Archive for November, 2007

JAKJAZZ 2007 part 2

Monday, November 26th, 2007

Minggu, 25 Nov 2007, adalah hari terakhir JakJazz 2007. Masih lelah karena reuni SMA malam sebelumnya. Malam itu saya tiba di rumah mendekati adzan subuh! Rasanya ingin kembali memeluk bantal…..

Seperti biasa suasana Istora Senayan mulai meriah di sore hari itu. Panggung Garden Stage sudah menampilkan artisnya, dan penonton memenuhi halaman teduh. Saya menyambangi merchandise booth dan menemukan satu lagi CD Satoru Shionoya yang terbaru, Eartheory. Langsung saja saya beli, dan setelah itu menyadari tidak banyak uang tersisa di dompet. Saya harus menghemat malam ini. Jika tidak, saya tidak punya uang untuk pulang ke Bogor.

Seperti biasa pula, saya mampir ke media center dan kali ini kembali bertemu Gideon dan Yuri. Saya dan Gideon sangat bergembira mendapati kami masing-masing mengenakan tshirt Genesis. Kehadiran di JakJazz semata-mata karena tugas, tapi hati kami tetap saja rock=). Melihat barisan internet sedang kosong, saya pun mengaksesnya dan mengunduh lagu I Need Your Love dari Lonnie Liston Smith yang dikirim Yanti. Mengunduhnya di rumah selalu terbentur koneksi yang lambat. Sementara di media center ini, saya menyelesaikan file sebesar 5 MG dalam waktu 3 menit saja!

Di panggung utama Monday Michiru sedang beraksi, setelah dua kali menyaksikannya pada JakJazz 2006, rasanya kali ini saya absen dulu. Kul Kul, band jazz etnik Bali, sudah menunjukan kehebatannya di Big Stage. Saya menikmatinya sambil makan kebab. Senang menyaksikan Kul Kul tampil dengan 3 orang pemusik tradisional Bali. Nanti disini Tompi akan tampil, sementara Bali Lounge akan tampil di panggung sisi lain Istora Senayan. Bazzattack tampil di Garden Stage.

Melewati deretan booth media, saya berjumpa dengan Arsal, music director radio Trijaya. Kami melanjutkan pembicaraan beberapa minggu lalu tentang rencana produksi acara jazzytunes di radio Trijaya FM. Tak lama Beben bergabung ngobrol. Kebetulan ia juga akan diwawancara secara live oleh Trijaya FM. Berpapasan juga dengan Addo, teman semasa SMA dulu. Kami bertukar cerita tentang reuni SMA malam sebelumnya. Tak jauh dari tempat saya duduk, terdapat booth penjual aneka merchandise. Saya tertuju pada dua buah map plastik bergambar Tintin & Snowy di Bulan. Harganya Rp 45.000,-. Duh tidak jadi saya membelinya. Selain harganya, rasanya tidak terlalu penting mengkoleksi map plastik ini. Milik saya bergambar roket saja belum pernah digunakan.

Duduk berbalas sms dengan teman sungguh menyenangkan. Malam itu saya ber-sms ria dengan Liza, sahabat dekat yang tinggal di KL. Ia sangat iri tidak bisa hadir di JakJazz. Lalu ia mengajak untuk ngobrol lebih gampang di internet. Saya segera menuju media center. Namun tertahan karena bertemu seorang sahabat dekat lain yang juga kerabat dan sama-sama pernah bekerja di perusahaan yang sama, Hussein Sutadisastra. Kami ngobrol banyak, terutama seputar keluarga. Ketika Monday Michiru lewat, Hussein meminta tolong saya untuk memotretnya bersama Michiru.

Kebetulan ada PC nganggur, dan saya segera koneksi internet. Berbincang beberapa lama dengan Liza tentang banyak hal. Mulai dari seputar JakJazz, sampai hal lainnya. Chatting terpaksa dihentikan karena panitia JakJazz akan segera konferensi pers. Tak mungkin saya tidak hadir dan berchatting-ria. Lha wong ruang konferensi pers bersebelahan dengan meja saya.

Panitia (Tommy & Esther Maulana, anak2 Ireng Maulana) dan perwakilan Sampoerna, menyampaikan sambutannya. Mereka sangat berterima kasih dengan partisipasi media dan menyampaikan peningkatan mutu dan jumlah penonton dibanding tahun lalu. Usai acara ini, kami para wartawan tetap berjaga karena konferensi pers Kool & The Gang akan segera dimulai.

Hadir dengan 7-8 personil, Robert, Khallis dan George dengan senang menjawab setiap pertanyaan. Saya sempat menyodorkan sampul CD Salute To The Ladies (1995) yang sayangnya gagal di pasaran. Padahal ini adalah salah satu album terbaik mereka, IMHO, terutama disini JT Taylor reuni sebentar. Ketika saya memintakan tanda tangan, mereka sempat tersenyum dan mengatakan ini adalah album yang bagus. Mereka berterima kasih saya sudah memilikinya. Saya juga mengatakan bahwa ini adalah album favorit saya. Sayang saya tak sempat berfoto bersama dengan Kool & The Gang.

Usai konferensi pers, kembali saya berkeliling kompleks Istora. Saya bertemu dengan Andrew and Ade, pasangan yang sebenarnya teman saya di dunia komik dan film. Kebetulan juga Andrew adalah adik kelas semasa SMA. Jadi kami juga membicarakan suasana reuni SMA malam sebelumnya. Ketika waktu mendekati Kool & The Gang, saya pun menuju ke panggung utama.

Sempat tertahan memasuki ruangan, saya berhasil menyelinap diantara ribuan penonton dan mendapatkan posisi dekat panggung. Fresh menjadi lagu pembuka dan semua penonton langsung bergoyang. Take My Heart melanjutkan malam, namun sayang sempat ada gangguan suara. Suara Kool & The Gang hilang dari pendengaran! Cuma drum saja yang terdengar. Beruntung sekitar 2 menit, suasana kembali normal dan kami pun terus bergoyang. Kool & The Gang masih melanjutkan dengan Joanna, dua lagu dari album terbaru, Cherish, Hollywood Swinging, Jungle Boogie, Summer Madness, Open Sesame, hingga akhirnya tiba pada Let’s Go Dancing, Get Down On It, dan tentu saja lagu yang paling saya tunggu: Ladies Night! Buat info aja, album Ladies Night adalah kaset pertama yang saya beli, ketika itu tahun 1980. Kenangan lagu ini nyaris sepajang hidup saya.

Tidaklah berlebihan mengatakan malam itu menjadi milik Kool & The Gang. Sepanjang malam penonton tak henti-hentinya bergoyang, bernyanyi, melambaikan tangan dan melompat. Tidak hanya mereka yang berdiri di depan panggung. Tapi juga mereka yang duduk di tribun. Tak jauh dari tempat saya berdiri, nampak seorang wanita kulit hitam, ramping, dan sangat cantik. Wah tadinya saya kira hanya Halle Berry yang cantik. Ternyata masih ada yang lainnya.

Tak terasa malam sedemikian larut hingga Kool & The Gang menutupnya dengan Celebration. Ingin rasanya mereka bernyanyi terus. Para personil Kool & The Gang menyalami mereka semua di depan panggung dan melayani setiap permintaan tanda tangan. Ini berlangsung hingga 15 menit! Malam itu benar-benar menjadi malam yang indah dan pantas dikenang. Saat itu saya merindukan seseorang yang seharusnya bisa berbagi keceriaan bersama Kool & The Gang dan saya disini…..

JAKJAZZ 2007 part 1

Monday, November 26th, 2007

Malam itu, Jum’at 23 Nov 2007, terus terang aja saya santai. Hadir di Istora Senayan tepat pada waktunya, ketika panitia masih berbenah. Atmosfir jazz mulai terasa pada JakJazz 2007 ini, walaupun suasana belum ‘panas’. Tampak Blues News sedang berbenah di Garden Stage. Terlihat wajah-wajah senior musisi blues Indonesia. Sebagian sudah akrab sebagai Gipsy Band yang dulu diperkuat Keenan Nasution dan alm. Chrisye. Saya langsung menuju media center untuk mengisi absen, mencari info terbaru, dan bersilaturahmi dengan sesama pers. Disini bertemu dengan Gideon dan seorang sahabat sejak masa SD, Yuri. Kami biasa bertemu pada acara-acara festival, karena tugas yang sama. Setelah mencatat beberapa agenda dan menikmati makanan ringan, saya mulai berkeliling melihat apa saja yang ada di JakJazz 2007. Sudah barang tentu yang pertama dikunjungi adalah counter merchandise, sambil berharap ada CD artis yang dijual. Nampaknya belum banyak barang disana. Sempat juga saya rapat singkat dengan teman-teman dari majalah SoundUp. Bagi-bagi tugas, dan rencana liputan kita. Blues News terus menghembuskan nafas blues kepada penonton, dan suasana semakin asyik. Beberapa panggung lain sudah memulai acara, dan saya tidak begitu tune-in. Setelah sholat dan luntang-lantung, saya menghabiskan waktu di media center saja. Kebetulan Satoru Shionoya menjadi artis pertama pengisi konferensi pers. Saya sangat menantikan kesempatan ini. Dua hari sebelumnya sempat ngobrol singkat dengannya, serta manajernya, ketika panitia JakJazz 2007 menyelenggarakan konferensi pers akbar. Ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan. Kebetulan pula merchandise booth akhirnya menyediakan beberapa CD artis, dan salah satunya adalah Hands of Guido dari Satoru. Harganya cukup murah (Rp 120rb), jika dibandingkan harga resmi yang tertera yaitu Yen 3,000. Akhirnya ada harapan saya mendapatkan tanda tangan kelima personil dalam sampul CD. Panitia JakJazz 2007 sangat berbaik hati menjamu rombongan wartawan dengan makan malam berupa yakiniku, teriyaki, dan aneka makanan cepat saji Jepang. Ketika Satoru Shionoya Group sudah siap di ruang pers, seorang wartawan bercanda,”Ajak aja Satoru kesini (ruang makan). Disini ada makanan Jepang.” Tentu saja seluruh ruangan meledak dengan tawa. Suasana konferensi pers berjalan dengan sangat santai. Pers dengan mudah dapat menyampaikan pertanyaan, dan para personil menjawabnya dengan senang hati. Bahkan sebagian diantaranya dengan panjang lebar. Para wartawan menyampaikan beberapa pertanyaan yang tak saya duga, alias tidak standar. Bagi mereka yang sering menghadiri konferensi pers musik artis asing, pasti tak asing dengan pertanyaan seperti,”Bagaimana perasaan anda dengan suasana Indonesia? Apakah anda akan memasukan unsur musik Indonesia dalam musik anda? Apakah anda akan berkolaborasi dengan musisi Indonesia?” Dst dst. Pertanyaan seperti itu masih ada, tapi masih banyak lagi pertanyaan yang membuat saya kagum. Contohnya,”Bagaimana sikap generasi muda Jepang dalam menikmati jazz hari ini? Bagaimana keragaman latar belakang para personil bisa memperkaya komposisi album?” Dll dll. Tapi saya sempat menyampaikan pertanyaan pamungkas pada sesi itu:”Apakah ada perkiraan total penjualan album Hands of Guido?” Mungkin Satoru dkk tak menyangka ada pertanyaan ini. Mereka masih mengenali saya, terutama karena saya mengambil kursi di muka. Saya penasaran, bukan hendak menguji, ingin tahu seberapa besar respon penikmat jazz di Jepang. Setidaknya ada gambaran dimana posisi penjualan album-album jazz Indonesia di negerinya sendiri. Sang manajer sempat gelagapan juga sangat ditanya perihal tersebut. Diakui bahwa ini pertanyaan sulit, tapi data terakhir mengatakan sekitar 30-40ribu keping sudah terjual. Konferensi pers pun berakhir dengan pengambilan foto. Satoru pun sempat membacakan pidato singkat berbahasa Indonesia kepada pers. Sebelum bubar, saya meminta tanda tangan mereka pada sampul album Hands of Guido. Yoshito Tanaka (gitar) mengatakan sambil tersenyum,”Sangat tampak dari pertanyaanmu bahwa anda mengerti dunia musik, tidak sekedar wartawan musik.” Senang mendengar pujian ini dan ia dengan sangat senang menandatangani CD saya. Akhirnya gue punya tandatangan kelima personil dalam CD!!!! Kembali kami menikmati makan malam di media center dan berbincang-bincang dengan sesama wartawan. Sesekali saya mengakses internet yang disediakan. Luar biasa cepat koneksinya. Sangat berbeda dengan koneksi di rumah. Saya pun berkeliling lagi dan berjumpa seorang kawan lama dari tempat terakhir saya bekerja. Bertukar info tentang kondisi kantor lama membuat saya prihatin. Kondisinya semakin memburuk, bahkan jauh dari perkiraan ketika saya memutuskan untuk pergi. Saya berpesan pada sahabat itu untuk kuat dalam menghadapi cobaan. Semakin malam suasana semakin meriah. Penonton semakin memenuhi kompleks Istora Senayan. Disini saya melihat perbedaan antara JakJazz dengan Java Jazz, sebuah perhelatan festival jazz yang juga namanya sudah mendunia. Saya melihat dari dua sisi: sebagai penonton dan sebagai wartawan. Di JakJazz terlihat para penontonnya datang untuk menikmati musik jazz. Namun dalam Java Jazz, terlihat masyarakat menghadirinya untuk menikmati atmosfir sebuah ‘happening’ tersebar di Jakarta. Perbedaan mencolok juga terasa pada panitianya. Dalam Java Jazz para panitia bersikap lebih superstar daripada para artisnya. Berbeda dengan panitia JakJazz yang lebih bersahabat dan kooperatif dengan siapapun, mulai dari penonton walaupun media. Perbedaan lain adalah, dan ini yang paling penting, di JakJazz nyaris semua pertunjukan tidak ada yg mulai terlambat. Sedangkan di Java Jazz nyaris semuanya terlambat. Penyelenggaraan JakJazz kali ini juga makin rapi dibanding tahun lalu. Panggung hanya 7 buah dan tersebar secara cermat. Artinya lokasinya representatif, dan sesuai dengan musik/ artis yang tampil. Jika sekiranya musik yg tampil membutuhkan kenyamanan suasana, maka panggung yang dipilih adalah ruangan yang lebih intim. Jika musiknya menghentak, maka dipilihlah panggung outdoor dengan kapasitas penonton yang cukup. Jika musiknya lebih nikmat sambil menikmati makan dan minum, dipilihlah lokasi yang diteduhi pepohonan dengan meja bulat dan kursi-kursi nyaman. Saya bertemu dengan wartawan musik senior Bens Leo dan kami pun bercakap-cakap. Ketika saya bercerita rencana menonton Satoru Shionoya Group, ia bercerita tentang penampilan mereka pada gala dinner sehari sebelumnya. Grup Jepang ini memukau hadirin dengan 3 buah lagu selama 30 menit. Ia sangat merekomendasikan band ini untuk ditonton, karena kelima personilnya juga atraktif. Saya menemani Bens Leo keliling kompleks sambil berhandai taulan dengan para kenalannya. Mendekati jam 9 malam, kamipun memasuki arena dan penonton sudah mulai memenuhinya. Tak lama Satoru Shionoya Group tampil dan apa yang dijanjikannya saat konferensi pers terbukti. Mereka benar-benar ‘meledak’. Saya bangga bisa menjadi salah satu saksi malam itu. Mereka seakan menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah band jazz rock tampil di panggung. Laporan pandangan mata saya tulis untuk majalah SoundUp. Segera setelah edisinya terbit, salinannya akan saya tampilkan disini. Usai Satoru Shionoya Group saya kembali berkeliling, termasuk ke media center. Berjumpa dengan beberapa rekan lagi dan tertawa lagi. Tak terasa waktu sudah mendekati penampilan special show, Bugz In The Attic. Tidak banyak yang saya ketahui tentang band asal UK ini, selain apa yang kerap ditulis media. Saya hanya bisa menduga bahwa mereka mengusung dance-jazz. Keasingan publik Jakarta dengan mereka terbukti dengan kurangnya penonton di acara spesial itu. Keasingan itu ditambah dengan ketidaktahuan dengan repertoire Bugs In The Attic, sehingga penonton tampak kalem. Sangat berbeda dengan Satoru dkk yang baru saja tampil di tempat yang sama. Saya sendiri sangat menikmati musik Bugz. Mungkin karena saya juga penggemar musik disko. Lama-lama jenuh dengan suasananya, saya pun berencana untuk pulang. Tidak jauh dari pintu keluar, di halaman, Syaharani & The Queenfireworks sedang tampil. Wah, penontonnya banyak sekali! Musiknya pun asyik, dan Syaharani sangat enerjik. Terlihat sahabat saya, Ella sedang duduk menikmati dan mengajak saya mendampinginya. Kamipun bersama menikmati Syaharani & The Queenfireworks. Setelah sekitar 4 lagu, saya pun pamit. Dalam perjalanan kembali bertemu dengan Yuri dan Gideon. Ketika itu tanpa disangka, Satoru Shionoya berjalan menuju kendaraan. Spontan saja saya memintanya untuk berfoto sebentar dengan saya. Betapa senangnya! Tak lama saya pun pamit kepada teman-teman dan berjalan menuju Lagoon Tower, dimana kendaraan saya diparkir. Hari Sabtu saya akan absen, karena akan menghadiri reuni akbar SMA Kolese Kanisius yang merayakan hari jadinya yang ke-80.

TINTIN & CO

Monday, November 19th, 2007

TINTIN & CO.

Oleh: Michael Farr

Egmont/

Moulinsart

,

UK

, 2007

ISBN 978-1-4052-3264-7

 

Ditulis oleh Michael Farr dalam rangka menyambut 100 tahun
lahirnya Herge, pengarang dan pencipta Tintin. Bagi mereka yang sudah membaca
bukunya yang lain, Tintin: The Complete Companion, sebaiknya memiliki atau
membaca buku ini. Jika dalam Tintin: The Complete Companion berfokus pada kisah
dibalik setiap pembuatan komik Tintin, diselingi biografi Herge, maka dalam
Tintin & Co. Farr berkonsentrasi pada beberapa tokoh utamanya.

 

Sepanjang 129
halaman Farr memperkenalkan satu per satu tokoh rekaan Herge. Semakin dibaca,
semakin kita menyadari banyak hal baru yang didapat dari buku ini. Walau Tintin
selalu ditemani anjing setianya Snowy, pada kenyataannya Herge tidak pernah
memelihara anjing dalam kehidupannya. Ia lebih sebagai penggemar kucing. Snowy
adalah anjing yang tidak kenal takut pada binatang lain, kecuali laba-laba
(Rahasia Pulau Hitam). Kapten Haddock yang terkenal itupun terlahir dengan
sedikit bantuan sahabat Herge, Edgar Jacobs (kelak akan berkarir dengan serial
Blake & Mortimer). Perubahan karakter Haddock juga sudah direncanakan,
seperti yang sempat kita lihat dalam sketsa judul komik terakhir yang tak
sempat diselesaikan, Tintin & Alph-Art. Herge wafat sebelum sempat
menyelesaikannya.

 

Calculus,
profesor eksentrik dengan gangguan pendengarannya, merupakan penyempurnaan
berbagai karakter ilmuwan dalam berbagai petualangan Tintin sebelum
kehadirannya di Harta Karun Rackham Merah.
Bianca Castafiore, sang biduanita dari Milan,
sangat terinspirasi penyanyi opera terkenal pada masanya, Maria Callas. Begitu
pula dengan smash-hit nya The Jewel Song, yang memang menjadi lagu primadonna
bagi kebanyakan biduan masa itu.

 

Terkadang kita
sering melupakan Jolyon Wagg, sang penjual asuransi yang kerapkali menyebalkan
dan sangat persuasif. Disini kita bisa mengetahui betapa Herge sangat sebal
dengan para agen asuransi dan mendedikasikan Wagg kepada mereka. Masih ada lagi
Muller, Alcazar, dan tak ketinggalan, Rastapopoulos, yang kelak akan kembali
lagi pada Alph-Art sebagai penentu hidup-matinya Tintin di panel terakhir yang
tak terselesaikan.

 

Buku ini juga
dipenuhi dengan berbagai panel yang diambil dari komik, sketsa, dan foto-foto
referensi yang pernah digunakan Herge. Pendek kata, buku ini wajib punya bagi para
pecinta Tintin.

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS

Monday, November 19th, 2007

Adapted from Agatha Christie’s novel by Francois Riviere

Illustrated by Solidor

Harpercollins

,

UK

, 2007

ISBN 978-0-00-724658-8

 

Novel grafis ini
adalah buku pertama dari serangkaian adaptasi dari novel Agatha Christie. Sering
diakui khalayak sebagai salah satu cerita misteri pembunuhan terbaik sepanjang
masa. Juga pernah meraih penghargaan Academy Awards pada versi adaptasi layar
lebarnya. Tentunya semua pembaca menantikan apakah novel grafis ini sebagus
versi novelnya.

 

Sayangnya saya
tidak akan, atau tepatnya tidak bisa, menjawab hal itu. Kenapa? Karena saya
belum membaca novelnya. Tepatnya, saya belum pernah membaca satupun novel
Christie, kecuali menonton film-filmnya. Jadi saya membaca novel grafis ini
tanpa beban untuk membanding-bandingkannya dengan versi novel.

 

Secara umum bisa
saya katakan bahwa naskah adaptasinya sangat bagus. Mengadaptasi novel yang
tebal itu tentunya tidak mudah. Apalagi harus memindahkannya kedalam jumlah
halaman yang hanya berjumlah 44 halaman. Bagaimana Riviere menempatkan mana
monolog dan dialog dalam sekian banyak teks balon patut diacungi jempol. Tentu
saja yang paling penting adalah bagaimana Riviere membangun suasana mencekam
dan pengusutan sang jagoan Mercule Poirot dalam memecahkan misteri pembunuhan
di kereta api yang sedang terjebak salju.

 

Bagaimana dengan
ilustrasinya? Solidor menggarap buku ini dengan penuh kecermatan. Ini sudah
dapat dilihat saat membuka halaman pertama. Ukuran panel bervariasi, kaya
warna, sangat rinci, dan yang paling penting pemilihan angle sangatlah tepat. Rasanya
tidak bisa lagi pembaca mengharapkan kesempurnaan yang lebih dari ini.

 

Awalnya saya
hanya iseng beli novel grafis ini, tanpa mengharapkan akan berlanjut. Tapi
nampaknya saya harus mulai menyisihkan anggaran untuk mengkoleksi judul-judul
lainnya.
Sempat saya lihat The Murder On The Links tidak dilukis oleh
Solidor. Namun saya sangat menyukai apa yang saya tatap. Mudah-mudahan tidak
dalam waktu lama saya akan segera melalapnya.