JAVA JAZZ 2007
Sunday, April 8th, 2007dipublikasikan pertama kali di majalah Sound Up, edisi Maret 2007
“Ayah, Irma disini ya…nonton Maliq & D’Essentials!”
“Iya, 30 menit lagi Ayah nonton Gino Vannelli. Nanti kalo sudah selesai, kamu ke Gino aja. Sms Ayah ya? Kamu hati-hati disana!”
——
Itulah sekelumit percakapan unik antara seorang ayah dan putrinya di Java Jazz Festival 2007. Pentas jazz skala internasional yang diadakan di kota Jakarta, 2-4 Maret 2007 tidak hanya menjadi konsumsi individu. Pentas ini sudah menjadi acara keluarga. Sang ayah menonton artis A, istri menonton artis B, sedangkan anak-anaknya yang ABG menonton artis C. Semua pada hari yang sama. Aneka ragam artis yang tampil memang memungkinkan satu keluarga menonton bersama. Setidaknya datang dan pulang bersama, karena setibanya di venue, mereka akan berpencar sesuai dengan selera musik masing-masing.
Keanekaragaman ini juga yang ditonjolkan oleh pihak penyelenggara dalam memilih sub-genre musik jazz. Ada reuni Karimata, reuni Emerald, Bazzattack, Jeff Lorber, Eric Marienthal, Dave Weckl dan Marcus Miller yang mengusung jazz fusion. Ada Geliga dan reuni Krakatau yang mengusung jazz etnik. Ada jazz bossas yang dikomandani Sergio Mendes. Ada acid jazz yang dimotori reuni The Groove dan Ecoutez. Ada jazz pop yang dibawa oleh Gino Vannelli, Chaka Khan, Jeffrey Osborne dan Deniece Williams. Ada legenda jazz seperti Airto Moreira, Flora Purim, John Scofield, Kenny Rankin dan Rien Djamain. Ada pula funk jazz yang digawangi Level 42. Singkatnya, apa yang anda mau, semua ada disana.
Java Jazz Festival sudah dipandang oleh komunitas pecinta jazz mancanegara sebagai, setidaknya, acara jazz terbesar di Asia. Ada juga yang mengatakan masuk dalam daftar 3 besar di dunia. Tahun ini ratusan musisi dari seluruh dunia tampil di 15 panggung. Tentunya penyelenggaraan seakbar ini membutuhkan perhatian ekstra khusus. Faktor keamanan sudah terlihat menjelang hari H. Mulai dari artis, panitia, sampai wartawan benar-benar harus terdaftar. Tidak hanya diberikan kartu identitas, namun masih ada pula wrist-band yang wajib pakai selama 3 hari acara. Susunan acara dan konferensi pers senantiasa dimutakhirkan setiap saat. Layar plasma diseantero kompleks Jakarta Convention Center tersedia untuk menampilkan jadwal siapa tampil dimana. Food court juga tersedia dengan aneka ragam pilihan. Namun sebaik-baiknya suatu rencana, tetap saja ada kekurangan. Gangguan teknis dibanyak panggung mengakibatkan banyak sekali jadwal yang terlambat. Masalah kebersihan juga mengganggu. Semoga panitia mengevaluasinya secara menyeluruh dan membuat perencanaan yang lebih baik untuk tahun 2008.
SERGIO MENDES
Pertunjukan utama di hari pertama sudah terasa atmosfir positif. Ruang arena termasuk balkon, nampak sesak oleh penonton. Sebelumnya Chairman JJF 2007, Peter F. Gontha, memberikan sebuah piala penghargaan kepada Sergio Mendes atas kontribusinya selama ini di pentas musik jazz. Beberapa repertoire dilayangkan Sergio Mendes beserta pasukannya. Diantaranya tembang lawas The Look of Love dan Fool On The Hill, serta Waters of March dan Magalenha, serta smash hit terakhirnya (yang sebenarnya lagu lama dengan aransemen baru) Mas Que Nada.
RIEN DJAMAIN
Biduan veteran Indonesia ini tampil kembali setelah menghilang beberapa dekade. Menampilkan lagu-lagunya dari era 70-an, Rien Djamain mampu berkomunikasi dan bernostalgia dengan penonton. Lagu-lagu seperti Maafkan Daku, Sabda Alam, Potret Kasihku, Luka, Selamat Tinggal Kasih dan juga lagu andalannya Api Asmara, membawa penonton ke romantisme 30 tahun yang lalu. Tak lupa Rien Djamain mengenang masa-masa indah karirnya bersama alm. Jack Lesmana.
KENNY RANKIN
Gitaris akustik ini didampingi perkusionis handal Airto Moreira, dan membawakan lagu-lagunya dengan sangat syahdu. Bahkan aransemennya pada lagu Blackbird, Penny Lane dan While My Guitar Gently Weeps (semuanya milik Beatles) dan Why Do Fools Fall In Love (dipopulerkan oleh Diana Ross) terasa sangat segar dan merdu di telinga.
VICKY SIANIPAR
Mengusung jazz etnik berbagai sudut negeri Indonesia, benar-benar membuktikan bahwa Vicky Sianipar tidak main-main dalam berkreasi. Salah satunya lagu Burung Camar (dipopulerkan oleh Vina Panduwinata) disulap menjadi penuh kejutan.
LEVEL 42
Panggung utama Plenary Hall terasa sangat penuh saat Mike Lindup dan Mark King cs ini tampil. Dengan kondisi prima, mereka membawakan lagu-lagunya seperti Hot Water, Love Games, To Be With You, World Machine, Starchild, hingga Lessons In Love, Something About You, Chinese Way, dan beberapa lagu dari album terbaru, Retroglide. Tak henti-hentinya penonton ikut berlantun, walaupun agak asing dengan lagu-lagu terbaru.
GINO VANNELLI
Melegenda sejak pertengahan 70an ini sangat dinantikan banyak orang. Rata-rata berusia 30-40an sudah mengantri didepan pintu masuk, bahkan 45 menit sebelum pertunjukan mulai. Tampil dengan pakaian santai namun seksi serba hitam, Gino Vannelli memadukan kombinasi hits awalnya seperti Brother To Brother, Living Inside Myself, I Just Wanna Stop, Black Cars sampai Canto dan Venus Envy. Memang dalam banyak lagu kunci nada diturunkan, namun kualitas suaranya tetap prima. Bahkan pada saatnya ia berfalsetto-ria, nampak Gino Vannelli tak ada matinya. Nampak para musisi senior hadir di JJF 2007 khusus untuk menyaksikan sang legenda.
AIRTO MOREIRA dan FLORA PURIM
Dua legenda jazz asal Brasil yang juga suami-istri ini menunjukan kepada pecinta jazz Indonesia, bahwa jazz sungguh kaya akan unsur tradisional dan dapat ditampilkan secara cantik serta menghibur. Sudah lebih dari tiga dekade mereka berkarya, dan seakan tak pernah pudar kharismanya. Airto berhasil memperkaya wawasan penonton bahwa dengan instrumen perkusi tradisional, sebuah komposisi jazz bisa menakjubkan.
KAHITNA
Tampil dengan formasi lengkap, Kahitna membawakan lagu-lagu terpopulernya dengan beberapa variasi jazz. Kehadiran mereka membuat pentas JJF 2007 semakin marak, terutama dengan penampilan prima Hedy Yunus, Yovie Widianto, dan rombongannya.
JEFF LORBER
Penampilan musisi jazz fusion ini tak pernah mengecewakan, apalagi ia kali ini didampingi musisi senior seperti Eric Marienthal dan Dave Weckl. Bayangkan saja seakan-akan ini adalah penampilan Jeff Lorber and The Elektrik Band
GELIGA
Jazz fusion etnik asal Pekanbaru Riau ini juga tak mau kalah bersaing dengan para koleganya. Mereka mengusung jazz dengan sentuhan musik tradisional Melayu, terasa semakin sempurna dengan cengkok sang vokalis yang memang terasa sangat Melayu. Peran pemain akordeon memainkan melodi khas Melayu semakin memantapkan identitas mereka. Sebagian besar lagu yang dibawakan adalah materi dari album kedua yang rencananya akan dirilis pada tgl 27 Maret 2007 di Hotel Aryaduta Pekanbaru.
INDRA LESMANA & BROTHERS OF REVOLUTION
Sang Anak Ajaib, Indra Lesmana, kembali memimpin serombongan musisi berjazz-ria dengan didampingi Humania, Mike Mohede, Glenn Fredly dan Marcel. Sambutan penonton sangat meriah terutama dengan antusiasme menantikan penampilan perdana duo Humania setelah absen bertahun-tahun.
MALIQ & D’ESSENTIAL
Grup yang sedang naik daun dalam 3 tahun terakhir ini menyedot perhatian penonton muda, apalagi bersamaan dengan dirilisnya album terbaru mereka. Ruang pertunjukan nyaris penuh sesak, karena tak ada tempat kosong untuk berleha-leha.
HYPERSAX
Ensemble mini big band ini adalah band pembuka di hari pertama, dan tampil di lobby utama persis menyambut tamu datang. Panitia JJF 2007 sungguh tepat menjadikan mereka band pembuka, karena terbukti benar-benar memukau dan luar biasa bagus.
BAZZATTACK
Jazz fusion yang sebagian anggotanya berasal dari Bali mampu menghadirkan kerinduan penonton akan sub genre musik ini. Sisipan musik etnik Bali pun terasa disana-sini dan ini membuat keanekaragaman JJF 2007 semakin terasa. Bazzattack sendiri tak menyangka sambutan penonton akan semeriah ini.
DAVID BENOIT feat. MICHAEL PAULO bersama MAGENTA ORCHESTRA
Walaupun masyarakat pecinta jazz Indonesia sudah akrab dengan pianis David Benoit, tetap saja penampilannya malam itu sangat ditunggu penonton. Kali ini ia diiringi mini big band Magenta Orchestra membawakan banyak karya baru dan lama yang diaransemen ulang. Kehadiran saksofonis Michael Pauolo menambah semarak penampilan mereka semua.
THE GROOVE
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, seluruh personil The Groove tampil bersama dalam satu panggung. Ruangan Cendrawasih menjadi saksi reuninya beberapa band legendaris jazz Indonesia (Krakatau, Emerald dan Karimata). Penonton tak henti-hentinya bernyanyi bersama Rieke Roslan dan Reza, saat mereka berdua melantunkan seluruh hits The Groove.
EMERALD
Band kecintaan generasi akhir 80an dan awal 90an ini juga salah satu reuni yang dinantikan. Penonton sudah dengan sabar menanti mereka berlima sejak 30 menit sebelumnya. Dimotori oleh vokalis Ricky Johannes, Emerald tampil prima malam itu dan juga membawakan lagu andalannya Hanya Khayalan.
KRAKATAU
Walaupun sebenarnya ini adalah proyek milik Irvan Chasmala, dan juga minus vokalis Trie Utami, reuni Krakatau tetap ditunggu pecintanya. Dwiki Darmawan, Indra Lesmana, Pra Budi Darma dan Donny Suhendra kembali bersama walaupun hanya sesaat. Di akhir acara, vokalis Krakatau kini Ubiet mengajak penonton untuk menjelajah musik jazz etnik.
KARIMATA
Highlight terakhir reuni band jazz Indonesia 80an adalah persembahan Barry Likumahuwa dan rekan-rekan. Menampilkan berbagai hits instrumental Karimata, termasuk yang berlirik seperti Masa Kecil (Andien), Rainy Days and You (Mike Mohede), Rintangan (Cindy dan Mike Mohede) dan Kisah Kehidupan (Ello) mereka tampil prima. Berbagai ragam variasi menambah semaraknya musik A Tribute To Karimata. Kejutan ditengah acara adalah hadirnya Erwin Gutawa, Aminoto Kosin, Uce Hariono dan Denny TR membawakan dua buah lagu, Rindu dan Why Not. Sayang Candra Darusman masih bertugas di negeri Swiss.
JAMIE CULLUM
Penampilan yang paling ditunggu tentu saja sang entertainer jazz muda asal Inggris, Jamie Cullum. Tampil atraktif dan menghibur, ia menyihir ribuan penonton di Plenary Hall dengan suara dan permainan pianonya yang luar biasa. Ia pun tahu kapan harus berhenti bermain dan berakrobatik ria di atas panggung. Bahkan dalam perjalanan menuju dan seusai konferensi pers, Jamie Cullum masih dikejar ratusan fansnya.
Masih banyak lagi penampilan seperti Sadao Watanabe, Chaka Khan, Titi DJ, Melly Goeslaw, Deniece Williams, Richard Bona, Lisa Ono, Marcus Miller, John Scofield, Tortured Soul, Bubi Chen, Jopie Item, Kyle Eastwood, Ron Carter, Harvey Mason dan puluhan artis lainnya yang memperkaya penyelenggaraan tiga hari Java Jazz Festival 2007. Saat ini sudah mulai beredar siapa saja artis yang sedang dijajaki untuk pentas tahun depan. Tapi sebaiknya kita tunggu saja berbagai kejutan di Java Jazz Festival 2008. Tidaklah berlebihan jika masyarakat internasional ingin menobatkan Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan untuk memperluas khasanah musik jazz.
Sampai bertemu di Java Jazz Festival 2008!