Archive for August, 2007

THE GOOD & THE BAD WEEK

Wednesday, August 29th, 2007

Duh….. have you experienced a good and bad week altogether? I have.

Sunday night, together with my wife and kids, we went to Urbanfest, Ancol. The main purpose was to see Sore and White Shoes & The Couples Company in concert. I’ve been calling and sending sms to Awan (Sore’s bassist), Boik (Sore’s manager) and John (WS&TCC’s drummer) for the exact event rundown. Especially when they’re on stage. I was very excited to know that they played next to each other, and on the same slot (19.30-20.30 WIB). So it won’t be a problem. We were very happy to see them live. Unfortunately Sore didn’t play Pergi Tanpa Pesan, our favourite song. We even have that song as our ring back tone cellphone.

Anyway, it was during that event I lost one of my most favourite keychain: Tintin in Tibet, where Tintin was having his backpack. It must fell somewhere or somebody grabbed it, I don’t know). We walked everywhere, quite dark, and I have no idea where it fell. So it was gone forever. I was very sad.

Some days before, I was very upset with my wife. I didn’t know what’s on her mind. But she threw away a box, with my favourite watch in it! She thought it was empty, she said. But based on past experience, I’m pretty sure that wasn’t the reason. She was mindblinded, when she threw the box. Not realizing to checked the inside first. So the watch is gone forever.

As usual, my car was parked in front of the house during daytime. And as usual, every Tuesday, I parked a bit farther so the truck, carrying trash, could pass leaving my car any harm. But accidents do happen. It wasn’t the truck, but it was the trash (perhaps some leaves and woods) left marks on the two left doors. It wasn’t that damaged, but still it was visible enough from a close distance. I didn’t know what to say. The truck won’t repaired it for sure. For the whole day, I kept thinking how to repair those scratches. Yesterday I went to a car saloon, for the first time since I bought this new car a year ago. I didn’t give specific orders to erase the scratches. But the guys there noticed it, and they promised to do their best. I spent 3,5 hours wandering around. To Mc Donalds, bookstore, CD store, having coffee latte at a cafe, reading The White Castle book, …until I called the saloon. They said the car is finished and I could get it. I was very happy, although not expecting much in the beginning, that most scratch were gone. Yay!!!

It was also yesterday, when two packages arrived. One was a dvd, A Stranger of Mine. It was a Japanese movie, my most favourite movie during JIFFEST 2006. I finally decided to buy imported, since no local versions avail ever since. The other package was from Amazon.com, also a dvd, Rendezvous (Juliette Binoche). I considered this package lost, since it was sent more than a month ago. The order was divided into two shipments. The first was with Rendezvous, while the latter (sent two weeks later) with 300 special ed. The 2nd part already arrived some 10 days ago, while the first was nowhere. I e-mailed Amazon, and I knew they’d replace the order anyway, but still I wanted to wait. Hoping it arrived on time. I’m very glad the dvd is on my hands now.

Guess everybody has a good and a bad week altogether….

EKSPEDISI KAPAL BOROBUDUR: JALUR KAYU MANIS

Wednesday, August 29th, 2007

Dipublikasikan di Koran Tempo Minggu, suplemen Ruang Baca,  26 Agustus 2007

Pentas komik nasional diramaikan oleh sebuah komik dokumenter tentang ekspedisi kapal Borobudur yang menapak tilas jalur pelayaran perdagangan kayu manis berabad silam. Kita masih ingat di tahun 2002-2003 sebuah tim ekspedisi berusaha mereka-ulang kapal layar dengan referensi utamanya murni berdasarkan relief kapal yang terpahat di dinding candi Borobudur. Tidak banyak referensi lain yang ditemukan, dan tim arkeolog dan arsitek berusaha sebisa mungkin membangun kapal yang dimaksud. Tentu saja ini ambisi yang nyaris mustahil. Namun semangat membara membuat semua pihak, termasuk Pemerintah R.I, mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk mewujudkan mimpi ini.

Komik dokumentasi ini mengingatkan pada Fax From Sarajevo, karya Joe Kubert, yang berkisah tentang kondisi perang Bosnia. Kubert tidaklah berada ditengah dentuman granat dan desingan peluru. Ia tinggal di Amerika, namun kerap berkomunikasi dengan sahabatnya dibelahan bumi sana melalui telepon dan fax. Ratusan lembar fax inilah yang digunakan sebagai bahan dasar penulisan cerita. Pendekatan serupa juga digunakan penulis cerita Ekspedisi Kapal Borobudur.

Penulis Yusi A. Pareanom mewawancarai berbagai pihak, serta membaca berbagai bahan (termasuk artikel koran dan buku log kapal) agar mendapatkan gambaran utuh perihal semangat dibalik misi ambisius ini. Secara runut narasi bertutur langkah demi langkah realisasi impian, termasuk kisah-kisah yang tidak terpublikasi dalam berbagai berita resmi ketika ekspedisi berlangsung. Ilustrator Bondan Winarno dan Dhian Prasetya secara apik dan indah mampu memvisualisasi perjalanan ini. Tak lupa visualisasi yang paling penting adalah keindahan kapal Borobudur-nya sendiri.

“Komik ini ingin menunjukan bahwa sejarah tidaklah selalu milik mereka para tokoh besar, maupun yang gugur di medan pertempuran. Tapi dapat pula dilakukan oleh sekelompok orang yang berjiwa besar. Ekspedisi ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Salah satu fokus utama cerita komik adalah pada semangat persahabatan dan persaudaraan antar bangsa, mereka yang terlibat dalam ekspedisi kapal Borobudur,” ungkap Yusi dalam suatu wawancara. Naskah yang disusun pun merefleksikan semangat persahabatan dan persaudaraan yang dimaksud. Kita dapat membaca berbagai peristiwa unik, mengharukan dan mendebarkan yang dialami seluruh awak dan penumpang kapal. Pembaca secara emosional ikut larut dalam petualangan mendebarkan. Bagaimana tidak? Mereka semua mengarungi samudera, menelusuri jejak nenek moyang bangsa Indonesia hingga ke ujung dunia sana.

Ilustrasi yang kaya warna dan sepintas terlihat pengaruh komikus asal Belgia, Herge, merupakan kekuatan tersendiri. Indah tiada tara, terutama ketika melukiskan panorama lautan ketika kapal Borobudur menggapai impian. Ukuran panel yang besar memudahkan pembaca memanjakan mata. Pembanding terdekat mungkin komik-komik Eropa, termasuk Rampokan Jawa (Peter van Dongen) yang beberapa waktu silam membuat heboh dunia dengan reka wajah Indonesia zaman kemerdekaan. Kecermatan dan keindahan yang ditawarkan ini sangat tepat bagi sasaran pembaca yang kebetulan semua umur.

Diakui oleh Yusi kesulitan terbesar adalah saat menggambar fisik kapal secara akurat, walaupun berbagai dokumentasi tersedia. Kesulitan lain adalah merangkum seluruh perjalanan ke dalam jumlah halaman yang terbatas. Sudah barang tentu proses penyuntingan menjadi sangat penting untuk membuat karya ini singkat dan padat.

Ekspedisi Kapal Borobudur tidaklah luput dari kekurangan. Kesalahan teks dibeberapa tempat sangat mengganggu bacaan. Terkadang ada celetukan beberapa karakternya yang tidak relevan dengan isi cerita. ”Namun banyak pembaca muda yang menyukainya saat prototipe komik disampaikan,” jelas Yusi. Seandainya saja diselipkan pula beberapa lembar potongan berita atau catatan harian, foto dokumentasi, atau bahkan denah kapal, isi komik ini bisa semakin kaya dan menarik.

Dicetak sebanyak 3.000 eksemplar oleh Banana Publishing, diharapkan masyarakat menyadari bahwa komikus Indonesia mampu menciptakan karya yang tak kalah dibandingkan karya luar. Selain itu juga membuka wawasan bahwa komik hanyalah sebuah media dan tidak identik dengan bacaan jenaka. Sebuah komik dapat berisi cerita berbobot, sebagaimana Ekspedisi Kapal Borobudur: Jalur Kayu Manis.

Saat ini sudah ada beberapa komik lainnya yang sedang dalam proses. Pencurian Permata di Dag Express (seting perjalanan kereta api Jakarta-Surabaya tahun 1930-an), Asmara dan Darah di Batavia (setting pembantaian etnis Tionghoa abad ke-18), dan Utusan Sang Adipati (seting jalan raya pos Anyer-Panarukan). Dua yang pertama sudah mulai pada proses ilustrasi, sementara yang terakhir masih pada tahap cerita. Sudah barang tentu judul-judul ini sangat dinantikan dan sudah pasti akan ikut meramaikan pentas panggung komik nasional.

SAMBUTAN TIM KURATOR KOSASIH AWARD 2007

Friday, August 24th, 2007

Dipublikasikan di buku katalog Kosasih Award 2007
Dibacakan saat pembukaan Kosasih Award 2007, 16 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta

Festival Komik Indonesia Satu Dekade 1997-2007 (KONDE) merupakan parade perjalanan komik Indonesia selama kurun waktu tersebut. Tidak hanya karya-karya komik monumental yang lahir pada satu dekade terakhir ini. Namun juga mencakup peristiwa-peristiwa penting seputar dunia komik nasional. Semuanya semata demi mewartakan kepada masyarakat bahwa komik Indonesia masih aktif dan senantiasa berprestasi. KONDE merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap budaya seni pop ini, yang sering dicaci, dilecehkan, bahkan dianaktirikan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.

Berbagai usaha dilakukan dalam satu dekade terakhir untuk mengangkat ’harkat dan martabat’ seni komik. Mulai dari pameran, liputan media, forum diskusi, kemasan yang artistik, tulisan kritik, dan masih banyak lagi. Salah satu yang kini dirintis adalah penghargaan terhadap karya seni komik. Mengapa tidak? Dunia seni lain, contohnya sinema dan musik, memiliki ajang penghargaan. Semuanya bertujuan positif, yaitu memberikan apresiasi tertinggi serta memberi dukungan agar terus melahirkan karya-karya masterpiece. Di dunia internasional, penghargaan terhadap seni komik tidaklah asing. Beberapa negara sudah melakukannya sejak tahunan lampau. Sebagian para pemenang mendapatkan perhatian tinggi dari pemerhati seni lainnya, dan perlahan pengakuan terhadap seni komik pun mengalir.

Mengapa diberi nama Kosasih Award? Mengapa bukan tokoh komikus lainnya? Walaupun belum ada pengakuan resmi dari Pemerintah atau lembaga hukum manapun, komikus legendaris R.A. Kosasih dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia. Catatan historis menunjukan bahwa beliau bukanlah orang Indonesia pertama yang membuat komik di era modern. Namun R.A. Kosasih-lah yang paling berjasa kepada semua komikus dan pembaca komik tanah air melalui karya-karyanya. Beliau yang pertama kali melahirkan komik dalam format buku di tahun 1953 dengan tokoh Sri Asih, seorang wanita dengan kekuatan super berpakaian selayaknya tokoh wayang. Kelak Sri Asih menginspirasi banyak komikus untuk terus melahirkan karakter-karakter pahlawan super.

Ketika masyarakat menuding seni komik sebagai karya seni murahan dan merusak moral pembacanya (yang mayoritas anak-anak), R.A. Kosasih mengadaptasi kisah-kisah wayang ke dalam media komik. Dimulai dari Burisrawa Merindukan Bulan (1953), beliau meneruskannya hingga terbit karyanya yang paling fenomenal, Mahabharata dan Ramayana ditahun 1954. Langkah ini merupakan strategi paling jitu ketika berhadapan dengan masyarakat yang sudah terlanjur akrab dengan filosofi kisah pewayangan selama ratusan tahun. R.A. Kosasih pun mampu menghibur, sekaligus menyampaikan pesan moral yang sama dalam format komik. Selain itu, ini yang paling penting, R.A. Kosasih mampu menyampaikannya dengan bahasa Indonesia yang sangat sederhana. Faktor terakhir inilah yang paling sulit, mengingat ia menyadur kitab Mahabharata dan Ramayana (yang aslinya berbahasa India) dan semurni mungkin dengan menghindarkan pengaruh budaya Jawa (wayang purwa). Beliau pun memvisualisasikan berbagai karakter wayang dengan interpretasi yang mengagumkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan, mengingat masyarakat mengenal visualisasi karakter wayang sebatas bentuk-bentuk tradisional seperti wayang beber, wayang kulit, wayang golek dan wayang orang. Hasilnya sudah dapat ditebak dan masyarakat pun mulai dapat menerima komik (setidaknya komik wayang) sebagai bacaan yang baik.

Ketekunan, dedikasi, inovasi dan kesuksesan R.A. Kosasih membuka pintu karir dan menjadi teladan bagi ribuan komikus hingga hari ini. Sudah waktunya beliau, yang kini masih segar dan sehat di usia yang sangat lanjut, mendapatkan penghargaan yang lebih dari sekedar pantas. Penamaan penghargaan dengan mengabadikan namanya merupakan salah satu bentuk ucapan cinta dan terima kasih seluruh insan pecinta komik Indonesia kepadanya.

Penyelenggaraan Kosasih Award 2007 memberikan 10 kategori penghargaan yaitu: komik terbaik, cerita terbaik, gambar terbaik, sampul terbaik, karakter terbaik, komik indie terbaik, komik terapi terbaik, komik maya terbaik, tulisan kritik terbaik, dan majalah komik terbaik. Seluruh nominator dipilih dari ribuan karya yang terbit selama 1997-2007, baik terbit secara mainstream maupun secara independen. Menentukan 10 kategori diatas bukanlah pekerjaan mudah. Terutama saat merumuskan definisi setiap kategori. Berbagai pertimbangan dilakukan, termasuk melihat apa yang penting bagi perkembangan komik nasional.

Memilih karya terbaik untuk setiap kategori juga bukanlah pekerjaan yang ringan. Selain banyaknya karya yang harus diseleksi selama 10 tahun terakhir, tim kurator menemukan banyak sekali karya yang kualitasnya bagus. Debat argumen, yang terkadang juga dengan debat ilmiah, pada akhirnya berakhir dengan kesepakatan. Tentu saja hasilnya dapat dipertanyakan dikemudian hari, namun pemilihan yang telah melampaui proses ketat dipercaya dapat dipertanggungjawabkan dan diterima publik.

Apakah pemberian penghargaan Kosasih Award berikutnya harus menunggu 10 tahun lagi? Semoga saja tidak. Semoga apa yang sudah dirintis ini dapat berlanjut menjadi ajang prestasi setiap, katakanlah, dua tahun sekali. Diharapkan semua pihak terus berbenah diri untuk menyempurnakannya. Tidak hanya dari pihak penyelenggara, namun juga proses seleksi dan peningkatan mutu komik-komik yang lahir di masa yang akan datang, serta profesionalitas para pelaku industri komik nasional. Terbuka kemungkinan pada penyelenggaraan berikutnya jumlah, jenis dan definisi kategori berubah seiring perkembangan zaman. Namun semuanya itu tetap memiliki satu tujuan: meningkatkan kualitas karya dan mengapresiasi komik nasional.

Hidup komik Indonesia!

KATA PENGANTAR KATALOG KOMIK INDONESIA SATU DEKADE 1997-2007

Friday, August 24th, 2007

9-18 Agustus 2007, Bentara Budaya Jakarta

Hidup seseorang mengalami banyak perubahan dari hari ke hari. Apalagi jika dihitung mencapai rentang 10 tahun. Seseorang tumbuh, berkembang, terpuruk, terkapar, bangkit, sukses, gagal, dan seterusnya. Itulah siklus hidup. Kehidupan yang sama juga dialami dengan denyut nadi komik nasional. Berbagai peristiwa membuat pecinta komik nasional berdebar penuh cemas dan tersenyum penuh harap. Lukisan jatuh-bangun komik nasional dalam 10 tahun terakhir itu dicoba untuk dirangkum dan direpresentasikan dalam parade karya. Dari sekian ratus karya komik yang terbit dalam kurun waktu satu dekade ini, terpilihlah beberapa komik yang dianggap mewakili kiprah komik nasional dalam pentas seni dalam negeri.

Dalam 10 tahun terakhir banyak sudah suka-duka yang dialami. Kita kehilangan para maestro komik seperti Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Taguan Hardjo, Zaldy, Sim dan Wid NS. Coretan prestasi mereka akan selalu hidup dalam kenangan kita. Terdengar ironis ketika hari ini kita semua menyadari bahwa catatan panjang kreativitas mereka tak terdokumentasi dengan baik. Sulit untuk melacak seluruh buah tangan mereka. Mungkinkah ini potret dari sebagian problema negeri kita yang dikenal tak rajin mendokumentasikan sejarah?

Pentas komik nasional juga menyaksikan tumbuhnya gerakan komik independen (indie). Sampai dengan akhir dekade 80an, Indonesia nyaris tidak mengenal gerakan komik indie. Namun sejak pertengahan dekade 90an, fenomena ‘self create-produce-distribute-promote’ tsb berlanjut hingga hari ini. Apa yang diciptakan komik indie ini menoreh sejarah tersendiri bagi perkembangan komik nasional. Beberapa judul komik indie karya Eko Nugroho, Ahmad Zeni, Wisnoe Lee, dan beberapa lainnya ikut dipilih merepresentasikan wajah komik Indonesia satu dekade.

Industri percetakan komik juga mengalami pasang-surut. Tiba-tiba kita mendapati hilangnya nyaris seluruh komik nasional dari peredaran di akhir dekade 80an. Pertengahan 90an dapat dikatakan nihil, kecuali beberapa judul komik wayang yang senantiasa tersedia. Komik strip yang rutin menghiasi koran dan majalah masih akrab membaca pembaca. Bahkan komik-komik surga dan neraka tak pernah absen menyapa mereka yang usai menunaikan ibadah sholat Jum’at di pelataran mesjid.

Awal dekade 2000 secara perlahan beberapa judul mulai tersedia kembali seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Gundala Putera Petir, Godam, Labah-labah Merah, serta tentunya serial Mahabharata dan Ramayana-nya RA Kosasih. Sebagian mengalami perubahan format dan teks. Prestasi penjualan komik-komik cetak ulang ini tidaklah sehebat masa keemasan mereka. Pembelinya semakin segmented, dan ini makin sulit mengingat biaya produksi yang tidaklah murah. Sulitnya melacak gambar master membuat kualitas komik cetak ulang kurang prima. Ini disebabkan karena komik cetakan dengan kertas dan tinta yang tidak bagus, yang dijadikan sumber utama komik cetak ulang. Kendala lain masih berkisar simpang siurnya pemilik hak cipta judul komik, mengingat pada masa lalu tidak banyak transaksi antara komikus dan penerbit terdokumentasi dengan tertib.

Beberapa komik juga digambar ulang agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Contohnya Panji Tengkorak dan Walet Merah, yang digambar ulang oleh pencipta aslinya Hans Jaladara. Beberapa tokoh komik juga di-reborn-kan seperti Gina (oleh penciptanya Gerdi WK) dan Godam (oleh Sungging putra alm. Wid NS). Beberapa talenta muda juga mulai eksis dipercaturan komik Indonesia. Sebagian dari mereka dapat dilihat karyanya dari komik strip yang terbit secara rutin harian, mingguan atau bulanan di koran atau majalah.

Tema yang kita jumpai dalam komik nasional juga semakin beragam, dan pada umumnya booming seiring dengan berubahnya wajah politik Indonesia di tahun 1997-1998. Komikus semakin terpacu untuk mengangkat tema-tema yang sebelumnya ragu diungkapkan. Katakanlah serial Mat Jagung (karya Radhar Panca Dahana), Lagak Jakarta, Selamat Pagi Urbaz (karya Beng Rahadian), Jakarta 2039 (karya Seno Gumira Ajidarma), serta komik-komik yang diproduksi oleh para LSM/ NGO, termasuk komik-komik tokoh politik. Semuanya ini memperkaya khasanah komik kita.

Fenomena lain adalah tumbuhnya berbagai komunitas komik. Katakanlah Pengajian Komik DKV, Masyarakat Komik Indonesia, KomikIndonesia.com, Komik Alternatif, dan lain sebagainya. Nyaris semuanya tumbuh dan berkembang pesat berkat adanya teknologi internet. Kini dunia semakin tak terbatas dan siapapun diseluruh belahan dunia, dapat berinteraksi atas minat yang sama, yaitu komik nasional. Keberadaan berbagai komunitas ini mempermudah komunikasi diantara para pelaku, pengamat dan penikmat komik. Saat ini sedang dirintis upaya lintas komunikasi antara komikus, penerbit, distributor dan toko buku. Tujuannya adalah untuk mencari solusi terbaik dalam ’mewabahkan’ komik nasional. Semua pihak menyadari adanya masalah yang dapat dipecahkan, asalkan pintu-pintu komunikasi dibuka selebar-lebarnya. Dengan demikian semua pihak memahami kondisi yang terjadi.

Fenomena lain yang tak kalah penting adalag semakin mewabahnya komik-komik terjemahan dan pengaruhnya terhadap karakter para komikus. Jika pada dekade 70an dan 80an kita menemukan banyaknya komik terjemahan dari Amerika dan Eropa, maka dekade 90an menjadi saksi gelombang tsunami komik terjemahan Jepang. Kini nyaris semua toko buku dipenuhi komik asal negeri matahari terbit ini. Banyak komikus muda yang sangat terpengaruh dengan komik Jepang, seperti Wind Rider (karya Is Yuniarto dan John G. Reinhart) yang banyak mendapat pujian. Namun banyak pula yang menggunakan nama samaran agar terdengar ke-Jepang-jepang-an, yang dilakukan untuk mendongkrak penjualan.

Dalam 10 tahun terakhir kita juga menyaksikan berbagai pameran, lomba, kursus komik, diskusi komik, bazaar, dan sejenisnya. Walaupun pada umumnya baru terselenggara diberbagai kota di pulau Jawa, namun penyebaran ke wilayah lain hanyalah masalah waktu. Artikel yang hadir di media cetak, serta berbagai liputan dan obrolan di televisi dan radio juga menunjukan bahwa masyarakat masih memperhatikan komik Indonesia. Berbagai aktivitas ini penting untuk membuka wawasan masyarakat untuk lebih mengapresiasi komik nasional.

Media cetak lainnya juga menjadi saksi kebangkitan dan keterpurukan komik nasional. Dalam rentang 10 tahun terakhir banyak sekali majalah, format tabloid atau fanzine yang mengkhususkan diri pada komik. Sebagian dari mereka kini sudah gulung tikar, namun masih ada yang bertahan seperti majalah Sequen. Sebagian lagi memilih untuk berkarya dengan format website di internet. Dari sini berbagai informasi terkini bisa disebarkan kepada para pecinta komik Indonesia diseluruh dunia. Ada pula yang sedang menyusun one gate information untuk komik nasional.

Teknologi internet berperan besar bagi perkembangan komik Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Perkiraan bahwa internet akan lebih berperan dalam 10 tahun mendatang tidaklah berlebihan. Sangat mungkin kita dapat berlangganan komik strip, atau membeli komik-komik jadul, dalam format data softcopy. Mereka yang mengumpulkan bahan studi atau skripsi juga dimudahkan. Informasi akan tersebar secara lebih cepat. Beberapa situs komik terpilih mewakili wajah komik Indonesia satu dekade seperti Tita’s Playground (karya Dwinita Larasati) serta Gibug dan Oncom (karya Wisnoe Lee). Keduanya terpilih karena konsistensi, komitmen dan kreativitas yang patut menjadi contoh bagi komikus lainnya.

Teknologi internet membuat dunia mengetahui kiprah industri komik Indonesia. 24 Hours Comic Day 2006 diikuti oleh para komikus Indonesia di tiga kota. Dalam kegiatan ini, yang dilakukan serentak di seluruh dunia, setiap komikus diminta untuk menyelesaikan 24 halaman komik dalam waktu 24 jam. Dua karya diantaranya terpilih sebagai 10 karya terbaik internasional dan sudah dibukukan secara komersial. Sudah barang tentu kita semua berharap prestasi komikus Indonesia semakin dikenal di mancanegara dimasa mendatang.

Pada akhirnya kita semua berharap komik Indonesia akan mengalami perubahan positif yang lebih signifikan dalam 10 tahun yang akan datang. Hanya waktu yang dapat menjawab.