MALAM SEJUTA BENING: KONSER KEENAN NASUTION

Jakarta, 5 Mei 2007
Malam itu saya bersama istri berangkat ke Balai Kartini untuk menyaksikan konser Keenan Nasution. Kami berdua sangat antusias, karena konser bertepatan dgn ultah pernikahan kami. Jadi bolehlah saya mengatakan bhw konser ini dipersembahkan kepada kami berdua=)

Tiba di Balai Kartini agak sulit mendapat parkir. Sementara berkeliling, nampak Fariz RM dan Oneng sedang berjalan menuju lantai atas. Beruntung kami dapat satu tempat kosong, dan segera bergegas ke ruang pertunjukan. Sesampainya disana ruang lobby nampak mulai ramai. Saya sempat bertemu dengan dua orang kawan lama, Denny Sakrie dan Indra Kusuma. Tidak jauh nampak counter penjualan pre-order CD Boxset Keenan Nasution mulai ramai. Tanpa pikir panjang saya mengisi formulir dan membayar lunas Rp 350.000,- untuk 2 keping CD, plus box, plus booklet, plus kantong yang semuanya berwarna hitam doff dengan ilustrasi karya Gauri Nasution. Wah keren banget deh. Sample buku bisa dibaca-baca, dan daftar lagu dalam 2 CD cukup memuaskan (walaupun ada beberapa lagu baru yang saya ngga kenal).

Lepas dari counter CD, kami bergegas ke lantai 2 (balkon), tempat kelas silver berada. Sementara mengantri tampak wajah-wajah 60’s dan 70’s diantara mereka. Tapi rasanya generasi 80’s adalah mayoritas. Setidaknya tercermin dari banyaknya rekan semasa SMA bertemu disini. Kami sempat mendapat tempat duduk yang kurang strategis. Tapi segera pindah ke deretan lebih depan yang ternyata kosong. Jadilah pemandangan yg lebih jelas, walaupun ada yg mengganggu. Dari posisi balkon, tempat dudukan lampu2 sorot mengganggu pemandangan menuju layar/ screen. Saat demo screen, kekhawatiran ini terbukti. Tapi kami enggan pindah lagi lebih ke bawah, karena pada barisan dibawah kami pandangan terganggu dengan pegangan pagar balkon berwarna chrome. Batas pagar ini membuat penonton sulit melihat wajah-wajah para musisi di panggung.

Acara dimulai terlambat sekitar 40 menit. Penonton mulai memberi celetukan lucu-lucu. Dibuka dengan Overture oleh band pimpinan Indro plus orkestra. Wah mixing suaranya keren banget! Akustik ruangannya juga bagus sekali! Ini adalah pengalaman pertama nonton di Balai Kartini yang baru, dan sangat memuaskan. Aransemen Overture nya bagus banget. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan trio Agus Wisman, Rita Effendi & Yana Julio membawakan Jamrud Khatulistiwa dengan sangat memukau. Cuma tiga orang tapi suaranya penuh!

Tak lama tampil ADA Band membawakan dua lagu, Adikku dan Telaga Merah. Mungkin mereka hadir untuk merangkul penonton generasi muda. Tapi aransemen ADA Band ditelinga saya terasa membosankan, terutama pada lagu kedua. Penampilan mereka tidaklah jelek, tapi bagi saya mereka monoton.

Kemudian tampil Nugie yang tampil luar biasa bagus malam itu. Membawakan sebuah lagu (rasanya berjudul Life Style) dan duet dengan Keenan berjudul Sang Pencipta, sebuah lagu baru karya Keenan. Kolaborasi mereka indah sekali. Lagu Sang Pencipta akan dirilis dalam boxset pada awal Juli 2007. Belakangan tampil kembali trio Agus Wisman, Rita Effendi & Yana Julio menyanyikan lagu Di Batas Angan-Angan. Emang trio ini nggada matinya. Keenan tampil lagi diiringi solo gitar Denny TR membawakan Apa Yang Telah Kau Buat.

MC Indra Herlambang mulai menceritakan peristiwa-peristiwa lucu masa lalu. Misalnya pengalaman Gilang Ramadhan saat menonton konser Keenan tahunan lampau. Konon sehabis pertunjukan itulah Gilang bercita-cita ingin menjadi drummer. Gilang dan Keenan pun ber-drum duet dan kolaborasi keduanya sangat interaktif dan mengagumkan. Keduanya masih lanjut mengiringi penampilan putra Keenan bernama Daryl dan seorang sahabatnya. Permainan gitar keduanya benar-benar luar biasa, dan dalam waktu dekat akan dirilis albumnya. Musiknya sendiri adalah rock, dengna produser Gilang Ramadhan. Ditelinga saya, sebagian riff pada lagu Sobat terdengar khas musik 80’s dengan sound zaman sekarang.

Keenan duet lagi, kini bersama Marcell menyanyikan hits Gang Pegangsaan berjudul Dirimu. Sudah pasti mendapat sambutan sangat meriah dari penonton. Terdengar vokal Keenan masih prima, walaupun sudah tampil lebih dari satu jam. Marcell melanjutkan secara solo dengan lagu Cakrawala Senja.

Bagi sebagian orang, terutama penggemar Keenan era awal, acara masuk ke saat yang paling ditunggu. Satu per satu personil Gang Pengangsaan naik panggung: Odink Nasution, Gauri Nasution, Fariz RM, Debby Nasution dan Raidy Noor. Bersama Keenan mereka memainkan lagu solo Keenan yang sering luput dari perhatian, Negeriku Cintaku. Bagi saya, ini adalah mimpi jadi kenyataan karena sudah lama merindukan lagu ini. Walaupun sering mendengarkannya melalui iPod, tapi tetap saja menyaksikan live pengalaman berbeda. Terakhir menyaksikan Gang Pegangsaan adalah saat mereka konser di News Café Kuningan sekitar tahun 1995/ 1996.

Kini giliran Gipsy Band yang personilnya mirip-mirip Gang Pegangsaan. Selain Keenan, Gauri, Odink, ada juga Tammy pada saxophone dan Harry Sabar pada drums. Sayang Onan tidak hadir. Terakhir saya menyaksikan konser Gipsy beberapa bulan lalu di Café Bug’s. Saat itu alm Chrisye juga hadir dan ikut menyanyikan satu lagu. Gipsy hadir membawakan lagu BST: I Love You More Than You Ever Know. Kali ini tampil paduan suara dan orkestra. Suasana blues mengaroma diruangan Balai Kartini, dan untuk kesekian kalinya saya harus hormat kepada Gipsy. Mereka nggada matinya! Sayang gitar Gauri dan bass Raidy tidak begitu terdengar.

Setelah ini adalah penampilan yang paling ditunggu-tunggu. Guruh Gipsy! Saya tidak tahu apakah Guruh Gipsy pernah konser setelah album 1976? Jika tidak pernah, maka inilah penampilan pertama mereka. Memang sekitar 1995 Keenan dan Chrisye pernah tampil di….pelataran Candi Prambanan rasanya menyanyikan Indonesia Maharddika dan Chopin Larung. Tapi saat itu mereka tidak tampil bersama Guruh Gipsy. Saya mesti bongkar lagi rekaman kaset dari TV saat itu.

Indra mengajak Keenan dan Sys NS berbincang-bincang seputar Guruh Gipsy. Sys NS banyak bercerita peristiwa-peristiwa lucu ke sekitar 20-30 tahun lampau. Kecuali Guruh dan alm Chrisye, semua personil Guruh Gipsy tampil: Odink, Keenan, Ronny Harahap, Abadi Soesman, ditambah Raidy Noor menggantikan Chrisye pada bass. Masih juga pasukan gamelan Bali ikut meramaikan panggung. Jika saya tak salah lihat, Kompyang Raka ikut berada diantara mereka. Nyaris lengkap sudah formasi Guruh Gipsy. Lagu pertama, Chopin Larung dipersembahkan kepada alm Chrisye. Keenan mengambil posisi vokal menggantikan Chrisye. Agak merinding saya mendengarkan lagu ini, mungkin karena ini pertama kalinya menyaksikan langsung. Selama ini lagi-lagi hanya melalui CD hasil transferran dari kaset.

Guruh Gipsy masih menyihir penonton dengan lagu fenomenalnya Indonesia Maharddika. Lagu epik yang aslinya berdurasi 15 menit ini sedikit dipersingkat, tapi tanpa melupakan segala kemegahannya. Terutama karena paduan suara dan orkestra yang luar biasa prima. Ronny Harahap sempat bercerita proses pembuatan lagu ini, termasuk intro yang terinspirasi sebuah lagu disko dan lirik yang berupa inisial para personil Guruh Gipsy. Bagi saya, kedua lagu Guruh Gipsy ini benar-benar mengobati kerinduan selama bertahun-tahun. Sayang bass Raidy Noor lagi-lagi sering terganggu.

Kini memasuki akhir pertunjukan, sudah pasti lagu hits Nuansa Bening. Lagu yang tak pernah bosan didengar ini ternyata aransemennya dibuat oleh Addie MS. Ia tampil mengisi grand piano, mengiringi Keenan dan trio Agus-Rita-Yana.

Pertunjukan Keenan dan teman-temannya seakan memberi pesan kepada kita, bahwa berkarya haruslah total. Keenan mengenang masa-masa dimana lirik lagu sangat puitis, dan tidak blak-blakan seperti masa kini. Penampilan para musisi senior juga menunjukan kepiawaian dan profesionalitas bermusik, sesuatu yang belum tentu bisa ditiru oleh musikus masa kini yang cenderung mengambil jalan pintas dalam industri musik.

Bang Keenan, saya berdua istri mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas keindahan kado pernikahan ini. Nanti kalo launching album boxset itu pake konser lagi ngga?

Leave a Reply