Archive for January, 2008

KOOL & THE GANG

Tuesday, January 29th, 2008

dipublikasikan di majalah Sound Up edisi Desember 2007

Lupakanlah artis yang lain, karena malam ini milik Kool & The Gang. Mungkin kalimat ini terasa provokatif, tapi benarlah kenyataannya. Minggu, 25 Nov 2007, pada malam terakhir JakJazz 2007, penampilan Kool & The Gang adalah yang paling dinantikan. Penonton sudah mengantri penuh di semua pintu masuk, dan rasanya antrian tak kunjung habis. Pertunjukan sempat terlambat karena sedang perbaiki sound system. Sebelumnya saat Don Grusin manggung, ada beberapa gangguan. Semoga saja gangguan ini tidak separah penampilan perdana Kool & The Gang di Jakarta tahun 1983.

Kool & The Gang langsung mengajak penonton bergoyang dengan Fresh. Formasi band yang sudah jauh berubah sejak masa keemasannya dua dekade lalu, tidak tampak ada penurunan. Robert ‘Kool’ Bell (sax), Khallis Bayyan (dulu bernama Ronald Bell; bass), dan George Brown (keys), didampingi 9 personil lainnya seakan tak ada matinya. Dengan deretan musisi yang atraktif, rasanya malam ini tak akan pernah berakhir. Suatu kekaguman pada band yang tahun depan akan berusia 40 tahun.

Kenikmatan penonton sempat terganggu dengan masalah suara, namun hal ini segera diselesaikan. Selain hits 80an (Too Hot, Let’s Go Dancing, Joanna, Cherish, Take My Heart) dan 70an (Hollywood Swinging, Jungle Boogie, Open Sesame, Summer Madness), Kool & The Gang memperkenalkan dua buah lagu dari album terbarunya. “Memang kami sudah lama tak mengeluarkan album dengan isi materi baru, tapi kami baru saja merilisnya. Nanti kami akan membawakan beberapa diantaranya,”janji Robert “Kool” Bell saat konferensi pers,“Kamipun sangat senang diundang kemari. Penyelenggaraan JakJazz 2007 sangat rapi dan kami sangat terkesan. Kalian patut bangga dengan profesioalisme panitia, dan kami bangga bisa hadir untuk kalian.”

Lagu-lagu yang pada dekade 70an dan 80an itu memang sangat akrab di telinga. Terbukti dari tak henti-hentinya penonton bergoyang, berteriak, dan melompat sepanjang pertunjukan. Tidak hanya mereka di deretan depan panggung, tapi juga mereka di tribun atas. Malam ini benar-benar menjadi malam reuni 80an, dan Kool & The Gang menjadi rajanya. Terkadang timbul kekaguman, karena nyata Robert, Khallis dan Dennis sudah berusia lanjut. Di usia 60 tahunan, rasanya janggal menyaksikan mereka sedemikian groovy di panggung. Tapi tampak stamina yang prima dengan kemeja putih santai dan celana jeans, membuat mereka lebih muda 30 tahun. Mereka bahkan beberapa kali tampil solo dan rasanya mereka tak ada matinya.

Malam menjadi semakin meriah ketika Get Down On It menghiasi telinga. Penonton tak hentinya menyanyi dan bergoyang, terutama ketika lagu anthem masa itu Ladies Night dinyanyikan. Rasanya masa-masa diskotik Ebony, Pitstop atau Oriental Jakarta, serta Studio East Bandung kembali hidup. Tentu saja hanya lampu disko kerlap-kerlip itu yang malam ini absen. Tapi antusiasme penonton mengalahkan itu semua, dan Kool & The Gang menutup pertunjukan dengan Celebration. Hingga 15 menit setelah itu, para personil masih setia menjabat tangan para penonton dan memberikan tanda tangannya kepada apapun yang disodorkan penonton.

JakJazz 2007 secara tepat menempatkan Kool & The Gang sebagai artis penutup panggung utama. Rasanya tidak ada lagi yang mampu menghibur sedemikian fenomenal pada malam terakhir selain Kool & The Gang.

SATORU SHIONOYA GROUP

Tuesday, January 29th, 2008

Ketika jadwal penampilan Dji Sam Soe Super Premium JakJazz 2007 dirilis, banyak yang asing dengan nama para artisnya. Satoru Shionoya (Jepang) termasuk satu diantaranya. Warna musik dan kiprahnya tak banyak dikenal. Namun penampilan Satoru Shionoya Group pada Jum’at malam, 23 Nov 2007 mengubah keraguan penonton. Band beranggotakan lima musisi ini membuat penonton terus bergoyang, berdecak kagum, dan tak meninggalkan arena hingga mereka tampil lagi untuk sebuah encore. Satoru Shionoya Group hadir berkat The Japan Foundation bersama seluruh personil yang melahirkan album Hands of Guido (2006), dan juga memainkan hampir semua tembang dalam album tsb. Satoru (grand piano), Yoshito Tanaka (gitar, produser), Katsumi Hirashi (bass), Eiji Tanaka (drum) dan Masatoshi Kainuma (perkusi) membuktikan bahwa janji mereka saat konferensi pers tidaklah omong kosong. Kelima musisi mempertontonkan kemahiran bermusik tingkat dunia, dengan ketrampilan tingkat tinggi dan luasnya wawasan musik diluar musik jazz. Perhatikan saja saat Introduction dilantunkan. Diawali dengan komposisi piano klasik, dilanjutkan dengan dinamika jazz secara penuh energi, dan kembali ditutup dengan komposisi klasik. Atau pada Mr. Tap-man yang kerap memberi tempat bagi Eiji dan Masatoshi untuk berimprovisasi dengan menambah keragaman dibanding versi lagu studionya. Permainan jazz yang menghentak disuguhkan melalui Skinny-Dipper. Walaupun sangat terasa peran piano dalam setiap komposisi, peranan gitar mendapat tempat istimewa dan bersanding harmonis dengan piano. Tidaklah berlebihan jika Yoshito pantas dipuji berkat kehandalannya sebagai penata musik dan produser album Hands of Guido. Permainan gitar akustik sangat menawan, terutama saat berduet dengan Satoru pada lagu Doodle dan Azami.

Pengamat musik senior Bens Leo sempat menyatakan kekagumannya kepada penampilan kelima pemuda Jepang ini. “Mereka sempat memainkan tiga komposisi selama 30 menit pada malam gala dinner, dan penampilan mereka sangat mengagumkan. Kelima musisi semuanya pendekar musik dan mampu berkomunikasi dengan penonton. Malam ini saya sangat antusias untuk menikmati hiburan mereka kembali,”ungkap Bens Leo. Terbukti kelima musisi sangat atraktif sepanjang 1,5 jam. Keragaman wawasan musik sempat dilontarkan saat wawancara. Terasa atmosfir jazz, klasik, rock, latin dan funk silih berganti memberi nyawa. Sungguh rugi mereka yang luput menjadi saksi kehebatan mereka di JakJazz 2007. Album Hands of Guido diyakini dapat diterima di masyarakat, terutama di negerinya sendiri. Diperkirakan sudah terjual 40.000 keping dan menjadi prestasi tersendiri di Jepang, yang saat ini wajah musik jazz tidak semegah beberapa dekade sebelumnya. Yoshito dan Satoru bercerita tentang tanggapan generasi muda dan respon pasar Jepang. Banyak musisi muda, sama halnya dengan mereka, yang berkelana menimba ilmu di luar negeri. Kelak mereka akan kembali ke Jepang ketika sudah berpengalaman. Satoru dan rombongan senang berbagi cerita dan pengalaman dalam bermusik, termasuk pengalaman dalam industri musik. Kehadirannya di Indonesia untuk pertama kalinya ini menjadi salah satu tonggak sejarah bagi Satoru Shionoya Group, dan malam itu penonton JakJazz 2007 menjadi saksinya.