Archive for May, 2007

KOMIK GEMPA JOGJA 5,9 SKALA RICHTER

Wednesday, May 23rd, 2007

Buku komik ini adalah kompilasi karya-karya komik dalam rangka mengenang musibah gempa bumi Yogyakarta, 27 Mei 2006 lalu. Menurut rencana akan diterbitkan oleh Akademi Samali bertepatan dengan peringatan satu tahun. Tercatat ada 18 judul komik yang terangkum disini. Kisah yang diutarakan dalam setiap judul sangat bervariasi, namun benang merahnya tetap terjaga.

Simaklah “Keberanian, Harapan, Cita-cita” karya Mario Diaz yang mengkisahkan seorang gadis cilik yang merenung nyaris putus harapan. Berterima kasihlah ia kepada boneka beruang nya yang memberikannya semangat untuk tetap menggapai cita-cita. Ada pula “Pak Gempa” karya Endik Koeswoyo dan Diyan Bijac dengan tokoh utama bernama Bapak Gempa Melanda Hadiningrat. Narasi yang disampaikan pak Gempa seakan menjadi refleksi suara hati para korban. Hanya dalam sesaat ia kehilangan rumah dan (mungkin) sebagian anggota keluarganya. Secara cerdik pembaca diajak melihat pengalaman sehari-hari para korban. Katakanlah kesulitan mendapatkan bahan pangan dan sandang, karena harus melengkapi ketentuan administrasi.

Namaku Tini” dipersembahkan oleh Anto Garang dengan ilustrasi yang sangat realis. Seorang gadis cilik menyesali sikap manja dan merajuk kepada kedua orang tuanya. Tanpa disadari ia berdo’a kepada Tuhan agar ia dapat pergi meninggalkan ayah ibunya. Beberapa jam kemudian musibah datang dan kini ia sebatang kara, menyesali bahwa apa yang ia harapkan menjadi kenyataan.

Nampak pula “Asa” karya Aziza Noor dengan gaya ilustrasinya yang khas, namun kini tanpa kata. Empat halaman penuh gambar tanpa teks sudah cukup menyampaikan pesan. Zacky secara cerdas mampu merangkaikan kata-kata dan gambar pada “Suatu Saat di Jogja”. Sulitnya bantuan menjangkau wilayah terpencil, atau para pejabat, artis atau anggota partai yang berbondong-bondong menyerahkan bantuan sambil direkam kamera TV.

Sedikit berbeda dengan Anto Motulz dalam “Tragedi di Sebuah Jembatan” yang mengambil kisah sempalan pengalaman para pengemudi truk bantuan kemanusiaan. Peristiwa nyaris celakanya para pengemudi bersama truk saat jembatan roboh adalah salah satu contoh peristiwa yang dapat saja terjadi saat itu.

Komik yang membuat kita membaca ulang beberapa kali mungkin hanya “Tidur Panjang” karya Beng Rahadian. Rangkaian gambar surealis tanpa teks nampak sangat sulit dicerna para awalnya. Namun perlahan pembaca dapat merasuk ke dalam pesan yang ingin disampaikan. Selain mereka semua, masih ada pula karya Mansjur Daman, Injun, Tita, dan lain sebagainya. Tak banyak komik bertema memoir di Indonesia, termasuk dengan tema musibah bencana alam.

Apa yang dilakukan para komikus ini patut mendapat pujian. Sebuah rasa simpati kepada saudara kita yang tertimpa musibah dapat direfleksikan dalam berbagai rupa. Disini kita menyaksikan bahwa sebuah (kompilasi) komik juga dapat berbuat banyak untuk memberikan semangat hidup kepada para korban.

MALAM SEJUTA BENING: KONSER KEENAN NASUTION

Monday, May 21st, 2007

Jakarta, 5 Mei 2007
Malam itu saya bersama istri berangkat ke Balai Kartini untuk menyaksikan konser Keenan Nasution. Kami berdua sangat antusias, karena konser bertepatan dgn ultah pernikahan kami. Jadi bolehlah saya mengatakan bhw konser ini dipersembahkan kepada kami berdua=)

Tiba di Balai Kartini agak sulit mendapat parkir. Sementara berkeliling, nampak Fariz RM dan Oneng sedang berjalan menuju lantai atas. Beruntung kami dapat satu tempat kosong, dan segera bergegas ke ruang pertunjukan. Sesampainya disana ruang lobby nampak mulai ramai. Saya sempat bertemu dengan dua orang kawan lama, Denny Sakrie dan Indra Kusuma. Tidak jauh nampak counter penjualan pre-order CD Boxset Keenan Nasution mulai ramai. Tanpa pikir panjang saya mengisi formulir dan membayar lunas Rp 350.000,- untuk 2 keping CD, plus box, plus booklet, plus kantong yang semuanya berwarna hitam doff dengan ilustrasi karya Gauri Nasution. Wah keren banget deh. Sample buku bisa dibaca-baca, dan daftar lagu dalam 2 CD cukup memuaskan (walaupun ada beberapa lagu baru yang saya ngga kenal).

Lepas dari counter CD, kami bergegas ke lantai 2 (balkon), tempat kelas silver berada. Sementara mengantri tampak wajah-wajah 60’s dan 70’s diantara mereka. Tapi rasanya generasi 80’s adalah mayoritas. Setidaknya tercermin dari banyaknya rekan semasa SMA bertemu disini. Kami sempat mendapat tempat duduk yang kurang strategis. Tapi segera pindah ke deretan lebih depan yang ternyata kosong. Jadilah pemandangan yg lebih jelas, walaupun ada yg mengganggu. Dari posisi balkon, tempat dudukan lampu2 sorot mengganggu pemandangan menuju layar/ screen. Saat demo screen, kekhawatiran ini terbukti. Tapi kami enggan pindah lagi lebih ke bawah, karena pada barisan dibawah kami pandangan terganggu dengan pegangan pagar balkon berwarna chrome. Batas pagar ini membuat penonton sulit melihat wajah-wajah para musisi di panggung.

Acara dimulai terlambat sekitar 40 menit. Penonton mulai memberi celetukan lucu-lucu. Dibuka dengan Overture oleh band pimpinan Indro plus orkestra. Wah mixing suaranya keren banget! Akustik ruangannya juga bagus sekali! Ini adalah pengalaman pertama nonton di Balai Kartini yang baru, dan sangat memuaskan. Aransemen Overture nya bagus banget. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan trio Agus Wisman, Rita Effendi & Yana Julio membawakan Jamrud Khatulistiwa dengan sangat memukau. Cuma tiga orang tapi suaranya penuh!

Tak lama tampil ADA Band membawakan dua lagu, Adikku dan Telaga Merah. Mungkin mereka hadir untuk merangkul penonton generasi muda. Tapi aransemen ADA Band ditelinga saya terasa membosankan, terutama pada lagu kedua. Penampilan mereka tidaklah jelek, tapi bagi saya mereka monoton.

Kemudian tampil Nugie yang tampil luar biasa bagus malam itu. Membawakan sebuah lagu (rasanya berjudul Life Style) dan duet dengan Keenan berjudul Sang Pencipta, sebuah lagu baru karya Keenan. Kolaborasi mereka indah sekali. Lagu Sang Pencipta akan dirilis dalam boxset pada awal Juli 2007. Belakangan tampil kembali trio Agus Wisman, Rita Effendi & Yana Julio menyanyikan lagu Di Batas Angan-Angan. Emang trio ini nggada matinya. Keenan tampil lagi diiringi solo gitar Denny TR membawakan Apa Yang Telah Kau Buat.

MC Indra Herlambang mulai menceritakan peristiwa-peristiwa lucu masa lalu. Misalnya pengalaman Gilang Ramadhan saat menonton konser Keenan tahunan lampau. Konon sehabis pertunjukan itulah Gilang bercita-cita ingin menjadi drummer. Gilang dan Keenan pun ber-drum duet dan kolaborasi keduanya sangat interaktif dan mengagumkan. Keduanya masih lanjut mengiringi penampilan putra Keenan bernama Daryl dan seorang sahabatnya. Permainan gitar keduanya benar-benar luar biasa, dan dalam waktu dekat akan dirilis albumnya. Musiknya sendiri adalah rock, dengna produser Gilang Ramadhan. Ditelinga saya, sebagian riff pada lagu Sobat terdengar khas musik 80’s dengan sound zaman sekarang.

Keenan duet lagi, kini bersama Marcell menyanyikan hits Gang Pegangsaan berjudul Dirimu. Sudah pasti mendapat sambutan sangat meriah dari penonton. Terdengar vokal Keenan masih prima, walaupun sudah tampil lebih dari satu jam. Marcell melanjutkan secara solo dengan lagu Cakrawala Senja.

Bagi sebagian orang, terutama penggemar Keenan era awal, acara masuk ke saat yang paling ditunggu. Satu per satu personil Gang Pengangsaan naik panggung: Odink Nasution, Gauri Nasution, Fariz RM, Debby Nasution dan Raidy Noor. Bersama Keenan mereka memainkan lagu solo Keenan yang sering luput dari perhatian, Negeriku Cintaku. Bagi saya, ini adalah mimpi jadi kenyataan karena sudah lama merindukan lagu ini. Walaupun sering mendengarkannya melalui iPod, tapi tetap saja menyaksikan live pengalaman berbeda. Terakhir menyaksikan Gang Pegangsaan adalah saat mereka konser di News Café Kuningan sekitar tahun 1995/ 1996.

Kini giliran Gipsy Band yang personilnya mirip-mirip Gang Pegangsaan. Selain Keenan, Gauri, Odink, ada juga Tammy pada saxophone dan Harry Sabar pada drums. Sayang Onan tidak hadir. Terakhir saya menyaksikan konser Gipsy beberapa bulan lalu di Café Bug’s. Saat itu alm Chrisye juga hadir dan ikut menyanyikan satu lagu. Gipsy hadir membawakan lagu BST: I Love You More Than You Ever Know. Kali ini tampil paduan suara dan orkestra. Suasana blues mengaroma diruangan Balai Kartini, dan untuk kesekian kalinya saya harus hormat kepada Gipsy. Mereka nggada matinya! Sayang gitar Gauri dan bass Raidy tidak begitu terdengar.

Setelah ini adalah penampilan yang paling ditunggu-tunggu. Guruh Gipsy! Saya tidak tahu apakah Guruh Gipsy pernah konser setelah album 1976? Jika tidak pernah, maka inilah penampilan pertama mereka. Memang sekitar 1995 Keenan dan Chrisye pernah tampil di….pelataran Candi Prambanan rasanya menyanyikan Indonesia Maharddika dan Chopin Larung. Tapi saat itu mereka tidak tampil bersama Guruh Gipsy. Saya mesti bongkar lagi rekaman kaset dari TV saat itu.

Indra mengajak Keenan dan Sys NS berbincang-bincang seputar Guruh Gipsy. Sys NS banyak bercerita peristiwa-peristiwa lucu ke sekitar 20-30 tahun lampau. Kecuali Guruh dan alm Chrisye, semua personil Guruh Gipsy tampil: Odink, Keenan, Ronny Harahap, Abadi Soesman, ditambah Raidy Noor menggantikan Chrisye pada bass. Masih juga pasukan gamelan Bali ikut meramaikan panggung. Jika saya tak salah lihat, Kompyang Raka ikut berada diantara mereka. Nyaris lengkap sudah formasi Guruh Gipsy. Lagu pertama, Chopin Larung dipersembahkan kepada alm Chrisye. Keenan mengambil posisi vokal menggantikan Chrisye. Agak merinding saya mendengarkan lagu ini, mungkin karena ini pertama kalinya menyaksikan langsung. Selama ini lagi-lagi hanya melalui CD hasil transferran dari kaset.

Guruh Gipsy masih menyihir penonton dengan lagu fenomenalnya Indonesia Maharddika. Lagu epik yang aslinya berdurasi 15 menit ini sedikit dipersingkat, tapi tanpa melupakan segala kemegahannya. Terutama karena paduan suara dan orkestra yang luar biasa prima. Ronny Harahap sempat bercerita proses pembuatan lagu ini, termasuk intro yang terinspirasi sebuah lagu disko dan lirik yang berupa inisial para personil Guruh Gipsy. Bagi saya, kedua lagu Guruh Gipsy ini benar-benar mengobati kerinduan selama bertahun-tahun. Sayang bass Raidy Noor lagi-lagi sering terganggu.

Kini memasuki akhir pertunjukan, sudah pasti lagu hits Nuansa Bening. Lagu yang tak pernah bosan didengar ini ternyata aransemennya dibuat oleh Addie MS. Ia tampil mengisi grand piano, mengiringi Keenan dan trio Agus-Rita-Yana.

Pertunjukan Keenan dan teman-temannya seakan memberi pesan kepada kita, bahwa berkarya haruslah total. Keenan mengenang masa-masa dimana lirik lagu sangat puitis, dan tidak blak-blakan seperti masa kini. Penampilan para musisi senior juga menunjukan kepiawaian dan profesionalitas bermusik, sesuatu yang belum tentu bisa ditiru oleh musikus masa kini yang cenderung mengambil jalan pintas dalam industri musik.

Bang Keenan, saya berdua istri mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas keindahan kado pernikahan ini. Nanti kalo launching album boxset itu pake konser lagi ngga?

INTAN PERMATA RIMBA: KOMIK STRIP HANS JALADARA

Wednesday, May 16th, 2007

dipublikasikan di harian Koran Tempo Minggu, 29 April 2007

“Kini saya melihat adegan silat dalam komik tak lagi perlu bersimbah darah.”

Mereka yang kadung komik Indonesia sejak akhir dekade ‘60an tentunya masih ingat dengan serial komik Panji Tengkorak, Walet Merah dan Rase Terbang. Popularitas serial komik inilah yang mengharumkan nama Rianto Sukandi alias Hans Jaladara (60) sejajar dengan Ganes Th, Jan Mintaraga ataupun Teguh Santosa. Disaat para maestro seangkatannya sudah tiada, pensiun ataupun beralih profesi, seakan tiada hari tanpa komik bagi Hans.

Sejak 1968 nyaris ia menggeluti dunia komik tanpa putus. Sudah setahun terakhir ini karya teranyarnya, Intan Permata Rimba, hadir setiap hari disebuah harian di kota Semarang, Jawa Tengah. Hingga hari ini, Intan Permata Rimba sudah menembus jumlah halaman ke-400. “Saya merencanakan total halaman sejumlah 700an. Kira-kira setahun lagi,”ungkap Hans Jaladara saat dikunjungi di rumah, sekaligus studionya, di perumahan Taman Yasmin Bogor. Bagi komikus generasi sekarang, mungkin ngomik sepanjang 700 halaman adalah sesuatu yang berat, monoton, dan menguras ide. Namun bagi Hans bercerita dan menggambar sepanjang lebih dari 1000 halaman-pun bukanlah tugas yang berat. “Komik Walet Merah (1973) saya buat sedikit diatas 1000 halaman, sedangkan Panji Tengkorak sekitar 500 halaman saat saya re-make tahun 1997”. Sudah dapat anda bayangkan bahwa Intan Permata Rimba akan menjadi komik Indonesia termahal sepanjang masa. Untuk mendapatkan selembar halaman, pembaca harus merogoh kantong sebanyak Rp 2.000,- setiap harinya untuk mendapatkan korannya.

Hans mengaku Intan Permata Rimba terinspirasi saat dia membaca lagi serial komik Tarzan yang pernah diterjemahkan oleh sebuah harian saat ia masih remaja. “Saya memang sangat mencintai nilai-nilai yang ditanamkan disitu, diantaranya manusia harus mencintai binatang. Bukan menyiksanya. Nilai moral yang dijunjung Tarzan pun luhur. Belum terkontaminasi dengan nilai-nilai manusia kota,” ujar Hans, “Karena nostalgia inilah saya mendapat ide untuk mengadaptasi nilai-nilai moral tsb ke dalam serial komik yang baru ini.” Tidak perlu membaca Intan Permata Rimba berlama-lama untuk mengetahui tokoh utamanya memang dibesarkan ditengah hutan, berkawan dengan hewan, dan memiliki nilai moral yang bersih.

Ia sebenarnya hendak membuat sekuel Panji Tengkorak, saat dilamar oleh pihak redaksi. Namun inspirasi komik Tarzan, serta kritik dari istri tercintanya, yang menguatkannya membuat Intan Permata Rimba. “Pihak redaksi memberikan saya kebebasan tema apapun yang ingin saya buat. Begitu pula dengan jumlah halaman. Beberapa kritik pembaca juga disampaikan kepada saya. Seperti umumnya pembaca, ada pro dan kontra. Namun saya selalu senang mendengarnya, karena ini dapat memotivasi saya untuk selalu meningkatkan kualitas cerita dan gambar,”kisah Hans ketika bercerita awal mula pemuatan komik bersambung ini. Terbukti keputusan ini adalah tepat dan Intan Permata Rimba memberi warna tersendiri bagi blantika komik nasional.

Saat diwawancara Hans sedang merampungkan beberapa halaman dan sudah siap dikirim ke redaksi koran di Semarang. Sebagian cerita sudah mulai terungkap titik terangnya, dan Hans memberikan sedikit bocoran. Jalinan cerita yang panjang dan berliku sudah menjadi ciri khas Hans. Kecintaannya membaca cerita silat juga menambah kaya imajinasinya. Beberapa tokoh kunci sudah dimunculkan, konflik mulai berbenturan, dan perburuan mencari Permata Sisik Naga yang diperebutkan seluruh tokoh silat mulai mengerucut. Sang tokoh utama, Intan, mulai menyingkap pentingnya permata bagi mereka yang berhasil menguasainya. Beberapa kejutan sudah menanti dan Hans mengajak pembaca untuk menikmati hari demi hari lembaran komiknya.

Jika dirunut sejak 1968, nyaris tidak ada hari istirahat bagi Hans. Selama dekade ‘70an dan ‘80an beliau gencar dengan tema silat. Hans juga pernah mencoba tema drama remaja. Bahkan ia memenuhi awal karirnya dengan tema roman. Kini ia juga secara rutin membuat komik pendidikan anak bagi komunitas rohaninya, yang kerap menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai luhur. Hans juga dikenal dengan interpretasi ulangnya terhadap Panji Tengkorak (1968), serial komik yang ia sendiri ciptakan, sebanyak dua kali (1985 dan 1997). Budayawan pemerhati komik, Seno Gumira Ajidarma, mengangkat keunikan ini dalam disertasi doktoralnya. Siapapun akan kagum melihat bagaimana seorang Hans Jaladara tidak hanya menggambar ulang, tapi ia mampu mengikuti perkembangan zaman, dengan memberi banyak perubahan pada Panji Tengkorak. Perubahan inilah, terutama dari segi visual, yang kerap dikritik pembaca setia sejak era Panji Tengkorak. Banyak yang mengatakan Hans kini sudah terpengaruh manga Jepang. Padahal Hans hanya menyederhanakannya tanpa menghilangkan keunggulan lainnya. Nampak pula berbagai kerumitan yang jarang ditemukan di komik manga.

Bagi Hans membuat komik bersambung bukanlah pekerjaan yang mudah. Ini adalah pengalaman pertamanya. “Saya mencoba untuk mengadaptasi pendekatan komik strip. Seringkali saya kesulitan dan akhirnya membuat setiap halaman selayaknya saat membuat buku komik. Namun saya terus mencobanya karena pendekatan komik strip adalah tantangan baru buat saya,” jelas Hans saat ditanya tentang pakem komik strip yang mampu mempertahankan emosi pembacanya setiap lembar. Hans adalah penggemar berat komik strip serial Garth (karya Frank Bellamy) atau karya maestro Indonesia lainnya seperti Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn. Ia juga kerap mengisi hari-harinya dengan melukis, bilamana ia sedang jenuh ngomik. Kini ia sedang mencoba-coba membuat patung figurine Panji Tengkorak. “Saya tertantang setelah melihat betapa bagusnya figurine komik-komik Amerika dan Jepang disebuah toko. Tapi ini masih contoh kasar, masih perlu penghalusan,” ungkapnya dengan senang saat memamerkan buah karya terbarunya.

Kecintaan Hans pada dunia sinema juga terungkap dalam berbagai susunan panel yang membuat pembaca serasa sedang menonton film di bioskop. Kepiawaian Hans pada panel sinema ini sebenarnya lebih dieksplorasi dalam serial lainnya, Malaikat Pedang Buntung, yang hadir bersambung disebuah majalah komik. Perbedaan kedalaman eksplorasi ini dilakukan karena perbedaan format media dan segmen pembacanya. Format bersambung pada media koran harian memberinya keterbatasan sekaligus keleluasaan.

Menyadari bahwa pembaca koran nyaris merambah semua lapisan umur dan strata sosial masyarakat, Hans menunjukan profesionalitasnya. Sedapat mungkin ia menghindari visualisasi kekerasan. Bahkan tokoh utama Intan tidak pernah sekalipin membunuh manusia. Apapun alasannya. Adegan kekerasan dan bersimbah darah pun sedikit ditemukan. “Saya memang berbeda dibandingkan, katakanlah, 30 tahun yang lalu. Ketika itu Panji Tengkorak kerap penuh kekerasan. Tapi setelah bertambah usia, saya menyadari bahwa suatu cerita kekerasan tidak perlu divisualisasikan seperti itu. Apalagi jika melihat berbagai sinetron televisi yang akrab dengan sensualitas dan kekerasan, saya tidak ingin menyampaikan moral yang merusak pembaca.”

Sudah mendekati 40 tahun perjalanan karir Hans Jaladara, namun kiprahnya dalam komik tak mampu ditandingi oleh komikus manapun di Indonesia. Makin hari kualitasnya semakin meningkat. Berbagai ide dan inovasi ia coba lakukan dalam setiap karyanya. Inovasi, produktivitas dan profesionalisme inilah yang membedakannya dengan maestro komik lain seangkatannya. Hans mampu mengikuti perkembangan zaman, tanpa harus meninggalkan ciri khasnya. Sikap dan semangat inilah yang patut dicontoh seniman manapun.