujukan kepada rumah itu, yang semuanya disampaikan oleh mereka yang jadi saudara gue selama 12 tahun. Apa yang mereka harapkan dari gue? Mencari solusi? Dulu sudah pernah gue tawarkan. Gue ajak bareng. Bersama kita bisa. Tapi semua itu kandas. Gue ngga bisa melakukannya sendiri. Gue nyerah. Gue dikecewakan. Kini tangisan yang sama masih terdengar. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Nggada. We chose different ways. Setidaknya gue memilih jalan berbeda.

Divisi yang dulu kala susah payah gue bangun, kini perlahan tenggelam. Tak lagi bertaring. Fondasi yang gue tanam, kini mulai dilupakan. Perbaikan yang dulu dirintis, tak ada lagi yang meneruskan. Revolusi yang dulu dibakar, kini meredup tinggal bara. Siapa yang sanggup menyalakannya lagi? Tidak ada.

Sedih? Ya tentu saja. Dulu semua itu dibangun dengan dasar itikad baik dan untuk kepentingan bersama. Tapi kini mereka yang tersisa tak mampu menjalankan amanat. Pupuslah sudah semua anyaman hari esok yang lebih cerah.

Setiap ada yang datang, gue hanya berkata,"Jika memang ingin tetap tinggal, terimalah semua itu dengan ikhlas. Tapi jika sudah tidak suka lagi, pergilah mencari masa depan." Gue memilih pergi karena tidak ingin menjadi zombie. Gue tidak ingin ikut tenggelam bersama kapal ini. Gue mencintai kapal ini. Tapi tidak sebegitu besar cinta gue kepada kapal ini, sehingga ikhlas tenggelam bersamanya. Gue memilih untuk terjun ke laut. Berserah kepada YME semoga gue selamat diseberang sana. Kepada mereka yang masih bertahan di kapal, kalian bebas memilih.

Jika ditanya apakah gue bahagia sekarang? Jawabannya ya. Apakah sekarang gue sukses? Jawabannya relatif, karena ukuran kesuksesan tiap orang berbeda. Apakah gue menyesal (telah pergi)? Jawabannya ya, karena seharusnya gue telah memutuskannya 3-5 tahun yang lalu. Bagaimana tidak? Semua data ada di meja. Gue membaca semua data itu. I should’ve decided decades ago.

My dear friends, there is always an option in life.

THE GOOD & THE BAD WEEK

August 29th, 2007 by surjorimba

Duh….. have you experienced a good and bad week altogether? I have.

Sunday night, together with my wife and kids, we went to Urbanfest, Ancol. The main purpose was to see Sore and White Shoes & The Couples Company in concert. I’ve been calling and sending sms to Awan (Sore’s bassist), Boik (Sore’s manager) and John (WS&TCC’s drummer) for the exact event rundown. Especially when they’re on stage. I was very excited to know that they played next to each other, and on the same slot (19.30-20.30 WIB). So it won’t be a problem. We were very happy to see them live. Unfortunately Sore didn’t play Pergi Tanpa Pesan, our favourite song. We even have that song as our ring back tone cellphone.

Anyway, it was during that event I lost one of my most favourite keychain: Tintin in Tibet, where Tintin was having his backpack. It must fell somewhere or somebody grabbed it, I don’t know). We walked everywhere, quite dark, and I have no idea where it fell. So it was gone forever. I was very sad.

Some days before, I was very upset with my wife. I didn’t know what’s on her mind. But she threw away a box, with my favourite watch in it! She thought it was empty, she said. But based on past experience, I’m pretty sure that wasn’t the reason. She was mindblinded, when she threw the box. Not realizing to checked the inside first. So the watch is gone forever.

As usual, my car was parked in front of the house during daytime. And as usual, every Tuesday, I parked a bit farther so the truck, carrying trash, could pass leaving my car any harm. But accidents do happen. It wasn’t the truck, but it was the trash (perhaps some leaves and woods) left marks on the two left doors. It wasn’t that damaged, but still it was visible enough from a close distance. I didn’t know what to say. The truck won’t repaired it for sure. For the whole day, I kept thinking how to repair those scratches. Yesterday I went to a car saloon, for the first time since I bought this new car a year ago. I didn’t give specific orders to erase the scratches. But the guys there noticed it, and they promised to do their best. I spent 3,5 hours wandering around. To Mc Donalds, bookstore, CD store, having coffee latte at a cafe, reading The White Castle book, …until I called the saloon. They said the car is finished and I could get it. I was very happy, although not expecting much in the beginning, that most scratch were gone. Yay!!!

It was also yesterday, when two packages arrived. One was a dvd, A Stranger of Mine. It was a Japanese movie, my most favourite movie during JIFFEST 2006. I finally decided to buy imported, since no local versions avail ever since. The other package was from Amazon.com, also a dvd, Rendezvous (Juliette Binoche). I considered this package lost, since it was sent more than a month ago. The order was divided into two shipments. The first was with Rendezvous, while the latter (sent two weeks later) with 300 special ed. The 2nd part already arrived some 10 days ago, while the first was nowhere. I e-mailed Amazon, and I knew they’d replace the order anyway, but still I wanted to wait. Hoping it arrived on time. I’m very glad the dvd is on my hands now.

Guess everybody has a good and a bad week altogether….

EKSPEDISI KAPAL BOROBUDUR: JALUR KAYU MANIS

August 29th, 2007 by surjorimba

Dipublikasikan di Koran Tempo Minggu, suplemen Ruang Baca,  26 Agustus 2007

Pentas komik nasional diramaikan oleh sebuah komik dokumenter tentang ekspedisi kapal Borobudur yang menapak tilas jalur pelayaran perdagangan kayu manis berabad silam. Kita masih ingat di tahun 2002-2003 sebuah tim ekspedisi berusaha mereka-ulang kapal layar dengan referensi utamanya murni berdasarkan relief kapal yang terpahat di dinding candi Borobudur. Tidak banyak referensi lain yang ditemukan, dan tim arkeolog dan arsitek berusaha sebisa mungkin membangun kapal yang dimaksud. Tentu saja ini ambisi yang nyaris mustahil. Namun semangat membara membuat semua pihak, termasuk Pemerintah R.I, mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk mewujudkan mimpi ini.

Komik dokumentasi ini mengingatkan pada Fax From Sarajevo, karya Joe Kubert, yang berkisah tentang kondisi perang Bosnia. Kubert tidaklah berada ditengah dentuman granat dan desingan peluru. Ia tinggal di Amerika, namun kerap berkomunikasi dengan sahabatnya dibelahan bumi sana melalui telepon dan fax. Ratusan lembar fax inilah yang digunakan sebagai bahan dasar penulisan cerita. Pendekatan serupa juga digunakan penulis cerita Ekspedisi Kapal Borobudur.

Penulis Yusi A. Pareanom mewawancarai berbagai pihak, serta membaca berbagai bahan (termasuk artikel koran dan buku log kapal) agar mendapatkan gambaran utuh perihal semangat dibalik misi ambisius ini. Secara runut narasi bertutur langkah demi langkah realisasi impian, termasuk kisah-kisah yang tidak terpublikasi dalam berbagai berita resmi ketika ekspedisi berlangsung. Ilustrator Bondan Winarno dan Dhian Prasetya secara apik dan indah mampu memvisualisasi perjalanan ini. Tak lupa visualisasi yang paling penting adalah keindahan kapal Borobudur-nya sendiri.

“Komik ini ingin menunjukan bahwa sejarah tidaklah selalu milik mereka para tokoh besar, maupun yang gugur di medan pertempuran. Tapi dapat pula dilakukan oleh sekelompok orang yang berjiwa besar. Ekspedisi ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Salah satu fokus utama cerita komik adalah pada semangat persahabatan dan persaudaraan antar bangsa, mereka yang terlibat dalam ekspedisi kapal Borobudur,” ungkap Yusi dalam suatu wawancara. Naskah yang disusun pun merefleksikan semangat persahabatan dan persaudaraan yang dimaksud. Kita dapat membaca berbagai peristiwa unik, mengharukan dan mendebarkan yang dialami seluruh awak dan penumpang kapal. Pembaca secara emosional ikut larut dalam petualangan mendebarkan. Bagaimana tidak? Mereka semua mengarungi samudera, menelusuri jejak nenek moyang bangsa Indonesia hingga ke ujung dunia sana.

Ilustrasi yang kaya warna dan sepintas terlihat pengaruh komikus asal Belgia, Herge, merupakan kekuatan tersendiri. Indah tiada tara, terutama ketika melukiskan panorama lautan ketika kapal Borobudur menggapai impian. Ukuran panel yang besar memudahkan pembaca memanjakan mata. Pembanding terdekat mungkin komik-komik Eropa, termasuk Rampokan Jawa (Peter van Dongen) yang beberapa waktu silam membuat heboh dunia dengan reka wajah Indonesia zaman kemerdekaan. Kecermatan dan keindahan yang ditawarkan ini sangat tepat bagi sasaran pembaca yang kebetulan semua umur.

Diakui oleh Yusi kesulitan terbesar adalah saat menggambar fisik kapal secara akurat, walaupun berbagai dokumentasi tersedia. Kesulitan lain adalah merangkum seluruh perjalanan ke dalam jumlah halaman yang terbatas. Sudah barang tentu proses penyuntingan menjadi sangat penting untuk membuat karya ini singkat dan padat.

Ekspedisi Kapal Borobudur tidaklah luput dari kekurangan. Kesalahan teks dibeberapa tempat sangat mengganggu bacaan. Terkadang ada celetukan beberapa karakternya yang tidak relevan dengan isi cerita. ”Namun banyak pembaca muda yang menyukainya saat prototipe komik disampaikan,” jelas Yusi. Seandainya saja diselipkan pula beberapa lembar potongan berita atau catatan harian, foto dokumentasi, atau bahkan denah kapal, isi komik ini bisa semakin kaya dan menarik.

Dicetak sebanyak 3.000 eksemplar oleh Banana Publishing, diharapkan masyarakat menyadari bahwa komikus Indonesia mampu menciptakan karya yang tak kalah dibandingkan karya luar. Selain itu juga membuka wawasan bahwa komik hanyalah sebuah media dan tidak identik dengan bacaan jenaka. Sebuah komik dapat berisi cerita berbobot, sebagaimana Ekspedisi Kapal Borobudur: Jalur Kayu Manis.

Saat ini sudah ada beberapa komik lainnya yang sedang dalam proses. Pencurian Permata di Dag Express (seting perjalanan kereta api Jakarta-Surabaya tahun 1930-an), Asmara dan Darah di Batavia (setting pembantaian etnis Tionghoa abad ke-18), dan Utusan Sang Adipati (seting jalan raya pos Anyer-Panarukan). Dua yang pertama sudah mulai pada proses ilustrasi, sementara yang terakhir masih pada tahap cerita. Sudah barang tentu judul-judul ini sangat dinantikan dan sudah pasti akan ikut meramaikan pentas panggung komik nasional.

SAMBUTAN TIM KURATOR KOSASIH AWARD 2007

August 24th, 2007 by surjorimba

Dipublikasikan di buku katalog Kosasih Award 2007
Dibacakan saat pembukaan Kosasih Award 2007, 16 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta

Festival Komik Indonesia Satu Dekade 1997-2007 (KONDE) merupakan parade perjalanan komik Indonesia selama kurun waktu tersebut. Tidak hanya karya-karya komik monumental yang lahir pada satu dekade terakhir ini. Namun juga mencakup peristiwa-peristiwa penting seputar dunia komik nasional. Semuanya semata demi mewartakan kepada masyarakat bahwa komik Indonesia masih aktif dan senantiasa berprestasi. KONDE merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap budaya seni pop ini, yang sering dicaci, dilecehkan, bahkan dianaktirikan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.

Berbagai usaha dilakukan dalam satu dekade terakhir untuk mengangkat ’harkat dan martabat’ seni komik. Mulai dari pameran, liputan media, forum diskusi, kemasan yang artistik, tulisan kritik, dan masih banyak lagi. Salah satu yang kini dirintis adalah penghargaan terhadap karya seni komik. Mengapa tidak? Dunia seni lain, contohnya sinema dan musik, memiliki ajang penghargaan. Semuanya bertujuan positif, yaitu memberikan apresiasi tertinggi serta memberi dukungan agar terus melahirkan karya-karya masterpiece. Di dunia internasional, penghargaan terhadap seni komik tidaklah asing. Beberapa negara sudah melakukannya sejak tahunan lampau. Sebagian para pemenang mendapatkan perhatian tinggi dari pemerhati seni lainnya, dan perlahan pengakuan terhadap seni komik pun mengalir.

Mengapa diberi nama Kosasih Award? Mengapa bukan tokoh komikus lainnya? Walaupun belum ada pengakuan resmi dari Pemerintah atau lembaga hukum manapun, komikus legendaris R.A. Kosasih dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia. Catatan historis menunjukan bahwa beliau bukanlah orang Indonesia pertama yang membuat komik di era modern. Namun R.A. Kosasih-lah yang paling berjasa kepada semua komikus dan pembaca komik tanah air melalui karya-karyanya. Beliau yang pertama kali melahirkan komik dalam format buku di tahun 1953 dengan tokoh Sri Asih, seorang wanita dengan kekuatan super berpakaian selayaknya tokoh wayang. Kelak Sri Asih menginspirasi banyak komikus untuk terus melahirkan karakter-karakter pahlawan super.

Ketika masyarakat menuding seni komik sebagai karya seni murahan dan merusak moral pembacanya (yang mayoritas anak-anak), R.A. Kosasih mengadaptasi kisah-kisah wayang ke dalam media komik. Dimulai dari Burisrawa Merindukan Bulan (1953), beliau meneruskannya hingga terbit karyanya yang paling fenomenal, Mahabharata dan Ramayana ditahun 1954. Langkah ini merupakan strategi paling jitu ketika berhadapan dengan masyarakat yang sudah terlanjur akrab dengan filosofi kisah pewayangan selama ratusan tahun. R.A. Kosasih pun mampu menghibur, sekaligus menyampaikan pesan moral yang sama dalam format komik. Selain itu, ini yang paling penting, R.A. Kosasih mampu menyampaikannya dengan bahasa Indonesia yang sangat sederhana. Faktor terakhir inilah yang paling sulit, mengingat ia menyadur kitab Mahabharata dan Ramayana (yang aslinya berbahasa India) dan semurni mungkin dengan menghindarkan pengaruh budaya Jawa (wayang purwa). Beliau pun memvisualisasikan berbagai karakter wayang dengan interpretasi yang mengagumkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan, mengingat masyarakat mengenal visualisasi karakter wayang sebatas bentuk-bentuk tradisional seperti wayang beber, wayang kulit, wayang golek dan wayang orang. Hasilnya sudah dapat ditebak dan masyarakat pun mulai dapat menerima komik (setidaknya komik wayang) sebagai bacaan yang baik.

Ketekunan, dedikasi, inovasi dan kesuksesan R.A. Kosasih membuka pintu karir dan menjadi teladan bagi ribuan komikus hingga hari ini. Sudah waktunya beliau, yang kini masih segar dan sehat di usia yang sangat lanjut, mendapatkan penghargaan yang lebih dari sekedar pantas. Penamaan penghargaan dengan mengabadikan namanya merupakan salah satu bentuk ucapan cinta dan terima kasih seluruh insan pecinta komik Indonesia kepadanya.

Penyelenggaraan Kosasih Award 2007 memberikan 10 kategori penghargaan yaitu: komik terbaik, cerita terbaik, gambar terbaik, sampul terbaik, karakter terbaik, komik indie terbaik, komik terapi terbaik, komik maya terbaik, tulisan kritik terbaik, dan majalah komik terbaik. Seluruh nominator dipilih dari ribuan karya yang terbit selama 1997-2007, baik terbit secara mainstream maupun secara independen. Menentukan 10 kategori diatas bukanlah pekerjaan mudah. Terutama saat merumuskan definisi setiap kategori. Berbagai pertimbangan dilakukan, termasuk melihat apa yang penting bagi perkembangan komik nasional.

Memilih karya terbaik untuk setiap kategori juga bukanlah pekerjaan yang ringan. Selain banyaknya karya yang harus diseleksi selama 10 tahun terakhir, tim kurator menemukan banyak sekali karya yang kualitasnya bagus. Debat argumen, yang terkadang juga dengan debat ilmiah, pada akhirnya berakhir dengan kesepakatan. Tentu saja hasilnya dapat dipertanyakan dikemudian hari, namun pemilihan yang telah melampaui proses ketat dipercaya dapat dipertanggungjawabkan dan diterima publik.

Apakah pemberian penghargaan Kosasih Award berikutnya harus menunggu 10 tahun lagi? Semoga saja tidak. Semoga apa yang sudah dirintis ini dapat berlanjut menjadi ajang prestasi setiap, katakanlah, dua tahun sekali. Diharapkan semua pihak terus berbenah diri untuk menyempurnakannya. Tidak hanya dari pihak penyelenggara, namun juga proses seleksi dan peningkatan mutu komik-komik yang lahir di masa yang akan datang, serta profesionalitas para pelaku industri komik nasional. Terbuka kemungkinan pada penyelenggaraan berikutnya jumlah, jenis dan definisi kategori berubah seiring perkembangan zaman. Namun semuanya itu tetap memiliki satu tujuan: meningkatkan kualitas karya dan mengapresiasi komik nasional.

Hidup komik Indonesia!

KATA PENGANTAR KATALOG KOMIK INDONESIA SATU DEKADE 1997-2007

August 24th, 2007 by surjorimba

9-18 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta

Hidup seseorang mengalami banyak perubahan dari hari ke hari. Apalagi jika dihitung mencapai rentang 10 tahun. Seseorang tumbuh, berkembang, terpuruk, terkapar, bangkit, sukses, gagal, dan seterusnya. Itulah siklus hidup. Kehidupan yang sama juga dialami dengan denyut nadi komik nasional. Berbagai peristiwa membuat pecinta komik nasional berdebar penuh cemas dan tersenyum penuh harap. Lukisan jatuh-bangun komik nasional dalam 10 tahun terakhir itu dicoba untuk dirangkum dan direpresentasikan dalam parade karya. Dari sekian ratus karya komik yang terbit dalam kurun waktu satu dekade ini, terpilihlah beberapa komik yang dianggap mewakili kiprah komik nasional dalam pentas seni dalam negeri.

Dalam 10 tahun terakhir banyak sudah suka-duka yang dialami. Kita kehilangan para maestro komik seperti Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Taguan Hardjo, Zaldy, Sim dan Wid NS. Coretan prestasi mereka akan selalu hidup dalam kenangan kita. Terdengar ironis ketika hari ini kita semua menyadari bahwa catatan panjang kreativitas mereka tak terdokumentasi dengan baik. Sulit untuk melacak seluruh buah tangan mereka. Mungkinkah ini potret dari sebagian problema negeri kita yang dikenal tak rajin mendokumentasikan sejarah?

Pentas komik nasional juga menyaksikan tumbuhnya gerakan komik independen (indie). Sampai dengan akhir dekade 80an, Indonesia nyaris tidak mengenal gerakan komik indie. Namun sejak pertengahan dekade 90an, fenomena ‘self create-produce-distribute-promote’ tsb berlanjut hingga hari ini. Apa yang diciptakan komik indie ini menoreh sejarah tersendiri bagi perkembangan komik nasional. Beberapa judul komik indie karya Eko Nugroho, Ahmad Zeni, Wisnoe Lee, dan beberapa lainnya ikut dipilih merepresentasikan wajah komik Indonesia satu dekade.

Industri percetakan komik juga mengalami pasang-surut. Tiba-tiba kita mendapati hilangnya nyaris seluruh komik nasional dari peredaran di akhir dekade 80an. Pertengahan 90an dapat dikatakan nihil, kecuali beberapa judul komik wayang yang senantiasa tersedia. Komik strip yang rutin menghiasi koran dan majalah masih akrab membaca pembaca. Bahkan komik-komik surga dan neraka tak pernah absen menyapa mereka yang usai menunaikan ibadah sholat Jum’at di pelataran mesjid.

Awal dekade 2000 secara perlahan beberapa judul mulai tersedia kembali seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Gundala Putera Petir, Godam, Labah-labah Merah, serta tentunya serial Mahabharata dan Ramayana-nya RA Kosasih. Sebagian mengalami perubahan format dan teks. Prestasi penjualan komik-komik cetak ulang ini tidaklah sehebat masa keemasan mereka. Pembelinya semakin segmented, dan ini makin sulit mengingat biaya produksi yang tidaklah murah. Sulitnya melacak gambar master membuat kualitas komik cetak ulang kurang prima. Ini disebabkan karena komik cetakan dengan kertas dan tinta yang tidak bagus, yang dijadikan sumber utama komik cetak ulang. Kendala lain masih berkisar simpang siurnya pemilik hak cipta judul komik, mengingat pada masa lalu tidak banyak transaksi antara komikus dan penerbit terdokumentasi dengan tertib.

Beberapa komik juga digambar ulang agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Contohnya Panji Tengkorak dan Walet Merah, yang digambar ulang oleh pencipta aslinya Hans Jaladara. Beberapa tokoh komik juga di-reborn-kan seperti Gina (oleh penciptanya Gerdi WK) dan Godam (oleh Sungging putra alm. Wid NS). Beberapa talenta muda juga mulai eksis dipercaturan komik Indonesia. Sebagian dari mereka dapat dilihat karyanya dari komik strip yang terbit secara rutin harian, mingguan atau bulanan di koran atau majalah.

Tema yang kita jumpai dalam komik nasional juga semakin beragam, dan pada umumnya booming seiring dengan berubahnya wajah politik Indonesia di tahun 1997-1998. Komikus semakin terpacu untuk mengangkat tema-tema yang sebelumnya ragu diungkapkan. Katakanlah serial Mat Jagung (karya Radhar Panca Dahana), Lagak Jakarta, Selamat Pagi Urbaz (karya Beng Rahadian), Jakarta 2039 (karya Seno Gumira Ajidarma), serta komik-komik yang diproduksi oleh para LSM/ NGO, termasuk komik-komik tokoh politik. Semuanya ini memperkaya khasanah komik kita.

Fenomena lain adalah tumbuhnya berbagai komunitas komik. Katakanlah Pengajian Komik DKV, Masyarakat Komik Indonesia, KomikIndonesia.com, Komik Alternatif, dan lain sebagainya. Nyaris semuanya tumbuh dan berkembang pesat berkat adanya teknologi internet. Kini dunia semakin tak terbatas dan siapapun diseluruh belahan dunia, dapat berinteraksi atas minat yang sama, yaitu komik nasional. Keberadaan berbagai komunitas ini mempermudah komunikasi diantara para pelaku, pengamat dan penikmat komik. Saat ini sedang dirintis upaya lintas komunikasi antara komikus, penerbit, distributor dan toko buku. Tujuannya adalah untuk mencari solusi terbaik dalam ’mewabahkan’ komik nasional. Semua pihak menyadari adanya masalah yang dapat dipecahkan, asalkan pintu-pintu komunikasi dibuka selebar-lebarnya. Dengan demikian semua pihak memahami kondisi yang terjadi.

Fenomena lain yang tak kalah penting adalag semakin mewabahnya komik-komik terjemahan dan pengaruhnya terhadap karakter para komikus. Jika pada dekade 70an dan 80an kita menemukan banyaknya komik terjemahan dari Amerika dan Eropa, maka dekade 90an menjadi saksi gelombang tsunami komik terjemahan Jepang. Kini nyaris semua toko buku dipenuhi komik asal negeri matahari terbit ini. Banyak komikus muda yang sangat terpengaruh dengan komik Jepang, seperti Wind Rider (karya Is Yuniarto dan John G. Reinhart) yang banyak mendapat pujian. Namun banyak pula yang menggunakan nama samaran agar terdengar ke-Jepang-jepang-an, yang dilakukan untuk mendongkrak penjualan.

Dalam 10 tahun terakhir kita juga menyaksikan berbagai pameran, lomba, kursus komik, diskusi komik, bazaar, dan sejenisnya. Walaupun pada umumnya baru terselenggara diberbagai kota di pulau Jawa, namun penyebaran ke wilayah lain hanyalah masalah waktu. Artikel yang hadir di media cetak, serta berbagai liputan dan obrolan di televisi dan radio juga menunjukan bahwa masyarakat masih memperhatikan komik Indonesia. Berbagai aktivitas ini penting untuk membuka wawasan masyarakat untuk lebih mengapresiasi komik nasional.

Media cetak lainnya juga menjadi saksi kebangkitan dan keterpurukan komik nasional. Dalam rentang 10 tahun terakhir banyak sekali majalah, format tabloid atau fanzine yang mengkhususkan diri pada komik. Sebagian dari mereka kini sudah gulung tikar, namun masih ada yang bertahan seperti majalah Sequen. Sebagian lagi memilih untuk berkarya dengan format website di internet. Dari sini berbagai informasi terkini bisa disebarkan kepada para pecinta komik Indonesia diseluruh dunia. Ada pula yang sedang menyusun one gate information untuk komik nasional.

Teknologi internet berperan besar bagi perkembangan komik Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perkiraan bahwa internet akan lebih berperan dalam 10 tahun mendatang tidaklah berlebihan. Sangat mungkin kita dapat berlangganan komik strip, atau membeli komik-komik jadul, dalam format data softcopy. Mereka yang mengumpulkan bahan studi atau skripsi juga dimudahkan. Informasi akan tersebar secara lebih cepat. Beberapa situs komik terpilih mewakili wajah komik Indonesia satu dekade seperti Tita’s Playground (karya Dwinita Larasati) serta Gibug dan Oncom (karya Wisnoe Lee). Keduanya terpilih karena konsistensi, komitmen dan kreativitas yang patut menjadi contoh bagi komikus lainnya.

Teknologi internet membuat dunia mengetahui kiprah industri komik Indonesia. 24 Hours Comic Day 2006 diikuti oleh para komikus Indonesia di tiga kota. Dalam kegiatan ini, yang dilakukan serentak di seluruh dunia, setiap komikus diminta untuk menyelesaikan 24 halaman komik dalam waktu 24 jam. Dua karya diantaranya terpilih sebagai 10 karya terbaik internasional dan sudah dibukukan secara komersial. Sudah barang tentu kita semua berharap prestasi komikus Indonesia semakin dikenal di mancanegara dimasa mendatang.

Pada akhirnya kita semua berharap komik Indonesia akan mengalami perubahan positif yang lebih signifikan dalam 10 tahun yang akan datang. Hanya waktu yang dapat menjawab.

MY GREATEST DISCOVERY IN MUSIC CDS (part 1)

June 5th, 2007 by surjorimba

Music has been filling my life for so many years. I think since 1978 when I started to listen to my parents’ cassettes and vinyls, and my eldest sister’s music. But it was 1979 when I started to listened to Elshinta and Prambors radio stations in Jakarta. In 1980 I started to collected my own cassettes and vinyls. The genres I loved spread throughout the borders. I began to loved Beatles, Chicago, Carpenters, Michael Jackson, Crosby Stills & Nash, Kool & The Gang, Earth Wind & Fire, Heatwave, Donny Osmond, Barbra Streisand, Nite Flyte, Kenny Nolan, Dionne Warwick, T Connection, Al Jarreau and many more.

In the early 1982 I explored Level 42, Genesis, ELP, Air Supply, Shakatak, Tatsuro Yamashita,  Queen, Gilbert O’Sullivan, Kayak, etc. But it was in 1983 when I discovered Yes, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, ELO, Beach Boys, Supertramp, and so on.

I’ve been collecting cassettes until recently I sold many of them. I haven’t been listening to cassettes for some years now. I’ve been collecting CDs since 1991 and still do. Most of my CDs replaced the cassettes. I’ve been hunting all over the world, thanks to the internet, to find the CD versions of the artists and songs I loved. I can tell you that it’s been an endless expedition and adventure. Many of them were very hard and very expensive. Some are still nowhere to be found, since it was never got released in CD format. The search will never end.

These are the CDs I found during the quest, which were very hard to find or very expensive (when I got them). Some were not avail anymore, and I guess I was very lucky to have them on hand.

ANDERSON, BRUFORD, WAKEMAN, HOWE-s/t
This title is not hard to find. It’s not even expensive. But this title was the CD that made me started my hunt. Before this CD, I have some collections from Beatles, Chicago and Toto. But it was ABWH that made me started the journey.

CRANBERRIES-Live Acoustic
This was one of the three bootlegs I bought in 1996. The sound quality was remarkable. There was no official release. Not even today.

KOOL & THE GANG-State of Affairs
JT Taylor collaborated with Kool & The Gang to released this album in 1995. I bought it a year later without any references. I was glad to follow my instinct as it was a very good album. Too bad people overlooked it. It’s already hard to find now.

OMPS: STAR WARS: A NEW HOPE (special edition)
I bought this CD, among several others, from my first trip to Singapore in 1997. Its released commemorated the special edition movie releases. The CD was packed inside a very beautiful digibook, with extensive linear notes. The 2 CDs itself was shaped after the Death Star. I didn’t thought about completing the other 2 titles until 2001. I almost returned empty handed searching The Empire Strikes Back and Return of the Jedi special edition CDs.

RUSH-Different Stages Live
This was the first time I bought CDs from internet in 1999, along with Steve Howe’s Quantum guitar.

UK-Concert Classics vol 4
This CD was an almost unffocial bootleg from the band U.K. Why almost unofficial? Because only months after I bought this, Eddie Jobson (the violinist) claimed its illegality and demanded to withdraw from market.

CHICAGO-Group Portrait 4 disc
It was very cheap when I got this from internet. The tracklists were very comprehensive for Chicago dummies. This title went out of print ever since

YES-‘Round The World In 80 Dates
This bootleg CD was among my first collection of Yes bootlegs. Got it from trade with new friends in Europe and USA

ESPERANTO-Last Tango
When first I got the 3 albums from Esperanto in 1999, it was transferred from vinyl with remarkable result. Thanks to my friends in Europe. My friends here copied it numerously until in 2002 the three albums got released in mini vinyl replicas format.

ANGLAGARD-Epilog
Got the copied version in 1999 and it didn’t take much time to make this band from Sweden my favourite. The original release was already out of print. In 2003 the album was reprinted and soon got oop again. I’m glad to held a copy before it went oop.

AFTER CRYING-Almost Pure Instrumental
This was a compilation album from the Hungarian band. I got the copied CD in 1999 and finally bought the original in 2002.

RAH BAND-Greatest Hits
Got the CD in 2000 as I’ve been searching for so long. It’s already oop now. I think the label company doesn’t exist anymore

THE POLICE-Message In A Box (4cd)
I got it on a usedstore in 2000 and I was quite funny. I was with Luky when the owner sold it to the store. We were there, so we knew the intial price. When we bought the CDs, the store was ashamed to get higher price. So we got it quite cheap.

THE FLOWER KINGS-Fan Club CD 2000
This CD was a complimentary from the Flower Kings fanzine. It has the cover versions of Across The Universe and Cinema Show. This was a limited release and never got avail commercially.

PATRICK MORAZ & BILL BRUFORD-Music For Piano and Drums
Today people can get this release from UK. But it was years only avail in Japan and went oop very soon. I got it used in Majestic at a very cheap price in 2000. I remember how my friends were deeply envy knowing I have this CD.

T-CONNETION- Everything’s Cool….the Best
Again used from Majestic. It contained many favourite songs and never got released in CD anywhere.

KAYAK-The Last Encore
Back then this title was long oop and a friend in Netherlands helped me got one. Now you can get it easily.

ALAN WHITE-Ramshackled
Now it is available everywhere. Back then this album was avail only as Japanese release. I was lucky to get it used.

JONATHAN ELIAS-Requiem For The Americas
It’s been my favourite for years in cassette. Jon Anderson, Michael Bolton, Nick Rhodes, Tommy Shaw, Simon le Bon, etc. But I never thought to find the CD format. When I searched, it was already long out of print. I’ve looked for years until in 2000 I found it at a used store in internet. It was quite cheap.

EARTH, WIND & FIRE-Faces
Hard to say about this CD. Sometimes it was difficult to find. Sometimes you can find it everywhere. But in 2000 it was hard to get a copy.

MIKE RUTHERFORD-Smallcreep’s Day
It’s already out of print now

NITE FLYTE-Nite Flyte II
This was only avail as Japanese release. It was the first time I bought from HMV Japan in 2001.

PORCUPINE TREE-Staircase Infinities
It was already out of print when I bought this album in 2001. Found it accidently at a usedstore in Bandung. The material was released again recently as a bonus disc at Porcupine Tree’s rereleased albums.

YES-Going For The One (mini vinyl replica CD)
When I bought this and Drama album in mid-2001, I wasn’t planning to get the whole set. But after got both in my hands, I decided to buy the whole set. As you guess, it cost me a fortune.

LEVEL 42 (24-bit remastered series)
As usual, I only bought 4 titles at first. But when I realized that this rereleases were very good, I decided to buy the whole 9 albums in 2001.

TON SCHERPENZEEL-Heart of the Universe
If you want to buy this album, you must contact Ton Scherpenzeel as he released it privately. That was what I do in 2001.

OMPS: TWO OF A KIND
Most people forgot the movie, but the soundtrack was awesome. I think it is already out of print now. It has Olivia Newton John, David Foster, Patti Austin, etc.

BARBRA STREISAND-A Happening in Central Park
Years before I got the laserdisc at a usedstore. I was very excited to find the CD version. It is still avail in internet. But not on your regular CD store here.

SOPHIE ELLIS BEXTOR-Take Me Home singles
Soon after the album, I bought her single which had videoclip. Then I bought the remaining Murder On The Dance Floor and Get Over You singles. Again with bonus tracks and videoclips. In 2002 I brought them altogether and got Sophie’s signature during her promo show at Trans TV Jakarta.

CASIOPEA-Mint Jams
This album was among the many Casiopea’s DSD Mastering Series I got. In Mint Jams case, it was the mini vinyl replica packaging

TATSURO YAMASHITA-For You
This japanese release I bought purely for the Your Eyes and Sparkle tracks.

SHEILA MAJID-Legenda
Got this as a Japanese release in 2002. My most favourite album from the Malaysian diva.

PINK FLOYD-Dark Side Of The Moon
Got this as a Japanese release in 2002. My most favourite album from Pink Floyd

End of part 1

PANTULAN CITA & PERCIK PESONA: KARYA CHRISYE YANG TERLUPAKAN

June 5th, 2007 by surjorimba

Dipublikasikan di majalah SoundUp! Edisi April 2007

Chrismansyah Rahadi alias Chrisye telah pulang ke pencipta-Nya pada hari Jum’at 30 Maret 2007. Legenda musik Indonesia meninggalkan kita, para penggemarnya, selama-lamanya setelah sekitar tiga tahun berjuang melawan kanker paru-paru. Perjalanan karir musik Chrisye sejak 1970-an memberikan pengaruh besar bagi perkembangan musik Indonesia. Tidak hanya warna vokalnya yang khas, tapi juga konsistensinya dan kemampuannya mengikuti perubahan zaman serta pribadinya yang bersahaja.

Telah lebih dari 17 album solo, dan beberapa album kolaborasi dan kompilasi, yang ia terbitkan. Mulai dari album rock progresif paling fenomenal sepanjang sejarah musik Indonesia (Guruh Gipsy), album soundtrack film Indonesia paling sukses (Badai Pasti Berlalu), hingga album-album solo yang semuanya rata-rata sukses.

Secara pribadi penulis mengagumi dua album solo Chrisye yang bertajuk Percik Pesona  (1979) dan Pantulan Cita (1981). Tidak banyak penggemar Chrisye yang memperhatikan kedua album ini. Tidak saja karena tidak ada hits yang populer di tangga lalu pop dan stasiun radio saat itu, tetapi juga karena musiknya yang tergolong bukan musik pop. Kedua album ini menanggung beban berat, terutama setelah suksesnya album solo perdana Sabda Alam (1978) dan soundtrack Gita Cinta Dari SMA/ Puspa Indah Taman Hati (1980).

Kecintaan Chrisye terhadap musik progressive rock (saat itu masih disebut art rock) menimbulkan obsesi tersendiri. Bagaimana tidak? Sepanjang 1970-an Chrisye sangat akrab dengan band-band Barat seperti Genesis, Yes, ELP, Beatles, dan lainnya. Chrisye sebenarnya pernah merintis musik progressive rock (singkatnya progrock) saat berkolaborasi dengan Jockie Surjoprajogo di album Jurang Pemisah (1977). Lagu Jeritan Seberang dan Jurang Pemisah memberikan tanda bahwa musik pop dengan konsep progressive bisa dibentuk. Sentuhan Jockie sangat terasa di album ini, terutama dengan bekal kiprahnya di God Bless dan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.

Konsep progrock ala Indonesia di album Percik Pesona dan Pantulan Cita secara artistik patut mendapat pujian. Sayangnya masyarakat saat itu melihatnya berbeda. Dalam buku biografinya (ditulis oleh Alberthiene Endah), Chrisye: Sebuah Memoar Musikal, sang legenda mengenang masa-masa itu,”Tapi dalam kenyataannya, prinsip begini sulit diterapkan. Ketika kita sudah berhadapan dengan pasar yang kritis dan tuntutan marketing, kita sudah tidak bisa hanya memercayai kata hati. Ada suara-suara dari luar yang mau tidak mau menelusuk ke dalam benak dan suka tidak suka akan memengaruhi cara berpikir kita.”

Pada album Percik Pesona, Chrisye membukanya dengan tembang Kehidupanku. Lagu ini pantas ditempatkan sebagai pembuka. Tempo sedang, variasi drum Keenan Nasution, jemari Jockie dan Chrisye, dengan lirik yang menyentuh kalbu perihal renungan seorang insan yang berjalan menantang dunia. Suasana progrock sangat terasa pada title track nya dimana Fariz RM mengisi posisi drum. Melodi bass Chrisye terdengar sangat dipengaruhi permainan Paul Mc Cartney. Seperti kebanyakan komposisi Fariz RM, liriknya pun sangat puitis (ciri khas generasi Badai pada masa itu). Guruh menyumbangkan lagunya Lestariku, dengan lirik yang memuja alam dan kekasihnya. Beberapa tahun kemudian Chrisye mengaransemen ulang lagu ini dengan bantuan Addie MS. Sementara itu lagu Dirimu dan Diriku, serta Damba Di Dada, menjadi lagu-lagu indah yang kerap terlupakan pada berbagai kompilasi hits Chrisye.

Bagaimana dengan album Pantulan Cita? Keindahan artistiknya menandingi Percik Pesona, begitu pula dengan nasib komersialnya. Belajar dari kegagalan Percik Pesona dari sisi komersial, Chrisye (dan Jockie) belajar banyak. Diselingi album soundtrack Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati, Chrisye makin percaya diri dengan kekuatan warna suaranya. Yang kini diperlukan hanyalah resep musik yang bisa diterima masyarakat. Logo yang dibuat oleh Gauri Nasution, mantan rekannya di Gipsy Band, kembali menghiasi sampul. Desain yang unik (susunan puzzle wajah Chrisye) menambah semarak keindahan sampul. Sesuatu yang jarang diperhatikan diblantika musik Indonesia pada era sebelum datangnya Chrisye cs.

Keagungan Pantulan Cita dibuka dengan lagu Kencana, yang kembali menampilkan dinamika keyboard, drum dan bass. Lirik yang memuji keagungan alam kembali menjadi andalan. Aransemennya pun seakan mewartakan bahwa album ini bukanlah album pop biasa. Lagu kedua, Sentuhanmu, tergolong biasa. Namun track berikutnya, Desah Kalbu, Pantulan Cita dan Kala Mega Kian Mendung, seharusnya mampu menjadi hit berikutnya dari album ini. Sayangnya ketiga lagu ini, dan seluruh lagu yang dikemas bersamanya, tak mampu mengangkat popularitas Pantulan Cita. Mungkinkah karena keliru dalam susunan lagu? Atau keliru dalam memilih lagu andalan? Atau keliru dalam menjagokan lagu bagi stasiun radio? Entahlah. Yang jelas secara komersial, Pantulan Cita tidak mampu mengangkat popularitas Chrisye dan kembali mengulang sejarah Percik Pesona. Rupanya keindahan artistik belumlah cukup diandalkan sebagai kharisma utama sebuah karya. Chrisye tidaklah mudah menyerah. Bersama Jockie, dan kembali bekerja sama dengan Eros Djarot, mereka bertiga merilis album yang kelak menjadi tonggak sejarah kembalinya Chrisye ke pentas musik pop Indonesia: Resesi (1983).

Pada umumnya fans Chrisye tidak begitu akrab dengan album Percik Pesona dan Pantulan Cita. Terlepas dari itu semua aneh rasanya jika penggemar berat Chrisye sengaja melewatkan Percik Pesona dan Pantulan Cita. Kini waktunya yang tepat untuk mengenang prestasi almarhum. Khususnya pada masa dimana beliau tak terlalu paham mengapa kedua album yang secara artistik ia kagumi, bisa tak diterima masyarakat (saat itu). Semoga semangat yang diwariskan kepada kita akan selalu kita lestarikan kepada generasi berikutnya.

KOMIK INDONESIA DALAM SATU DEKADE

June 3rd, 2007 by surjorimba

diterbitkan di majalah CERGAM #2, Juni 2007

Hidup seseorang mengalami banyak perubahan dari hari ke hari. Apalagi jika dihitung mencapai rentang 10 tahun.

Dalam 10 tahun terakhir banyak sudah suka-duka yang dialami. Kita kehilangan para maestro komik seperti Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Taguan Hardjo dan Wid NS. Coretan prestasi mereka akan selalu hidup dalam kenangan kita. Pentas komik nasional juga menyaksikan tumbuhnya gerakan komik independen (indie). Sampai dengan akhir dekade 80an, Indonesia nyaris tidak mengenal gerakan komik indie. Namun sejak pertengahan dekade 90an, fenomena ‘self create-produce-distribute-promote’ tsb berlanjut hingga hari ini. Apa yang diciptakan komik indie ini menoreh sejarah tersendiri bagi perkembangan komik nasional.

Industri percetakan komik juga mengalami pasang-surut. Tiba-tiba kita mendapati hilangnya nyaris seluruh komik nasional dari peredaran di akhir dekade 80an. Pertengahan 90an dapat dikatakan nihil, kecuali beberapa judul komik wayang yang senantiasa tersedia. Awal dekade 2000 secara perlahan beberapa judul mulai tersedia kembali seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Gundala Putera Petir, Godam, Labah-labah Merah, serta tentunya serial Mahabharata dan Ramayana-nya RA Kosasih. Sebagian mengalami perubahan format dan teks.

Beberapa komik juga digambar ulang agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Contohnya Panji Tengkorak dan Walet Merah, yang digambar ulang oleh pencipta aslinya Hans Jaladara. Beberapa tokoh komik juga di-reborn-kan seperti Gina (oleh penciptanya Gerdi WK) dan Godam (oleh Sungging putra alm. Wid NS). Beberapa talenta muda juga mulai eksis dipercaturan komik Indonesia. Sebagian dari mereka dapat dilihat karyanya dari komik strip yang terbit secara rutin harian, mingguan atau bulanan di koran atau majalah.

Fenomena lain adalah tumbuhnya berbagai komunitas komik. Katakanlah Pengajian Komik DKV, Masyarakat Komik Indonesia, KomikIndonesia.com, Komik Alternatif, dan lain sebagainya. Nyaris semuanya tumbuh dan berkembang pesat berkat adanya teknologi internet. Kini dunia semakin tak terbatas dan siapapun diseluruh belahan dunia, dapat berinteraksi atas minat yang sama, yaitu komik nasional.

Dalam 10 tahun terakhir kita juga menyaksikan berbagai pameran, lomba, kursus komik, diskusi komik, bazaar, dan sejenisnya. Walaupun pada umumnya baru terselenggara diberbagai kota di pulau Jawa, namun penyebaran ke wilayah lain hanyalah masalah waktu. Artikel yang hadir di media cetak, serta berbagai liputan dan obrolan di televisi dan radio juga menunjukan bahwa masyarakat masih memperhatikan komik Indonesia.

Media cetak lainnya juga menjadi saksi kebangkitan dan keterpurukan komik nasional. Dalam rentang 10 tahun terakhir banyak sekali majalah, format tabloid atau fanzine yang mengkhususkan diri pada komik. Sebagian dari mereka kini sudah gulung tikar, namun masih ada yang bertahan seperti majalah Sequen. Sebagian lagi memilih untuk berkarya dengan format website di internet. Dari sini berbagai informasi terkini bisa disebarkan kepada para pecinta komik Indonesia diseluruh dunia. Ada pula yang sedang menyusun one gate information untuk komik nasional seperti yang sedang dirilis www.komikindonesia.com.

Teknologi internet berperan besar bagi perkembangan komik Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perkiraan bahwa internet akan lebih berperan dalam 10 tahun mendatang tidaklah berlebihan. Sangat mungkin kita dapat berlangganan komik strip, atau membeli komik-komik jadul, dalam format data softcopy. Mereka yang mengumpulkan bahan studi atau skripsi juga dimudahkan. Informasi akan tersebar secara lebih cepat. Pada akhirnya kita semua berharap komik Indonesia akan mengalami perubahan positif yang lebih signifikan dalam 10 tahun yang akan datang. Hanya waktu yang dapat menjawab.

KOMIK GEMPA JOGJA 5,9 SKALA RICHTER

May 23rd, 2007 by surjorimba

Buku komik ini adalah kompilasi karya-karya komik dalam rangka mengenang musibah gempa bumi Yogyakarta, 27 Mei 2006 lalu. Menurut rencana akan diterbitkan oleh Akademi Samali bertepatan dengan peringatan satu tahun. Tercatat ada 18 judul komik yang terangkum disini. Kisah yang diutarakan dalam setiap judul sangat bervariasi, namun benang merahnya tetap terjaga.

Simaklah “Keberanian, Harapan, Cita-cita” karya Mario Diaz yang mengkisahkan seorang gadis cilik yang merenung nyaris putus harapan. Berterima kasihlah ia kepada boneka beruang nya yang memberikannya semangat untuk tetap menggapai cita-cita. Ada pula “Pak Gempa” karya Endik Koeswoyo dan Diyan Bijac dengan tokoh utama bernama Bapak Gempa Melanda Hadiningrat. Narasi yang disampaikan pak Gempa seakan menjadi refleksi suara hati para korban. Hanya dalam sesaat ia kehilangan rumah dan (mungkin) sebagian anggota keluarganya. Secara cerdik pembaca diajak melihat pengalaman sehari-hari para korban. Katakanlah kesulitan mendapatkan bahan pangan dan sandang, karena harus melengkapi ketentuan administrasi.

Namaku Tini” dipersembahkan oleh Anto Garang dengan ilustrasi yang sangat realis. Seorang gadis cilik menyesali sikap manja dan merajuk kepada kedua orang tuanya. Tanpa disadari ia berdo’a kepada Tuhan agar ia dapat pergi meninggalkan ayah ibunya. Beberapa jam kemudian musibah datang dan kini ia sebatang kara, menyesali bahwa apa yang ia harapkan menjadi kenyataan.

Nampak pula “Asa” karya Aziza Noor dengan gaya ilustrasinya yang khas, namun kini tanpa kata. Empat halaman penuh gambar tanpa teks sudah cukup menyampaikan pesan. Zacky secara cerdas mampu merangkaikan kata-kata dan gambar pada “Suatu Saat di Jogja”. Sulitnya bantuan menjangkau wilayah terpencil, atau para pejabat, artis atau anggota partai yang berbondong-bondong menyerahkan bantuan sambil direkam kamera TV.

Sedikit berbeda dengan Anto Motulz dalam “Tragedi di Sebuah Jembatan” yang mengambil kisah sempalan pengalaman para pengemudi truk bantuan kemanusiaan. Peristiwa nyaris celakanya para pengemudi bersama truk saat jembatan roboh adalah salah satu contoh peristiwa yang dapat saja terjadi saat itu.

Komik yang membuat kita membaca ulang beberapa kali mungkin hanya “Tidur Panjang” karya Beng Rahadian. Rangkaian gambar surealis tanpa teks nampak sangat sulit dicerna para awalnya. Namun perlahan pembaca dapat merasuk ke dalam pesan yang ingin disampaikan. Selain mereka semua, masih ada pula karya Mansjur Daman, Injun, Tita, dan lain sebagainya. Tak banyak komik bertema memoir di Indonesia, termasuk dengan tema musibah bencana alam.

Apa yang dilakukan para komikus ini patut mendapat pujian. Sebuah rasa simpati kepada saudara kita yang tertimpa musibah dapat direfleksikan dalam berbagai rupa. Disini kita menyaksikan bahwa sebuah (kompilasi) komik juga dapat berbuat banyak untuk memberikan semangat hidup kepada para korban.

MALAM SEJUTA BENING: KONSER KEENAN NASUTION

May 21st, 2007 by surjorimba

Jakarta, 5 Mei 2007
Malam itu saya bersama istri berangkat ke Balai Kartini untuk menyaksikan konser Keenan Nasution. Kami berdua sangat antusias, karena konser bertepatan dgn ultah pernikahan kami. Jadi bolehlah saya mengatakan bhw konser ini dipersembahkan kepada kami berdua=)

Tiba di Balai Kartini agak sulit mendapat parkir. Sementara berkeliling, nampak Fariz RM dan Oneng sedang berjalan menuju lantai atas. Beruntung kami dapat satu tempat kosong, dan segera bergegas ke ruang pertunjukan. Sesampainya disana ruang lobby nampak mulai ramai. Saya sempat bertemu dengan dua orang kawan lama, Denny Sakrie dan Indra Kusuma. Tidak jauh nampak counter penjualan pre-order CD Boxset Keenan Nasution mulai ramai. Tanpa pikir panjang saya mengisi formulir dan membayar lunas Rp 350.000,- untuk 2 keping CD, plus box, plus booklet, plus kantong yang semuanya berwarna hitam doff dengan ilustrasi karya Gauri Nasution. Wah keren banget deh. Sample buku bisa dibaca-baca, dan daftar lagu dalam 2 CD cukup memuaskan (walaupun ada beberapa lagu baru yang saya ngga kenal).

Lepas dari counter CD, kami bergegas ke lantai 2 (balkon), tempat kelas silver berada. Sementara mengantri tampak wajah-wajah 60’s dan 70’s diantara mereka. Tapi rasanya generasi 80’s adalah mayoritas. Setidaknya tercermin dari banyaknya rekan semasa SMA bertemu disini. Kami sempat mendapat tempat duduk yang kurang strategis. Tapi segera pindah ke deretan lebih depan yang ternyata kosong. Jadilah pemandangan yg lebih jelas, walaupun ada yg mengganggu. Dari posisi balkon, tempat dudukan lampu2 sorot mengganggu pemandangan menuju layar/ screen. Saat demo screen, kekhawatiran ini terbukti. Tapi kami enggan pindah lagi lebih ke bawah, karena pada barisan dibawah kami pandangan terganggu dengan pegangan pagar balkon berwarna chrome. Batas pagar ini membuat penonton sulit melihat wajah-wajah para musisi di panggung.

Acara dimulai terlambat sekitar 40 menit. Penonton mulai memberi celetukan lucu-lucu. Dibuka dengan Overture oleh band pimpinan Indro plus orkestra. Wah mixing suaranya keren banget! Akustik ruangannya juga bagus sekali! Ini adalah pengalaman pertama nonton di Balai Kartini yang baru, dan sangat memuaskan. Aransemen Overture nya bagus banget. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan trio Agus Wisman, Rita Effendi & Yana Julio membawakan Jamrud Khatulistiwa dengan sangat memukau. Cuma tiga orang tapi suaranya penuh!

Tak lama tampil ADA Band membawakan dua lagu, Adikku dan Telaga Merah. Mungkin mereka hadir untuk merangkul penonton generasi muda. Tapi aransemen ADA Band ditelinga saya terasa membosankan, terutama pada lagu kedua. Penampilan mereka tidaklah jelek, tapi bagi saya mereka monoton.

Kemudian tampil Nugie yang tampil luar biasa bagus malam itu. Membawakan sebuah lagu (rasanya berjudul Life Style) dan duet dengan Keenan berjudul Sang Pencipta, sebuah lagu baru karya Keenan. Kolaborasi mereka indah sekali. Lagu Sang Pencipta akan dirilis dalam boxset pada awal Juli 2007. Belakangan tampil kembali trio Agus Wisman, Rita Effendi & Yana Julio menyanyikan lagu Di Batas Angan-Angan. Emang trio ini nggada matinya. Keenan tampil lagi diiringi solo gitar Denny TR membawakan Apa Yang Telah Kau Buat.

MC Indra Herlambang mulai menceritakan peristiwa-peristiwa lucu masa lalu. Misalnya pengalaman Gilang Ramadhan saat menonton konser Keenan tahunan lampau. Konon sehabis pertunjukan itulah Gilang bercita-cita ingin menjadi drummer. Gilang dan Keenan pun ber-drum duet dan kolaborasi keduanya sangat interaktif dan mengagumkan. Keduanya masih lanjut mengiringi penampilan putra Keenan bernama Daryl dan seorang sahabatnya. Permainan gitar keduanya benar-benar luar biasa, dan dalam waktu dekat akan dirilis albumnya. Musiknya sendiri adalah rock, dengna produser Gilang Ramadhan. Ditelinga saya, sebagian riff pada lagu Sobat terdengar khas musik 80’s dengan sound zaman sekarang.

Keenan duet lagi, kini bersama Marcell menyanyikan hits Gang Pegangsaan berjudul Dirimu. Sudah pasti mendapat sambutan sangat meriah dari penonton. Terdengar vokal Keenan masih prima, walaupun sudah tampil lebih dari satu jam. Marcell melanjutkan secara solo dengan lagu Cakrawala Senja.

Bagi sebagian orang, terutama penggemar Keenan era awal, acara masuk ke saat yang paling ditunggu. Satu per satu personil Gang Pengangsaan naik panggung: Odink Nasution, Gauri Nasution, Fariz RM, Debby Nasution dan Raidy Noor. Bersama Keenan mereka memainkan lagu solo Keenan yang sering luput dari perhatian, Negeriku Cintaku. Bagi saya, ini adalah mimpi jadi kenyataan karena sudah lama merindukan lagu ini. Walaupun sering mendengarkannya melalui iPod, tapi tetap saja menyaksikan live pengalaman berbeda. Terakhir menyaksikan Gang Pegangsaan adalah saat mereka konser di News Café Kuningan sekitar tahun 1995/ 1996.

Kini giliran Gipsy Band yang personilnya mirip-mirip Gang Pegangsaan. Selain Keenan, Gauri, Odink, ada juga Tammy pada saxophone dan Harry Sabar pada drums. Sayang Onan tidak hadir. Terakhir saya menyaksikan konser Gipsy beberapa bulan lalu di Café Bug’s. Saat itu alm Chrisye juga hadir dan ikut menyanyikan satu lagu. Gipsy hadir membawakan lagu BST: I Love You More Than You Ever Know. Kali ini tampil paduan suara dan orkestra. Suasana blues mengaroma diruangan Balai Kartini, dan untuk kesekian kalinya saya harus hormat kepada Gipsy. Mereka nggada matinya! Sayang gitar Gauri dan bass Raidy tidak begitu terdengar.

Setelah ini adalah penampilan yang paling ditunggu-tunggu. Guruh Gipsy! Saya tidak tahu apakah Guruh Gipsy pernah konser setelah album 1976? Jika tidak pernah, maka inilah penampilan pertama mereka. Memang sekitar 1995 Keenan dan Chrisye pernah tampil di….pelataran Candi Prambanan rasanya menyanyikan Indonesia Maharddika dan Chopin Larung. Tapi saat itu mereka tidak tampil bersama Guruh Gipsy. Saya mesti bongkar lagi rekaman kaset dari TV saat itu.

Indra mengajak Keenan dan Sys NS berbincang-bincang seputar Guruh Gipsy. Sys NS banyak bercerita peristiwa-peristiwa lucu ke sekitar 20-30 tahun lampau. Kecuali Guruh dan alm Chrisye, semua personil Guruh Gipsy tampil: Odink, Keenan, Ronny Harahap, Abadi Soesman, ditambah Raidy Noor menggantikan Chrisye pada bass. Masih juga pasukan gamelan Bali ikut meramaikan panggung. Jika saya tak salah lihat, Kompyang Raka ikut berada diantara mereka. Nyaris lengkap sudah formasi Guruh Gipsy. Lagu pertama, Chopin Larung dipersembahkan kepada alm Chrisye. Keenan mengambil posisi vokal menggantikan Chrisye. Agak merinding saya mendengarkan lagu ini, mungkin karena ini pertama kalinya menyaksikan langsung. Selama ini lagi-lagi hanya melalui CD hasil transferran dari kaset.

Guruh Gipsy masih menyihir penonton dengan lagu fenomenalnya Indonesia Maharddika. Lagu epik yang aslinya berdurasi 15 menit ini sedikit dipersingkat, tapi tanpa melupakan segala kemegahannya. Terutama karena paduan suara dan orkestra yang luar biasa prima. Ronny Harahap sempat bercerita proses pembuatan lagu ini, termasuk intro yang terinspirasi sebuah lagu disko dan lirik yang berupa inisial para personil Guruh Gipsy. Bagi saya, kedua lagu Guruh Gipsy ini benar-benar mengobati kerinduan selama bertahun-tahun. Sayang bass Raidy Noor lagi-lagi sering terganggu.

Kini memasuki akhir pertunjukan, sudah pasti lagu hits Nuansa Bening. Lagu yang tak pernah bosan didengar ini ternyata aransemennya dibuat oleh Addie MS. Ia tampil mengisi grand piano, mengiringi Keenan dan trio Agus-Rita-Yana.

Pertunjukan Keenan dan teman-temannya seakan memberi pesan kepada kita, bahwa berkarya haruslah total. Keenan mengenang masa-masa dimana lirik lagu sangat puitis, dan tidak blak-blakan seperti masa kini. Penampilan para musisi senior juga menunjukan kepiawaian dan profesionalitas bermusik, sesuatu yang belum tentu bisa ditiru oleh musikus masa kini yang cenderung mengambil jalan pintas dalam industri musik.

Bang Keenan, saya berdua istri mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas keindahan kado pernikahan ini. Nanti kalo launching album boxset itu pake konser lagi ngga?