Archive for April, 2007

JAVA JAZZ 2007

Sunday, April 8th, 2007

dipublikasikan pertama kali di majalah Sound Up, edisi Maret 2007

“Ayah, Irma disini ya…nonton Maliq & D’Essentials!”
“Iya, 30 menit lagi Ayah nonton Gino Vannelli. Nanti kalo sudah selesai, kamu ke Gino aja. Sms Ayah ya? Kamu hati-hati disana!”

——

Itulah sekelumit percakapan unik antara seorang ayah dan putrinya di Java Jazz Festival 2007. Pentas jazz skala internasional yang diadakan di kota Jakarta, 2-4 Maret 2007 tidak hanya menjadi konsumsi individu. Pentas ini sudah menjadi acara keluarga. Sang ayah menonton artis A, istri menonton artis B, sedangkan anak-anaknya yang ABG menonton artis C. Semua pada hari yang sama. Aneka ragam artis yang tampil memang memungkinkan satu keluarga menonton bersama. Setidaknya datang dan pulang bersama, karena setibanya di venue, mereka akan berpencar sesuai dengan selera musik masing-masing.

Keanekaragaman ini juga yang ditonjolkan oleh pihak penyelenggara dalam memilih sub-genre musik jazz. Ada reuni Karimata, reuni Emerald, Bazzattack, Jeff Lorber, Eric Marienthal, Dave Weckl dan Marcus Miller yang mengusung jazz fusion. Ada Geliga dan reuni Krakatau yang mengusung jazz etnik. Ada jazz bossas yang dikomandani Sergio Mendes. Ada acid jazz yang dimotori reuni The Groove dan Ecoutez. Ada jazz pop yang dibawa oleh Gino Vannelli, Chaka Khan, Jeffrey Osborne dan Deniece Williams. Ada legenda jazz seperti Airto Moreira, Flora Purim, John Scofield, Kenny Rankin dan Rien Djamain. Ada pula funk jazz yang digawangi Level 42. Singkatnya, apa yang anda mau, semua ada disana.

Java Jazz Festival sudah dipandang oleh komunitas pecinta jazz mancanegara sebagai, setidaknya, acara jazz terbesar di Asia. Ada juga yang mengatakan masuk dalam daftar 3 besar di dunia. Tahun ini ratusan musisi dari seluruh dunia tampil di 15 panggung. Tentunya penyelenggaraan seakbar ini membutuhkan perhatian ekstra khusus. Faktor keamanan sudah terlihat menjelang hari H. Mulai dari artis, panitia, sampai wartawan benar-benar harus terdaftar. Tidak hanya diberikan kartu identitas, namun masih ada pula wrist-band yang wajib pakai selama 3 hari acara. Susunan acara dan konferensi pers senantiasa dimutakhirkan setiap saat. Layar plasma diseantero kompleks Jakarta Convention Center tersedia untuk menampilkan jadwal siapa tampil dimana. Food court juga tersedia dengan aneka ragam pilihan. Namun sebaik-baiknya suatu rencana, tetap saja ada kekurangan. Gangguan teknis dibanyak panggung mengakibatkan banyak sekali jadwal yang terlambat. Masalah kebersihan juga mengganggu. Semoga panitia mengevaluasinya secara menyeluruh dan membuat perencanaan yang lebih baik untuk tahun 2008.

SERGIO MENDES
Pertunjukan utama di hari pertama sudah terasa atmosfir positif. Ruang arena termasuk balkon, nampak sesak oleh penonton. Sebelumnya Chairman JJF 2007, Peter F. Gontha, memberikan sebuah piala penghargaan kepada Sergio Mendes atas kontribusinya selama ini di pentas musik jazz. Beberapa repertoire dilayangkan Sergio Mendes beserta pasukannya. Diantaranya tembang lawas The Look of Love dan Fool On The Hill, serta Waters of March dan Magalenha, serta smash hit terakhirnya (yang sebenarnya lagu lama dengan aransemen baru) Mas Que Nada.

RIEN DJAMAIN
Biduan veteran Indonesia ini tampil kembali setelah menghilang beberapa dekade. Menampilkan lagu-lagunya dari era 70-an, Rien Djamain mampu berkomunikasi dan bernostalgia dengan penonton. Lagu-lagu seperti Maafkan Daku, Sabda Alam, Potret Kasihku, Luka, Selamat Tinggal Kasih dan juga lagu andalannya Api Asmara, membawa penonton ke romantisme 30 tahun yang lalu. Tak lupa Rien Djamain mengenang masa-masa indah karirnya bersama alm. Jack Lesmana.

KENNY RANKIN
Gitaris akustik ini didampingi perkusionis handal Airto Moreira, dan membawakan lagu-lagunya dengan sangat syahdu. Bahkan aransemennya pada lagu Blackbird, Penny Lane dan While My Guitar Gently Weeps (semuanya milik Beatles) dan Why Do Fools Fall In Love (dipopulerkan oleh Diana Ross) terasa sangat segar dan merdu di telinga.

VICKY SIANIPAR
Mengusung jazz etnik berbagai sudut negeri Indonesia, benar-benar membuktikan bahwa Vicky Sianipar tidak main-main dalam berkreasi. Salah satunya lagu Burung Camar (dipopulerkan oleh Vina Panduwinata) disulap menjadi penuh kejutan.

LEVEL 42
Panggung utama Plenary Hall terasa sangat penuh saat Mike Lindup dan Mark King cs ini tampil. Dengan kondisi prima, mereka membawakan lagu-lagunya seperti Hot Water, Love Games, To Be With You, World Machine,  Starchild, hingga Lessons In Love, Something About You, Chinese Way, dan beberapa lagu dari album terbaru, Retroglide. Tak henti-hentinya penonton ikut berlantun, walaupun agak asing dengan lagu-lagu terbaru.

GINO VANNELLI
Melegenda sejak pertengahan 70an ini sangat dinantikan banyak orang. Rata-rata berusia 30-40an sudah mengantri didepan pintu masuk, bahkan 45 menit sebelum pertunjukan mulai. Tampil dengan pakaian santai namun seksi serba hitam, Gino Vannelli memadukan kombinasi hits awalnya seperti Brother To Brother, Living Inside Myself, I Just Wanna Stop, Black Cars sampai Canto dan Venus Envy. Memang dalam banyak lagu kunci nada diturunkan, namun kualitas suaranya tetap prima. Bahkan pada saatnya ia berfalsetto-ria, nampak Gino Vannelli tak ada matinya. Nampak para musisi senior hadir di JJF 2007 khusus untuk menyaksikan sang legenda.

AIRTO MOREIRA dan FLORA PURIM
Dua legenda jazz asal Brasil yang juga suami-istri ini menunjukan kepada pecinta jazz Indonesia, bahwa jazz sungguh kaya akan unsur tradisional dan dapat ditampilkan secara cantik serta menghibur. Sudah lebih dari tiga dekade mereka berkarya, dan seakan tak pernah pudar kharismanya. Airto berhasil memperkaya wawasan penonton bahwa dengan instrumen perkusi tradisional, sebuah komposisi jazz bisa menakjubkan.

KAHITNA
Tampil dengan formasi lengkap, Kahitna membawakan lagu-lagu terpopulernya dengan beberapa variasi jazz. Kehadiran mereka membuat pentas JJF 2007 semakin marak, terutama dengan penampilan prima Hedy Yunus, Yovie Widianto, dan rombongannya.

JEFF LORBER
Penampilan musisi jazz fusion ini tak pernah mengecewakan, apalagi ia kali ini didampingi musisi senior seperti Eric Marienthal dan Dave Weckl. Bayangkan saja seakan-akan ini adalah penampilan Jeff Lorber and The Elektrik Band

GELIGA
Jazz fusion etnik asal Pekanbaru Riau ini juga tak mau kalah bersaing dengan para koleganya. Mereka mengusung jazz dengan sentuhan musik tradisional Melayu, terasa semakin sempurna dengan cengkok sang vokalis yang memang terasa sangat Melayu. Peran pemain akordeon memainkan melodi khas Melayu semakin memantapkan identitas mereka. Sebagian besar lagu yang dibawakan adalah materi dari album kedua yang rencananya akan dirilis pada tgl 27 Maret 2007 di Hotel Aryaduta Pekanbaru.

INDRA LESMANA & BROTHERS OF REVOLUTION
Sang Anak Ajaib, Indra Lesmana, kembali memimpin serombongan musisi berjazz-ria dengan didampingi Humania, Mike Mohede, Glenn Fredly dan Marcel. Sambutan penonton sangat meriah terutama dengan antusiasme menantikan penampilan perdana duo Humania setelah absen bertahun-tahun.

MALIQ & D’ESSENTIAL
Grup yang sedang naik daun dalam 3 tahun terakhir ini menyedot perhatian penonton muda, apalagi bersamaan dengan dirilisnya album terbaru mereka. Ruang pertunjukan nyaris penuh sesak, karena tak ada tempat kosong untuk berleha-leha.

HYPERSAX
Ensemble mini big band ini adalah band pembuka di hari pertama, dan tampil di lobby utama persis menyambut tamu datang. Panitia JJF 2007 sungguh tepat menjadikan mereka band pembuka, karena terbukti benar-benar memukau dan luar biasa bagus.

BAZZATTACK
Jazz fusion yang sebagian anggotanya berasal dari Bali mampu menghadirkan kerinduan penonton akan sub genre musik ini. Sisipan musik etnik Bali pun terasa disana-sini dan ini membuat keanekaragaman JJF 2007 semakin terasa. Bazzattack sendiri tak menyangka sambutan penonton akan semeriah ini.

DAVID BENOIT feat. MICHAEL PAULO bersama MAGENTA ORCHESTRA
Walaupun masyarakat pecinta jazz Indonesia sudah akrab dengan pianis David Benoit, tetap saja penampilannya malam itu sangat ditunggu penonton. Kali ini ia diiringi mini big band Magenta Orchestra membawakan banyak karya baru dan lama yang diaransemen ulang. Kehadiran saksofonis Michael Pauolo menambah semarak penampilan mereka semua.

THE GROOVE
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, seluruh personil The Groove tampil bersama dalam satu panggung. Ruangan Cendrawasih menjadi saksi reuninya beberapa band legendaris jazz Indonesia (Krakatau, Emerald dan Karimata). Penonton tak henti-hentinya bernyanyi bersama Rieke Roslan dan Reza, saat mereka berdua melantunkan seluruh hits The Groove.

EMERALD
Band kecintaan generasi akhir 80an dan awal 90an ini juga salah satu reuni yang dinantikan. Penonton sudah dengan sabar menanti mereka berlima sejak 30 menit sebelumnya. Dimotori oleh vokalis Ricky Johannes, Emerald tampil prima malam itu dan juga membawakan lagu andalannya Hanya Khayalan.

KRAKATAU
Walaupun sebenarnya ini adalah proyek milik Irvan Chasmala, dan juga minus vokalis Trie Utami, reuni Krakatau tetap ditunggu pecintanya. Dwiki Darmawan, Indra Lesmana, Pra Budi Darma dan Donny Suhendra kembali bersama walaupun hanya sesaat. Di akhir acara, vokalis Krakatau kini Ubiet mengajak penonton untuk menjelajah musik jazz etnik.

KARIMATA
Highlight terakhir reuni band jazz Indonesia 80an adalah persembahan Barry Likumahuwa dan rekan-rekan. Menampilkan berbagai hits instrumental Karimata, termasuk yang berlirik seperti Masa Kecil (Andien), Rainy Days and You (Mike Mohede), Rintangan (Cindy dan Mike Mohede) dan Kisah Kehidupan (Ello) mereka tampil prima. Berbagai ragam variasi menambah semaraknya musik A Tribute To Karimata. Kejutan ditengah acara adalah hadirnya Erwin Gutawa, Aminoto Kosin, Uce Hariono dan Denny TR membawakan dua buah lagu, Rindu dan Why Not. Sayang Candra Darusman masih bertugas di negeri Swiss.

JAMIE CULLUM
Penampilan yang paling ditunggu tentu saja sang entertainer jazz muda asal Inggris, Jamie Cullum. Tampil atraktif dan menghibur, ia menyihir ribuan penonton di Plenary Hall dengan suara dan permainan pianonya yang luar biasa. Ia pun tahu kapan harus berhenti bermain dan berakrobatik ria di atas panggung. Bahkan dalam perjalanan menuju dan seusai konferensi pers, Jamie Cullum masih dikejar ratusan fansnya.

Masih banyak lagi penampilan seperti Sadao Watanabe, Chaka Khan, Titi DJ, Melly Goeslaw, Deniece Williams, Richard Bona, Lisa Ono, Marcus Miller, John Scofield, Tortured Soul, Bubi Chen, Jopie Item, Kyle Eastwood, Ron Carter, Harvey Mason  dan puluhan artis lainnya yang memperkaya penyelenggaraan tiga hari Java Jazz Festival 2007. Saat ini sudah mulai beredar siapa saja artis yang sedang dijajaki untuk pentas tahun depan. Tapi sebaiknya kita tunggu saja berbagai kejutan di Java Jazz Festival 2008. Tidaklah berlebihan jika masyarakat internasional ingin menobatkan Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan untuk memperluas khasanah musik jazz.

Sampai bertemu di Java Jazz Festival 2008!

MODESTY BLAISE DAN TARA CHASE: DALAM KOMIK

Sunday, April 8th, 2007

dipublikasikan pertama kali di harian Koran Tempo Minggu, suplemen Ruang Baca, edisi Maret 2007

Kelak ia menjadi panutan dan inspirasi bagi tokoh-tokoh fiksi wanita berkarakter kuat lainnya.

Kisah petualangan detektif dan spionase selalu menarik untuk diikuti. Film serial layar lebar James Bond selalu dinantikan penggemarnya. Begitu pula dengan film seri televisi seperti Mission: Impossible, The Avengers, dan lainnya. Namun bagaimana dengan seni komik?

Tokoh Agen 327 yang dibuat oleh Martin Lodewijk membuat kita terbahak-bahak mengikuti sepak terjang agen dinas rahasia asal Belanda ini. Walaupun ia lebih tepat berprofesi sebagai agen intelijen, dan kenyataannya ia sering melakukan tindak mata-mata. Beberapa waktu lalu Agen 327 kembali terbit dengan sebuah kisah yang menghebohkan: lukisan asli tapi palsu yang dilakukan kloning maestro pelukis Van Gogh di abad 21. Pada majalah yang sama, Eppo, juga terbit serial Danny & Katya yang penuh dengan aksi spionase sepasang sahabat yang terkadang ada bumbu asmara. Beberapa dekade sebelumnya Detective Comics (cikal bakal penerbit DC Comics, Amerika Serikat) sudah kadung setia dengan berbagai komik detektif dan spionasenya.

Serial graphic novel Fables karya Bill Willingham juga merombak karakter tokoh dongeng Cinderella. Dikisahkan ia tidak lagi seorang putri yang hidup tenteram bersama pangerannya. Ia telah bercerai dan menekuni dunia spionase, bela diri dan senjata. Cinderella melaksanakan tugas atas nama komunitas Fables dalam rangka perlawanan terhadap Gephetto, yang telah mengerahkan pasukannya membumihanguskan banyak kerajaan tokoh dongeng. Petualangan spionase juga tergambar secara kocak pada kedua detektif Thompson dan Thomson. Memang Herge menjelaskan mereka berdua adalah anggota dinas rahasia dan kerap membantu Tintin. Namun dalam banyak kesempatan mereka juga melakukan usaha mata-mata, yang selalu gagal karena ulah mereka sendiri.

Pernah pula terbit sebuah komik spionase dimana seorang utusan kerajaan Inggris diutus untuk menyusup ke markas NAZI dan membunuh Adolf Hitler. Saat sekarat terkena radiasi percobaan nuklir dan hanya punya sebuah peluru di pistolnya, ia harus memilih: Adolf Hitler atau sang ilmuwan bom atom Jerman? Satu peluru itu dihujamkan ke tubuh sang ilmuwan, dengan alasan jika ia mati Jerman tidak lagi memiliki harapan menang Perang Dunia II. Komik ini pernah diterbitkan di majalah HAI.

Legenda komik Indonesia, mendiang Wid NS, juga pernah menyisipkan seorang mata-mata dalam kisah petualangan Godam. Dalam episode Bocah Atlantis, sahabat Godam yaitu Aquanus, berhasil diculik dan dibuatkan duplikatnya. Aquanus gadungan inilah yang menyusup ke lingkungan Godam, Gundala dan lainnya. Misi yang diemban tidak beda jauh dengan ciri khas seorang mata-mata: mencari informasi kelemahan musuh dan menyampaikannya kepada atasan. Memang terlihat sederhana, bagaimana Aquanus gadungan ini dicurigai karena bahasa tubuhnya yang kikuk. Maestro lainnya, Teguh Santosa, juga pernah melakukan yang sama saat ia menciptakan seorang Mahesa Rani gadungan dan nyaris membuat kerajaan Majapahit runtuh.

Diantara sekian banyak serial komik bertema spionase (memang sulit memisahkan antara spionase dan detektif), salah satu serial paling fenomenal dan terlama adalah Modesty Blaise. Mantan agen rahasia Inggris ini dikisahkan terkadang masih membantu bekas majikannya, atau teman-temannya, atau sekedar panggilan nurani. Tokoh wanita yang ditulis oleh Peter O’Donnell (dibantu banyak ilustrator) terbit dengan format comicstrip sejak 13 Mei 1963 dan nyaris tidak pernah putus hingga 2 April 2001. Dalam banyak hal kiprah Modesty Blaise mirip dengan James Bond. Walaupun secara fisik ia cantik dan indah, jarang sekali Modesty Blaise menggunakan kecantikannya dalam aksi spionase. O’Donnell menanamkan kepada Blaise keunggulan lainnya, termasuk tarung jarak pendek, kecerdasan otak dan karakter yang kuat. Profil inilah yang membuat Modesty Blaise kelak menjadi panutan dan inspirasi bagi tokoh-tokoh fiksi wanita berkarakter kuat lainnya. Tidak hanya dalam dunia spionase seperti halnya Emma Peel (serial TV The Avengers), tapi juga Xena: The Warrior Princess, Buffy: The Vampire Slayer, Lara Croft, Elektra dan Sydney Bristow (serial TV Alias).

O’Donnell mengakui bahwa ia terinspirasi oleh Ian Fleming yang sukses dengan tokoh James Bond. Tapi ia tidak ingin menciptakan tokoh wanita yang sekedar unggul karena kecantikannya. Episode pertama yang terbit bulan Mei 1963 adalah La Machine. Sepanjang 114 strip Modesty Blaise, dan side-kicknya Willie Garvin, diminta kembali bertugas oleh The Network untuk menghancurkan sindikat pembunuh bayaran La Machine. Pada episode perdana ini, nampak O’Donnell meramu adegan spionase, kekerasan (dilakukan sangat singkat), kecerdikan, dan unsur suspense dengan sedikit humor. Ramuan ini berhasil mengangkat Modesty Blaise ke jajaran penggemar fanatik kisah-kisah detektif dan spionase. Bahkan tahun 1966, 20th Century Fox merilis film layar lebarnya dengan bintang utama Monica Vitti.

40 tahun setelah lahirnya Modesty Blaise hadir karakter kuat lainnya, Tara Chase. Agen rahasia dan mata-mata rekaan Greg Rucka ini menjadi tokoh utama dalam serial komik Queen and Country (terbitan Oni Press). Dalam banyak hal Greg Rucka memadukan kelembutan dan sikap dingin Modesty Blaise, romantisme James Bond, kekerasan Xena The Warrior Princess, serta intrik-intrik politik dan militer gaya Tom Clancy. Berbeda dengan Peter O’Donnell, Greg Rucka merangkaikan serial Queen and Country (belakangan terbit versi novel) secara bersambung. Tara Chase mengalami beragam petualangan, ancaman, misi rahasia, intrik politik (bahkan internal Dinas Rahasia Inggris-nya), asmara, perselingkuhan, kehandalan strategi tempur dan taktis militer, gugurnya seorang sahabat, relasi dengan orang tuanya, pengkhianatan, skandal dalam pemerintahan dan lain sebagainya. Bagaikan James Bond, ia berkelana ke Afghanistan, Perancis, Russia, Zimbabwe, Switzerland dan negeri lainnya.

Salah satu episodenya, Operation: Broken Ground, berhasil memenangkan penghargaan Eisner Award tahun 2002 untuk kategori Best New Series. Berbagai artis telah membantu Greg Rucka dalam visualisasi dan seluruh seri telah terbit dalam format trade paperback sebanyak 7 buah. Ini masih ditambah dengan sempalan Queen and Country: Declassified sebanyak 3 buku. Walaupun Rucka saat ini sedang sibuk menulis kisah superhero bagi DC Comics, nampaknya film layar lebar Queen and Country sedang digodok. Forum para fans sedang sibuk menebak-nebak siap gerangan para pemeran utama. Kesibukan Rucka mengakibatkan sepak terjang Tara Chase terhenti dan direncanakan awal 2007 ini berlanjut lagi. Trade paperback terbaru, Operation: Red Panda, akan terbit bulan Juni 2007. Kali ini Tara Chase akan mendarat (walaupun terasa cliché) di Irak. Ia diutus untuk membongkar jaringan para pejabat Irak yang diam-diam membocorkan rahasia Sekutu kepada para gerilyawan.

Bagi mereka yang gandrung gaya 70an, dapat menelusuri jejak Modesty Blaise melalui serial trade paperbacknya yang sudah diterbitkan ulang. Sedangkan bagi mereka yang ingin ‘masa kini’, serial Queen and Country lebih cocok untuk anda. Yang manapun diantaranya, Modesty Blaise dan Tara Chase membuktikan bahwa dunia spionase yang dikemas dalam format komik, bisa sama menariknya dengan format novel dan layar lebar.

CARA KILAT BELAJAR SEJARAH LEWAT KOMIK

Monday, April 2nd, 2007

Dipublikasikan pertama kali di harian Koran Tempo Minggu: Ruang Baca edisi Desember 2006

Because I’ve made it my mission
to bring people the information they need to make wise decisions
about the future of the human community. I’m only trying to save
the world!”

Kalimat itulah yang terbaca pertama
kali situs resmi Larry Gonick diakses. Setelah sebelumnya
membuat seri komik ilmu pengetahuan, Gonick melanjutkannya dengan
membuat tiga volume Kartun Riwayat Peradaban (semuanya sudah
diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia).
Dengan ciri khas Gonick yang humoris, ketiga volume Kartun Riwayat
Peradaban membawa pembaca mengenal asal-usul kehidupan manusia
(dimulai dari alam semesta). Pendekatan yang humoris, serta
visualisasi yang cerdas, membuat kita lebih mudah mengenal berbagai
peristiwa bersejarah. Pendekatan ini menampik persepsi mempelajari
sejarah adalah sesuatu yang terasa membosankan. Terutama dengan media
buku-buku teks ataupun melalui bangku kuliah.

Secara cermat Gonick membeberkan
peradaban manusia satu per satu. Mulai dari kehidupan manusia
pra-sejarah, transaksi perdagangan tertua dengan sistem barter,
Sumeria sebagai awal mula peradaban manusia, Mesir kuno, kekaisaran
Cina, ajaran Buddha, kitab Mahabharata, penyebaran agama para Nabi,
kejayaan dan runtuhnya kekaisaran Romawi, serta terus berlanjut
hingga jatuhnya Grenada dan keberangkatan Christopher Columbus
mencari tanah baru. Tak lupa Gonick menyisipkan cameo ikon
komik Eropa, Asterix dan Obelix (keduanya karya
Goscinny dan Uderzo), hadir meramaikan penghancuran
Romawi di tahun 390 SM. Perjalanan panjang peradaban Romawi mengisi
nyaris setengah buku volume dua. Sebenarnya ini tidaklah berlebihan
mengingat peradaban modern bangsa Eropa dapat dikatakan berasal dari
masa kejayaan Romawi (termasuk didalamnya bangsa Yunani dan Yahudi).
Berbeda dengan bangsa Timur Tengah yang peradaban modernnya dimulai
sejak hadirnya agama Islam di abad ke-7, dan bangsa Asia Timur yang
dimulai sejak berkuasanya dinasti Qin di daratan Cina.

Peradaban modern bangsa Timur Tengah
dapat diikuti dalam buku volume tiga. Disini pemahaman awal tentang
peranan ajaran Nabi Muhammad SAW menjadi penting, termasuk
pengaruhnya kepada peradaban bangsa Eropa, Afrika dan Asia. Secara
cerdas dan unik, Gonick juga menyajikan kisah seputar banyaknya
dinasti Cina dan Mongol. Kecerdasan ini pula yang membuatnya mampu
menghadirkan ajaran Islam tanpa perlu memvisualisasi sang Nabi.
Gonick sepenuhnya paham bahwa visualisasi hanya akan menjerumuskannya
ke jurang masalah, meskipun tidak punya tendensi apapun. Khusus
perihal ini, kearifan dan kecermatan Gonick dalam memahami budaya
Timur patut dipuji.

Ilustrasi Gonick nampak sederhana,
komunikatif, imajinatif sekaligus realistis. Sangat sulit menciptakan
ratusan halaman bergambar secara konsisten, dan tetap memiliki benang
merah. Secara mengagumkan Gonick memvisualisasi keragaman arsitektur,
pakaian dan perhiasan, peralatan (termasuk senjata), kendaraan, dan
lainnya (yang mungkin saja) hasil rekaan sendiri tanpa sumber
referensi yang kuat. Sebagian fakta akurasinya diragukan. Jikapun ada
yang fiktif, rasanya bisa dimaklumi karena memang sulit sekali
mencari bahan referensi. Apalagi hingga puluhan abad sebelum Masehi.
Kemasan yang humoris dalam format kartun seakan membuat kita ‘dibawah
sadar’ sudah memaklumi jika Gonick melakukan kekeliruan secara
sengaja.

Gaya bahasa Gronick yang kocak berhasil
diserap dan diadaptasi dalam edisi terjemahannya. Sangatlah sulit
menterjemahkan bentuk-bentuk dialog penuh canda menjadi bahasa lokal
dengan esensi yang sama. Dalam banyak kasus, gaya bahasa humor sangat
dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Tidaklah mudah bagi, misalnya
orang Indonesia, memahami lelucon dalam bahasa, katakanlah, Inggris.
Meskipun yang bersangkutan dapat berkomunikasi dengan bahasa asing
tsb secara fasih. Namun memahami lelucon dalam bahasa aslinya
merupakan urusan yang berbeda. Bahkan hingga hari ini kadang masih
ditemukan terjemahan buku-buku pelajaran ataupun novel fiksi yang
amburadul. Khusus untuk ini nampaknya topi harus diangkat kepada para
penterjemah. Rasanya sulit mencari penterjemah dengan kualitas lebih
baik.

Sambil membaca ketiga volume buku ini,
salah satu pertanyaan yang terlintas adalah: siapakah sasaran
pembacanya? Usia remaja? Mahasiswa? Orang dewasa? Siapa? Persepsi
bahwa komik identik dengan bacaan anak-anak, mungkin akan membuat
buku ini seharusnya dapat dipahami kelompok tersebut. Namun materi
peradaban manusia, dengan ketebalan halaman dan ribuan panel gambar,
rasanya sulit membuat anak-anak tertarik membaca. Gaya ilustrasi yang
unik dengan dialog percakapan yang juga unik, membuat rangkaian
serial Kartun Riwayat Peradaban lebih cocok untuk pembaca dewasa.
Jika ini benar, maka serial ini semakin menguatkan justifikasi bahwa
media komik juga bisa dibaca oleh orang dewasa.

Dengan segala keterbatasan, rasanya
pembaca pun mafhum bahwa ke-tiga buku ini hanyalah sebuah
entry-point. Jika anda ingin memahami sejarah secara lebih
baik, tetaplah kembali menekuni berbagai sumber naskah dan bukti
sejarah. Mustahil pembaca bisa berkata,”Kini aku sudah memahami apa
yang telah terjadi”. Humor itu pula yang membuat pembaca terkadang
sulit membedakan mana yang fakta sejarah dan mana yang sekedar
lelucon sisipan Gonick. Keberadaan tiga volume buku komik ini memang
sangat cocok sebagai pengantar kuliah sejarah.

Kini Gonick sedang mempersiapkan sekuel
serial ini. The Cartoon History of the Modern World part 1: From
Columbus to the U.S. Constitution
sudah terbit. Sesuai judulnya
sudah dapat ditebak bahwa isinya berfokus pada sejarah bangsa Indian
dan pendudukan bangsa Eropa atas benua Amerika. Selain itu Gonick
juga menyisipkan sejarah Meksiko kuno, penemuan Galileo, Machiavelli
dan Shakespeare, reformasi kaum Protestan, termasuk awal mula
terbentuknya sistem perdagangan global. Setelah anda membaca
rangkaian Kartun Riwayat Peradaban, pelajaran sejarah menjadi topik
yang kembali menarik.

MAT JAGUNG: KOMIK MELAWAN KORUPSI

Monday, April 2nd, 2007

Dipublikasikan pertama kali di harian Koran Tempo Minggu: Ruang Baca edisi Januari 2007

“Komik tidaklah efektif memberantas korupsi. Namun komik dapat
me-rekonstruksi paradigma pembaca dalam melawan korupsi di
lingkungannya.”

Secara garis besar itulah pendapat
Radhar Panca Dahana tentang efektivitas komik sebagai media
melawan korupsi saat berbicara di forum diskusi (22/12/06) yang
diselenggarakan Akademi Samali dan Toko Buku Aksara dibilangan
Kemang. Penulis serial komik Mat Jagung (hadir tiap hari
minggu di Koran Tempo) berkisah tentang visi, suka duka, dan rencana
jangka panjang Mat Jagung, tokoh rekaannya yang senantiasa melawan
berbagai bentuk korupsi di masyarakat. “Ia berangkat dari idealisme
yang ditanamkan orang tuanya, bahwa setiap insan hendaknya senantiasa
berjuang untuk kebenaran,” papar Radhar, “Mat Jagung sering
melamun dan introspeksi. Menyadari (korupsi) yang dilawannya hanyalah
puncak dari sebuah gunung es, kadangkala nurani kemanusiaannya
muncul. Akankah kebenaran mampu menang, atau sia-siakah perjuangannya
selama ini?”

Tampil satu halaman penuh setiap
minggunya, renungan Mat Jagung seakan menjadi refleksi suara batin
sang penulisnya. “Media komik adalah media yang mengakomodir
pemutarbalikaan logika. Apapun mungkin dilakukan dalam komik,
termasuk merubah paradigma dan cara berpikir pembacanya,” yakin
Radhar. Keyakinan ini pula yang membuat sosok yang lebih dikenal
sebagai budayawan ini mencoba media komik sebagai salah satu alat
melawan korupsi. Pendekatan yang digunakan diharapkan mampu
merekonstruksi benak pembacanya dapat mencari cara ‘alternatif’
dalam melawan penyakit masyarakat ini. Perlawanan secara langsung
yang sudah dilakukan masyarakat dan negara selama ini, tidak lagi
mampu memberantasnya.

Perjuangan alternatif ini tampak jelas
dalam figur tokoh rekaannya. Mat Jagung mengajak pembacanya untuk
melihat realita bahwa korupsi sudah menjadi budaya dalam seluruh
lapisan masyarakat. Korupsi tidak lagi eksklusif milik para pemangsa
kekayaan negara, namun sudah tertanam pada diri seluruh umat. Mata
Mat Jagung mulai terbuka saat ia mendapati para pejabat negara ikut
terlibat dalam lingkaran setan. Ia pun memergoki para kolega dan
atasannya di lingkungan Kejaksaan, juga melakukan tindak korupsi.
Bentuk korupsi yang dimaksud tidak lagi terbatas pada pencurian harta
negara dan masyarakat. Namun telah bermutasi menjadi korupsi waktu,
korupsi moral, dan korupsi lainnya. Mat Jagung mulai frustasi.
Apalagi ia mendapati penegak hukum mengabaikan pelanggaran hukum
didepan matanya, semata karena dia sedang ‘off’ alias usai
bertugas atau sedang libur. Mungkinkah pengabdian kepada masyarakat
hanya sebatas pada jam kerja?

Akankah ia runtuh, demotivasi dan
pasrah kepada keadaan? Akankah ia menjadi pahlawan kesiangan? Apakah
ia sebegitu naifnya percaya pada nilai-nilai luhur yang (mungkin)
sudah usang? Apakah ia menjadi seorang malaikat diantara sejuta
setan? Jika yang terakhir benar, mungkinkah dia sendiri yang
sebenarnya setan (sementara sejuta umat lainnya adalah malaikat)?

Menulis naskah untuk media komik
merupakan pengalaman baru bagi Radhar. Terbiasa menulis karya sastra
lainnya, ternyata belumlah cukup baginya mampu membuat naskah komik
yang pas. “Ternyata menulis naskah untuk komik itu sulit. Awalnya
naskah saya terlalu panjang untuk satu episode komik. Akibatnya pada
nomor-nomor awal tampak penataan panel menyulitkan pembaca dalam
menikmati petualangan Mat Jagung. Itu dilakukan untuk memampatkan
seluruh isi naskah dalam satu episode,” Radhar menjelaskan
hari-hari pertama tokoh rekaannya yang berambut bak warna jagung ini.

Pengakuan ini diperkuat oleh Diyan
Bijac
, sang ilustrator,”Bahkan sempat dua halaman naskahnya,
hanya menjadi dua buah panel komik saja.” Sampai episode ke-25,
Diyan juga merangkap membuat storyboard. Diyan berbagi
pengalamannya membuat Mat Jagung, “Saya terus terang kewalahan
dalam menterjemahkan naskah Radhar menjadi storyboard,
kemudian menjadi komik. Kesulitannya karena naskah Radhar bukan
standar skenario komik. Barulah sejak Widyartha ikut bergabung
berperan membuat storyboard, proses pengerjaan menjadi lebih mudah
dan visualisasi naskah menjadi lebih tepat.” Widyartha ternyata
mampu menterjemahkan isi naskah menjadi visual secara lebih baik dan
lebih mudah dipahami pembaca. Pesan yang ingin disampaikan Radhar,
baik secara narasi dialog maupun secara visual, juga menjadi lebih
mudah dimengerti pembaca. Widyartha pula yang memberi saran agar ada
kalanya isi naskah dipecah menjadi dua atau tiga bagian yang
bersambung. Dengan demikian Diyan lebih leluasa dalam membuat
ilustrasi. “Serial komik Mat Jagung menjadi arena belajar bagi kami
bertiga,”Diyan mengakui bahwa menterjemahkan naskah Radhar yang
‘sastra’ menjadi ‘bahasa komik’ adalah suatu perjuangan
tersendiri.

Sekilas nampak coretan tangan Diyan
dipengaruhi gaya single clear line yang dirintis komikus
legendaris asal Belgia, Herge. Gaya ini pula yang membuat
serial Mat Jagung secara visual nampak mirip Tintin, tokoh
rekaan Herge, ataupun komik Rampokan Jawa karya komikus
Belanda, Peter van Dongen. “Padahal saya tidak bermaksud
begitu. Saya sendiri terbiasa menggambar manga (komik Jepang)
yang kebetulan juga menggunakan teknik single clear line. Saya
baru menyadari kemiripan dengan gaya Herge saat rekan-rekan
mengomentari Mat Jagung. Tidak ada permintaan khusus dari Radhar
perihal gaya gambar. Beliau hanya mendeskripsikan tokoh-tokohnya
secara naratif.” Terlepas dari itu, nampak ilustrasi Diyan secara
cermat dapat memvisualisasikan sepak terjang Mat Jagung dengan baik.
Sequence, angle dan fokus setiap panel sangat memudahkan
pembaca memahami pesan Radhar.

“Perjalanan Mat Jagung masih jauh.
Saya merencanakan season pertama cukup mencapai 50 pemuatan (sebuah
episode terkadang mencapai 2-3 pemuatan),” Radhar menjelaskan.
Ketika diklarifikasi rencana cerita panjang Mat Jagung dalam bentuk
novel, Radhar hanya menjawab ,”Tunggu saja tanggal mainnya.”
Karakter Mat Jagung dan semua tokohnya akan dikembangkan lebih dalam.
Sangat mungkin Mat Jagung akan menjadi ‘korban’ rekonstruksi
paradigma melawan korupsi, sebagaimana ungkap Radhar saat berdiskusi.
Mat Jagung menyadari modus operandi yang dijalankan bersama
kawan-kawan seperjuangan tak efektif, dan terpaksa mencari cara
alternatif melawan korupsi.