SEDIH
Gue menghabiskan 12 tahun di suatu tempat. Mengejar ilmu, mengejar karir, mengejar impian, mengejar uang, mengejar popularitas….. ingin membuktikan bahwa gue bisa berguna bagi rumah dan keluarga tempat gue bernaung selama 12 tahun. Sampai pada waktunya gue menyerah. Tak ada lagi yang bisa gue lakukan untuk rumah yang sudah membesarkan selama ini. Semua yang gue lakukan berangkat dari impian untuk menjadikan rumah itu lebih baik. Namun rupanya kepala keluarga dan hampir semua anggota keluarganya lebih merasa nyaman dengan keadaan sekarang ini. Jadi buat apa lagi gue berlama-lama disini? Mending gue menjelajah petualangan baru.
Jauh ketika itu gue mengajak semua orang untuk bergandengan tangan. "Yuk, kita bareng menuju masa depan yang lebih baik. Jika loe ngga pe-de, loe bareng ama gue. Kita bareng. Bersama kita bisa." Tapi uluran tangan tinggallah uluran tangan.
Jadi gue memilih untuk pergi.
Seorang sahabat terbaik berkata,"Dahulu kala seorang laksamana membakar seluruh kapalnya agar para prajurit tidak punya pilihan lain: maju dan menang, atau mati." Lalu ku jawab,"Gue tidak perlu membakar kapal. Loe ngga lihat kapal kita sekarang sedang kebakaran?"
Empat bulan kemudian, nyaris tiap hari gue mendengar tangisan, ratapan, keluhan, makian, cemoohan dan segudang lainnya yang ditujukan kepada rumah itu, yang semuanya disampaikan oleh mereka yang jadi saudara gue selama 12 tahun. Apa yang mereka harapkan dari gue? Mencari solusi? Dulu sudah pernah gue tawarkan. Gue ajak bareng. Bersama kita bisa. Tapi semua itu kandas. Gue ngga bisa melakukannya sendiri. Gue nyerah. Gue dikecewakan. Kini tangisan yang sama masih terdengar. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Nggada. We chose different ways. Setidaknya gue memilih jalan berbeda.
Divisi yang dulu kala susah payah gue bangun, kini perlahan tenggelam. Tak lagi bertaring. Fondasi yang gue tanam, kini mulai dilupakan. Perbaikan yang dulu dirintis, tak ada lagi yang meneruskan. Revolusi yang dulu dibakar, kini meredup tinggal bara. Siapa yang sanggup menyalakannya lagi? Tidak ada.
Sedih? Ya tentu saja. Dulu semua itu dibangun dengan dasar itikad baik dan untuk kepentingan bersama. Tapi kini mereka yang tersisa tak mampu menjalankan amanat. Pupuslah sudah semua anyaman hari esok yang lebih cerah.
Setiap ada yang datang, gue hanya berkata,"Jika memang ingin tetap tinggal, terimalah semua itu dengan ikhlas. Tapi jika sudah tidak suka lagi, pergilah mencari masa depan." Gue memilih pergi karena tidak ingin menjadi zombie. Gue tidak ingin ikut tenggelam bersama kapal ini. Gue mencintai kapal ini. Tapi tidak sebegitu besar cinta gue kepada kapal ini, sehingga ikhlas tenggelam bersamanya. Gue memilih untuk terjun ke laut. Berserah kepada YME semoga gue selamat diseberang sana. Kepada mereka yang masih bertahan di kapal, kalian bebas memilih.
Jika ditanya apakah gue bahagia sekarang? Jawabannya ya. Apakah sekarang gue sukses? Jawabannya relatif, karena ukuran kesuksesan tiap orang berbeda. Apakah gue menyesal (telah pergi)? Jawabannya ya, karena seharusnya gue telah memutuskannya 3-5 tahun yang lalu. Bagaimana tidak? Semua data ada di meja. Gue membaca semua data itu. I should’ve decided decades ago.
My dear friends, there is always an option in life.
April 5th, 2008 at 7:01 am
Very inspiring story, Mas Suryo….