JAKJAZZ 2007 part 1

Malam itu, Jum’at 23 Nov 2007, terus terang aja saya santai. Hadir di Istora Senayan tepat pada waktunya, ketika panitia masih berbenah. Atmosfir jazz mulai terasa pada JakJazz 2007 ini, walaupun suasana belum ‘panas’. Tampak Blues News sedang berbenah di Garden Stage. Terlihat wajah-wajah senior musisi blues Indonesia. Sebagian sudah akrab sebagai Gipsy Band yang dulu diperkuat Keenan Nasution dan alm. Chrisye. Saya langsung menuju media center untuk mengisi absen, mencari info terbaru, dan bersilaturahmi dengan sesama pers. Disini bertemu dengan Gideon dan seorang sahabat sejak masa SD, Yuri. Kami biasa bertemu pada acara-acara festival, karena tugas yang sama. Setelah mencatat beberapa agenda dan menikmati makanan ringan, saya mulai berkeliling melihat apa saja yang ada di JakJazz 2007. Sudah barang tentu yang pertama dikunjungi adalah counter merchandise, sambil berharap ada CD artis yang dijual. Nampaknya belum banyak barang disana. Sempat juga saya rapat singkat dengan teman-teman dari majalah SoundUp. Bagi-bagi tugas, dan rencana liputan kita. Blues News terus menghembuskan nafas blues kepada penonton, dan suasana semakin asyik. Beberapa panggung lain sudah memulai acara, dan saya tidak begitu tune-in. Setelah sholat dan luntang-lantung, saya menghabiskan waktu di media center saja. Kebetulan Satoru Shionoya menjadi artis pertama pengisi konferensi pers. Saya sangat menantikan kesempatan ini. Dua hari sebelumnya sempat ngobrol singkat dengannya, serta manajernya, ketika panitia JakJazz 2007 menyelenggarakan konferensi pers akbar. Ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan. Kebetulan pula merchandise booth akhirnya menyediakan beberapa CD artis, dan salah satunya adalah Hands of Guido dari Satoru. Harganya cukup murah (Rp 120rb), jika dibandingkan harga resmi yang tertera yaitu Yen 3,000. Akhirnya ada harapan saya mendapatkan tanda tangan kelima personil dalam sampul CD. Panitia JakJazz 2007 sangat berbaik hati menjamu rombongan wartawan dengan makan malam berupa yakiniku, teriyaki, dan aneka makanan cepat saji Jepang. Ketika Satoru Shionoya Group sudah siap di ruang pers, seorang wartawan bercanda,”Ajak aja Satoru kesini (ruang makan). Disini ada makanan Jepang.” Tentu saja seluruh ruangan meledak dengan tawa. Suasana konferensi pers berjalan dengan sangat santai. Pers dengan mudah dapat menyampaikan pertanyaan, dan para personil menjawabnya dengan senang hati. Bahkan sebagian diantaranya dengan panjang lebar. Para wartawan menyampaikan beberapa pertanyaan yang tak saya duga, alias tidak standar. Bagi mereka yang sering menghadiri konferensi pers musik artis asing, pasti tak asing dengan pertanyaan seperti,”Bagaimana perasaan anda dengan suasana Indonesia? Apakah anda akan memasukan unsur musik Indonesia dalam musik anda? Apakah anda akan berkolaborasi dengan musisi Indonesia?” Dst dst. Pertanyaan seperti itu masih ada, tapi masih banyak lagi pertanyaan yang membuat saya kagum. Contohnya,”Bagaimana sikap generasi muda Jepang dalam menikmati jazz hari ini? Bagaimana keragaman latar belakang para personil bisa memperkaya komposisi album?” Dll dll. Tapi saya sempat menyampaikan pertanyaan pamungkas pada sesi itu:”Apakah ada perkiraan total penjualan album Hands of Guido?” Mungkin Satoru dkk tak menyangka ada pertanyaan ini. Mereka masih mengenali saya, terutama karena saya mengambil kursi di muka. Saya penasaran, bukan hendak menguji, ingin tahu seberapa besar respon penikmat jazz di Jepang. Setidaknya ada gambaran dimana posisi penjualan album-album jazz Indonesia di negerinya sendiri. Sang manajer sempat gelagapan juga sangat ditanya perihal tersebut. Diakui bahwa ini pertanyaan sulit, tapi data terakhir mengatakan sekitar 30-40ribu keping sudah terjual. Konferensi pers pun berakhir dengan pengambilan foto. Satoru pun sempat membacakan pidato singkat berbahasa Indonesia kepada pers. Sebelum bubar, saya meminta tanda tangan mereka pada sampul album Hands of Guido. Yoshito Tanaka (gitar) mengatakan sambil tersenyum,”Sangat tampak dari pertanyaanmu bahwa anda mengerti dunia musik, tidak sekedar wartawan musik.” Senang mendengar pujian ini dan ia dengan sangat senang menandatangani CD saya. Akhirnya gue punya tandatangan kelima personil dalam CD!!!! Kembali kami menikmati makan malam di media center dan berbincang-bincang dengan sesama wartawan. Sesekali saya mengakses internet yang disediakan. Luar biasa cepat koneksinya. Sangat berbeda dengan koneksi di rumah. Saya pun berkeliling lagi dan berjumpa seorang kawan lama dari tempat terakhir saya bekerja. Bertukar info tentang kondisi kantor lama membuat saya prihatin. Kondisinya semakin memburuk, bahkan jauh dari perkiraan ketika saya memutuskan untuk pergi. Saya berpesan pada sahabat itu untuk kuat dalam menghadapi cobaan. Semakin malam suasana semakin meriah. Penonton semakin memenuhi kompleks Istora Senayan. Disini saya melihat perbedaan antara JakJazz dengan Java Jazz, sebuah perhelatan festival jazz yang juga namanya sudah mendunia. Saya melihat dari dua sisi: sebagai penonton dan sebagai wartawan. Di JakJazz terlihat para penontonnya datang untuk menikmati musik jazz. Namun dalam Java Jazz, terlihat masyarakat menghadirinya untuk menikmati atmosfir sebuah ‘happening’ tersebar di Jakarta. Perbedaan mencolok juga terasa pada panitianya. Dalam Java Jazz para panitia bersikap lebih superstar daripada para artisnya. Berbeda dengan panitia JakJazz yang lebih bersahabat dan kooperatif dengan siapapun, mulai dari penonton walaupun media. Perbedaan lain adalah, dan ini yang paling penting, di JakJazz nyaris semua pertunjukan tidak ada yg mulai terlambat. Sedangkan di Java Jazz nyaris semuanya terlambat. Penyelenggaraan JakJazz kali ini juga makin rapi dibanding tahun lalu. Panggung hanya 7 buah dan tersebar secara cermat. Artinya lokasinya representatif, dan sesuai dengan musik/ artis yang tampil. Jika sekiranya musik yg tampil membutuhkan kenyamanan suasana, maka panggung yang dipilih adalah ruangan yang lebih intim. Jika musiknya menghentak, maka dipilihlah panggung outdoor dengan kapasitas penonton yang cukup. Jika musiknya lebih nikmat sambil menikmati makan dan minum, dipilihlah lokasi yang diteduhi pepohonan dengan meja bulat dan kursi-kursi nyaman. Saya bertemu dengan wartawan musik senior Bens Leo dan kami pun bercakap-cakap. Ketika saya bercerita rencana menonton Satoru Shionoya Group, ia bercerita tentang penampilan mereka pada gala dinner sehari sebelumnya. Grup Jepang ini memukau hadirin dengan 3 buah lagu selama 30 menit. Ia sangat merekomendasikan band ini untuk ditonton, karena kelima personilnya juga atraktif. Saya menemani Bens Leo keliling kompleks sambil berhandai taulan dengan para kenalannya. Mendekati jam 9 malam, kamipun memasuki arena dan penonton sudah mulai memenuhinya. Tak lama Satoru Shionoya Group tampil dan apa yang dijanjikannya saat konferensi pers terbukti. Mereka benar-benar ‘meledak’. Saya bangga bisa menjadi salah satu saksi malam itu. Mereka seakan menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah band jazz rock tampil di panggung. Laporan pandangan mata saya tulis untuk majalah SoundUp. Segera setelah edisinya terbit, salinannya akan saya tampilkan disini. Usai Satoru Shionoya Group saya kembali berkeliling, termasuk ke media center. Berjumpa dengan beberapa rekan lagi dan tertawa lagi. Tak terasa waktu sudah mendekati penampilan special show, Bugz In The Attic. Tidak banyak yang saya ketahui tentang band asal UK ini, selain apa yang kerap ditulis media. Saya hanya bisa menduga bahwa mereka mengusung dance-jazz. Keasingan publik Jakarta dengan mereka terbukti dengan kurangnya penonton di acara spesial itu. Keasingan itu ditambah dengan ketidaktahuan dengan repertoire Bugs In The Attic, sehingga penonton tampak kalem. Sangat berbeda dengan Satoru dkk yang baru saja tampil di tempat yang sama. Saya sendiri sangat menikmati musik Bugz. Mungkin karena saya juga penggemar musik disko. Lama-lama jenuh dengan suasananya, saya pun berencana untuk pulang. Tidak jauh dari pintu keluar, di halaman, Syaharani & The Queenfireworks sedang tampil. Wah, penontonnya banyak sekali! Musiknya pun asyik, dan Syaharani sangat enerjik. Terlihat sahabat saya, Ella sedang duduk menikmati dan mengajak saya mendampinginya. Kamipun bersama menikmati Syaharani & The Queenfireworks. Setelah sekitar 4 lagu, saya pun pamit. Dalam perjalanan kembali bertemu dengan Yuri dan Gideon. Ketika itu tanpa disangka, Satoru Shionoya berjalan menuju kendaraan. Spontan saja saya memintanya untuk berfoto sebentar dengan saya. Betapa senangnya! Tak lama saya pun pamit kepada teman-teman dan berjalan menuju Lagoon Tower, dimana kendaraan saya diparkir. Hari Sabtu saya akan absen, karena akan menghadiri reuni akbar SMA Kolese Kanisius yang merayakan hari jadinya yang ke-80.

One Response to “JAKJAZZ 2007 part 1”

  1. boy Says:

    Di sini ada cerita
    Tentang cinta
    Tentang air mata
    Tentang tetesan darah

    Disini ada cerita
    Tentang kesetiaan
    Juga pengkhianatan

    Disini ada cerita
    Tentang mimpi yang indah
    Tentang negeri penuh bunga
    Cinta dan gelak tawa

    Disini ada cerita
    Tentang sebuah negeri tanpa senjata
    Tanpa tentara
    Tanpa penjara
    Tanpa darah dan air mata

    Disini ada cerita tentang kami yang tersisa
    Yang bertahan walau terluka
    Yang tak lari walau sendiri
    Yang terus melawan ditengah ketakutan!

    Kami ada disini
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

    (Give your comment to change our future)

Leave a Reply