KATA PENGANTAR KATALOG KOMIK INDONESIA SATU DEKADE 1997-2007

9-18 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta

Hidup seseorang mengalami banyak perubahan dari hari ke hari. Apalagi jika dihitung mencapai rentang 10 tahun. Seseorang tumbuh, berkembang, terpuruk, terkapar, bangkit, sukses, gagal, dan seterusnya. Itulah siklus hidup. Kehidupan yang sama juga dialami dengan denyut nadi komik nasional. Berbagai peristiwa membuat pecinta komik nasional berdebar penuh cemas dan tersenyum penuh harap. Lukisan jatuh-bangun komik nasional dalam 10 tahun terakhir itu dicoba untuk dirangkum dan direpresentasikan dalam parade karya. Dari sekian ratus karya komik yang terbit dalam kurun waktu satu dekade ini, terpilihlah beberapa komik yang dianggap mewakili kiprah komik nasional dalam pentas seni dalam negeri.

Dalam 10 tahun terakhir banyak sudah suka-duka yang dialami. Kita kehilangan para maestro komik seperti Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Taguan Hardjo, Zaldy, Sim dan Wid NS. Coretan prestasi mereka akan selalu hidup dalam kenangan kita. Terdengar ironis ketika hari ini kita semua menyadari bahwa catatan panjang kreativitas mereka tak terdokumentasi dengan baik. Sulit untuk melacak seluruh buah tangan mereka. Mungkinkah ini potret dari sebagian problema negeri kita yang dikenal tak rajin mendokumentasikan sejarah?

Pentas komik nasional juga menyaksikan tumbuhnya gerakan komik independen (indie). Sampai dengan akhir dekade 80an, Indonesia nyaris tidak mengenal gerakan komik indie. Namun sejak pertengahan dekade 90an, fenomena ‘self create-produce-distribute-promote’ tsb berlanjut hingga hari ini. Apa yang diciptakan komik indie ini menoreh sejarah tersendiri bagi perkembangan komik nasional. Beberapa judul komik indie karya Eko Nugroho, Ahmad Zeni, Wisnoe Lee, dan beberapa lainnya ikut dipilih merepresentasikan wajah komik Indonesia satu dekade.

Industri percetakan komik juga mengalami pasang-surut. Tiba-tiba kita mendapati hilangnya nyaris seluruh komik nasional dari peredaran di akhir dekade 80an. Pertengahan 90an dapat dikatakan nihil, kecuali beberapa judul komik wayang yang senantiasa tersedia. Komik strip yang rutin menghiasi koran dan majalah masih akrab membaca pembaca. Bahkan komik-komik surga dan neraka tak pernah absen menyapa mereka yang usai menunaikan ibadah sholat Jum’at di pelataran mesjid.

Awal dekade 2000 secara perlahan beberapa judul mulai tersedia kembali seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Gundala Putera Petir, Godam, Labah-labah Merah, serta tentunya serial Mahabharata dan Ramayana-nya RA Kosasih. Sebagian mengalami perubahan format dan teks. Prestasi penjualan komik-komik cetak ulang ini tidaklah sehebat masa keemasan mereka. Pembelinya semakin segmented, dan ini makin sulit mengingat biaya produksi yang tidaklah murah. Sulitnya melacak gambar master membuat kualitas komik cetak ulang kurang prima. Ini disebabkan karena komik cetakan dengan kertas dan tinta yang tidak bagus, yang dijadikan sumber utama komik cetak ulang. Kendala lain masih berkisar simpang siurnya pemilik hak cipta judul komik, mengingat pada masa lalu tidak banyak transaksi antara komikus dan penerbit terdokumentasi dengan tertib.

Beberapa komik juga digambar ulang agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Contohnya Panji Tengkorak dan Walet Merah, yang digambar ulang oleh pencipta aslinya Hans Jaladara. Beberapa tokoh komik juga di-reborn-kan seperti Gina (oleh penciptanya Gerdi WK) dan Godam (oleh Sungging putra alm. Wid NS). Beberapa talenta muda juga mulai eksis dipercaturan komik Indonesia. Sebagian dari mereka dapat dilihat karyanya dari komik strip yang terbit secara rutin harian, mingguan atau bulanan di koran atau majalah.

Tema yang kita jumpai dalam komik nasional juga semakin beragam, dan pada umumnya booming seiring dengan berubahnya wajah politik Indonesia di tahun 1997-1998. Komikus semakin terpacu untuk mengangkat tema-tema yang sebelumnya ragu diungkapkan. Katakanlah serial Mat Jagung (karya Radhar Panca Dahana), Lagak Jakarta, Selamat Pagi Urbaz (karya Beng Rahadian), Jakarta 2039 (karya Seno Gumira Ajidarma), serta komik-komik yang diproduksi oleh para LSM/ NGO, termasuk komik-komik tokoh politik. Semuanya ini memperkaya khasanah komik kita.

Fenomena lain adalah tumbuhnya berbagai komunitas komik. Katakanlah Pengajian Komik DKV, Masyarakat Komik Indonesia, KomikIndonesia.com, Komik Alternatif, dan lain sebagainya. Nyaris semuanya tumbuh dan berkembang pesat berkat adanya teknologi internet. Kini dunia semakin tak terbatas dan siapapun diseluruh belahan dunia, dapat berinteraksi atas minat yang sama, yaitu komik nasional. Keberadaan berbagai komunitas ini mempermudah komunikasi diantara para pelaku, pengamat dan penikmat komik. Saat ini sedang dirintis upaya lintas komunikasi antara komikus, penerbit, distributor dan toko buku. Tujuannya adalah untuk mencari solusi terbaik dalam ’mewabahkan’ komik nasional. Semua pihak menyadari adanya masalah yang dapat dipecahkan, asalkan pintu-pintu komunikasi dibuka selebar-lebarnya. Dengan demikian semua pihak memahami kondisi yang terjadi.

Fenomena lain yang tak kalah penting adalag semakin mewabahnya komik-komik terjemahan dan pengaruhnya terhadap karakter para komikus. Jika pada dekade 70an dan 80an kita menemukan banyaknya komik terjemahan dari Amerika dan Eropa, maka dekade 90an menjadi saksi gelombang tsunami komik terjemahan Jepang. Kini nyaris semua toko buku dipenuhi komik asal negeri matahari terbit ini. Banyak komikus muda yang sangat terpengaruh dengan komik Jepang, seperti Wind Rider (karya Is Yuniarto dan John G. Reinhart) yang banyak mendapat pujian. Namun banyak pula yang menggunakan nama samaran agar terdengar ke-Jepang-jepang-an, yang dilakukan untuk mendongkrak penjualan.

Dalam 10 tahun terakhir kita juga menyaksikan berbagai pameran, lomba, kursus komik, diskusi komik, bazaar, dan sejenisnya. Walaupun pada umumnya baru terselenggara diberbagai kota di pulau Jawa, namun penyebaran ke wilayah lain hanyalah masalah waktu. Artikel yang hadir di media cetak, serta berbagai liputan dan obrolan di televisi dan radio juga menunjukan bahwa masyarakat masih memperhatikan komik Indonesia. Berbagai aktivitas ini penting untuk membuka wawasan masyarakat untuk lebih mengapresiasi komik nasional.

Media cetak lainnya juga menjadi saksi kebangkitan dan keterpurukan komik nasional. Dalam rentang 10 tahun terakhir banyak sekali majalah, format tabloid atau fanzine yang mengkhususkan diri pada komik. Sebagian dari mereka kini sudah gulung tikar, namun masih ada yang bertahan seperti majalah Sequen. Sebagian lagi memilih untuk berkarya dengan format website di internet. Dari sini berbagai informasi terkini bisa disebarkan kepada para pecinta komik Indonesia diseluruh dunia. Ada pula yang sedang menyusun one gate information untuk komik nasional.

Teknologi internet berperan besar bagi perkembangan komik Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perkiraan bahwa internet akan lebih berperan dalam 10 tahun mendatang tidaklah berlebihan. Sangat mungkin kita dapat berlangganan komik strip, atau membeli komik-komik jadul, dalam format data softcopy. Mereka yang mengumpulkan bahan studi atau skripsi juga dimudahkan. Informasi akan tersebar secara lebih cepat. Beberapa situs komik terpilih mewakili wajah komik Indonesia satu dekade seperti Tita’s Playground (karya Dwinita Larasati) serta Gibug dan Oncom (karya Wisnoe Lee). Keduanya terpilih karena konsistensi, komitmen dan kreativitas yang patut menjadi contoh bagi komikus lainnya.

Teknologi internet membuat dunia mengetahui kiprah industri komik Indonesia. 24 Hours Comic Day 2006 diikuti oleh para komikus Indonesia di tiga kota. Dalam kegiatan ini, yang dilakukan serentak di seluruh dunia, setiap komikus diminta untuk menyelesaikan 24 halaman komik dalam waktu 24 jam. Dua karya diantaranya terpilih sebagai 10 karya terbaik internasional dan sudah dibukukan secara komersial. Sudah barang tentu kita semua berharap prestasi komikus Indonesia semakin dikenal di mancanegara dimasa mendatang.

Pada akhirnya kita semua berharap komik Indonesia akan mengalami perubahan positif yang lebih signifikan dalam 10 tahun yang akan datang. Hanya waktu yang dapat menjawab.

Leave a Reply