Losing A Friend

September 5th, 2008 by surjorimba

Hari Minggu, 31 Aug 2008, Pak Syafruddin, seorang teman rombongan haji gue meninggal dunia. DBD. Gue sedih banget. Pak Syafruddin itu teman gue selama 40 hari di Mekkah, Arafah, hingga Madinah. Teman satu grup. Teman sharing rokok. Teman berantem pula. Teman thawaf, teman sa’i, dll. Banyak deh. Ribut antara gue dan dia juga pernah. Tinggal bersama 40 hari pada akhirnya akan menimbulkan percikan api, karena sifat masing-masing akan muncul.

 

Pak Syaf ini kerjanya di Kalimantan. Pedalaman sana. Pertambangan. Jadi pulang ke rumah hanya 2 bulan sekali. Sejak pulang dari haji, pak Syaf hanya pulang kampung sebanyak 3x. Pada semua kesempatan tsb gue selalu sempat bertamu ke rumahnya. Bahkan ngobrol hingga lewat tengah malam. Walau dulu suka tengkar, tapi pada dasarnya kami teman baik. Saling menghormati, dan punya beberapa kesamaan. Dia juga sempat bantu saat gue sedang proses rekrutmen di Aneka Tambang.

 

Saat dapat berita ia dirawat DBD di rumah sakit, gue dan Idah segera menjenguk. Padahal gue juga sedang sakit flu saat itu. Nampaknya dia membaik, dan kami pun ngobrol dan tertawa. Everything was fine. Hingga ternyata Allah memutuskan berbeda.

 

Gue sangat terkejut mendengar beliau wafat. Tepat satu hari sebelum Ramadhan. Gue sangat sedih,karena kehilangan seorang sahabat. Walau ia jauh lebih tua (wafat di usia 53 tahun). Gue kehilangan teman ngobrol, ngopi2, rokok, begadang, ngobrol ttg kehidupan dan moral, dst. Tidak banyak teman gue seperti dia. Dan kini dia sudah tiada.

 

Selamat jalan pak Syafruddin. Semoga saya selalu ingat pesan-pesan dan amanahmu. Insya Allah kini kau dapat menghadap Tuhan mu dengan bangga, karena sudah melaksanakan kewajiban terakhir sebagai seorang Muslim, yaitu pergi haji. Semoga Allah memaafkan seluruh kesalahanmu  di masa lalu, dan memberikan termpat tersejuk di sisi-Nya. Amin.

QUEEN & COUNTRY: TANDINGAN CLANCY

March 31st, 2008 by surjorimba

dipublikasikan di Koran Tempo, suplemen Ruang Baca, 30 Maret 2008
Dunia intelijen dan spionase dalam komik sebenar-benarnya.

Lupakanlah romantisme dan eksotisme dunia spionase ala James Bond atau The Saint. Tidak ada agen rahasia cantik atau ganteng rupa, dengan senjata mutakhir nan canggih. Greg Rucka menciptakan serial komik Queen & Country mendekati kenyataan. Baku hantam, spionase, penyamaran, operasi rahasia, pembebasan sandera, pembunuhan, hingga insiden antar negara tercipta disini. Qc1a

Penggemar novel-novel spionase seperti Tom Clancy akan menemukan tandingannya dalam serial komik ini. Dimulai sejak tahun 2001 penggemar tetap menantikan sepak terjang Tara Chace, sang tokoh utama, dengan para koleganya dari Dinas Intelijen Rahasia, Kerajaan Inggris. Mengambil setting dunia politik masa kini, pasca perang dingin, ketika perbedaan ideologi antar negara tak lagi memicu peperangan. Kini perbedaan kepentingan lah yang menjadi sumber konflik. Siapa sang penjahat tidak terdefinisi dengan jelas, dan tugas yang harus dilaksanakan tidak dideskripsikan dengan jelas. Terkadang mereka saling membunuh untuk memelihara status quo, keseimbangan politik atau ”hubungan istimewa”. Mereka adalah orang-orang yang mampu meletakkan tangan pada aneka senjata di negeri asing untuk melakukan pembunuhan dan kejahatan perang, namun tak diizinkan bahkan untuk memegang pisau lipat di negerinya sendiri. Setiap peluru yang diletuskan memiliki konsekuensi, dan setiap langkah dalam melakukan tugas akan kembali menghantuimu.

Queen & Country adalah tentang orang-orang yang menghadapi kenyataan yang orang-orang biasa tidak alami. Ia berkisah tentang tangan-tangan dari tangan-tangan yang tak terlihat, yang mampu menjangkau dunia seberang untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Sebuah dunia kelabu yang kejam dan berisi orang-orang yang bertindak tidak selalu berdasarkan pemikiran yang benar. Terkadang lebih karena melakukan apa yang harus dilakukan pada saat itu, dan membiarkan para malaikat mengetahui apa yang bisa terjadi jika ia mengambil tindakan alternatifnya.Qc2a

Setiap membalikkan halaman, serasa nafas kita tertahan menantikan suspense demi suspense. Tidak hanya oleh sepak terjang Tara Chace, namun juga para kolega dan pimpinannya yang menghadapi ’peperangan’ dibalik meja. Kemampuan Rucka membangun kisah, yang terkadang pembaca berpikir ,”Apakah seperti ini dunia intelijen yang sesungguhnya?”, membuatnya dicintai banyak penerbit komik. Eisner Awards, penghargaan prestisius dibidang komik dan novel grafis, menghadiahinya dengan tiga penghargaan. DC Comics sempat mengajaknya sebagai penulis naskah serial Wonder Woman dan Superman.

Qc3a Greg Rucka secara piawai mampu mencampuradukkan kompleksitas politik, moral dan emosi. Setiap episode (yang kadang terdiri dari 4-7 nomor satuan) diberi judul sebagaimana kebiasaan di dunia intelijen. Lihat saja Operation: Red Panda, Operation: Morningstar, Operation: Black Wall, dan lainnya. Dinas Intelijen Rahasia Inggris dipimpin oleh seorang pria sinis dan sarkastis, Paul Crocker, yang membawahi (hanya) tiga orang agen rahasia. Ketiganya, dimana lebih banyak Tara Chace yang turun ke lapangan untuk eksekusi perintah, mencakup seluruh kegiatan operasi diseluruh dunia. Bagaimana seorang tokoh utama wanita, yang tidak terlihat fotogenik dan sensual, dengan senjata di tangan mampu melaksanakan tugas seperti Tara Chace?

Tidak ada faktor keajaiban dan kebetulan dalam Queen and Country. Jika anda lengah, anda mati. Jika terjebak lompatlah menembus jendela kaca, jatuh dari ketinggian tiga lantai, dan bersyukurlah tulang-tulangmu tidak remuk ketika jatuh di atap mobil seperti Chace. Semua demi merebut sebuah laptop milik agen rahasia negeri lain berisi data penting. Aksi heroik itupun dipandang salah besar oleh Crocker, karena seharusnya Chace menembak mati seluruh lawannya dan melenggang dengan laptop tsb.

Atau relakan dirimu disiksa bagai binatang hingga nyaris kehilangan kesadaran, sambil menunggu kesempatan terbaik. Rebut linggis didekatmu, remukkan kepala sang pengawal, tusuk perut pengawal yang lain dan rebut senapannya, lalu tembak kepala pengawal terakhir. Akhirnya anda mampu keluar dari ruang tahanan dan lari ke seberang perbatasan negara.

Qc4a Terkadang dalam Queen & Country, nampaknya mereka yang sangat percaya kebenaran hanyalah para teroris dan fanatis. Para agen disini tidak berhenti untuk ceramah. Mereka menyembunyikan perasaannya, dan lebih dari satu misi digerakkan bukan karena patriotisme atau keinginan untuk melindungi yang tak berdosa. Mereka melakukannya semata karena mental ‘kita tak bisa membiarkan mereka menang’. Percayakah anda mereka bisa saja mati saat tugas bukan karena kelalaian dan inkompetensi? Mereka mati semata karena kesalahan informasi yang diberikan sumbernya. Sanggupkah sebuah dinas rahasia membiarkan agennya turun ke lapangan dengan informasi tidak akurat? Mampukah mereka duduk tenang di ruang monitor, ketika komunikasi terputus dengan sang agen yang berada ribuan mil disana? Kesuksesan operasi bergantung pada kehandalan dan keberuntungan sang agen. Jika ia sukses, operasi sukses. Jika ia mati atau tertangkap dan buka mulut, insiden akan memicu perang antar negara.

Setiap halaman pembaca dihibur dengan gambar-gambar yang efektif, padat, dialog seefisien mungkin, tanpa warna alias hitam/ putih, dan setiap satu rangkaian episode dilukis oleh komikus yang berbeda. Setiap komikus memberikan warna tersendiri, mulai dari ilustrasi realis hingga comical, namun semuanya dengan cerdik mampu memvisualisasikan cerita Greg Rucka dengan tepat. Tercatat bahkan Tim Sale, ilustrator film seri televisi Heroes dan serial Daredevil: Yellow, juga ikut bagian. Siapapun sang ilustratornya, ketegangannya tetap sama.

Rucka juga membuat beberapa kisah Queen & Country dalam format novel, selain serial Whiteout yang sedang dalam proses adaptasi ke layar perak. Jika anda pecinta cerita-cerita spionase dan intelijen, sudah waktunya kini mengenal Greg Rucka dengan Queen & Country-nya. Siapa bilang komik eksklusif bacaan anak-anak?

BACA KOMIK DI TELEPON SELULAR

February 24th, 2008 by surjorimba

Oleh Surjorimba Suroto
Dipublikasikan di harian Koran Tempo, suplemen Ruang Baca, 24 Februari 2008

Sejarah baru komik lokal

Sebuah layanan baru dari operator telepon seluler Telkomsel belum lama ini diluncurkan dan ditujukan terutama bagi mereka yang menyukai komik. Dengan layanan yang dinamai M-Komik (http://www.m-komik.co.id) itu, kini para pelanggan operator yang bersangkutan dapat membaca komik melalui layar ponsel. Layanan yang terbilang baru di Indonesia ini didukung oleh inTouch sebagai penyedia perangkat lunak dan tiga komunitas komik: Akademi Samali, Splash, dan KomikIndonesia.com. Acara peluncuran M-Komik ketika itu dipimpin langsung oleh Kiskenda Suriahardja, Direktur utama Telkomsel, dan dihadiri pula oleh sang legenda komik nasional, R.A. Kosasih. Selain mengundang sambutan meriah, banjir pertanyaan perihal prospek masa depan M-Komik menjadi topik utama. Apakah masyarakat tertarik membaca komik di layar ponselnya? Bukankah layar ponsel memiliki ukuran terbatas? Masih ada belasan pertanyaan lain seputar komik ponsel ini.

Semua pihak yang terlibat menyatakan optimisnya. ”Saya yakin komik ponsel ini akan membangkitkan lagi gairah membaca komik di kalangan pembaca,”ujar R.A. Kosasih saat dimintakan pendapatnya. Mengapa tokoh yang oleh banyak pihak dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia berharap seperti itu? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sejak awal dekade 1990-an, komik nasional seakan tak mendapat tempat di hati pembaca komik. Banjir komik terjemahan asal Amerika, Jepang dan Eropa sejak satu dekade sebelumnya membuat komik Indonesia bertarung head-to-head di pasar. Pilihan menjadi semakin beragam, dan kondisi pasar akhirnya berbicara. Para seniman komik pun satu per satu mengendor atau beralih profesi, termasuk sang legenda, R.A Kosasih, yang menutup perjalanan karirnya. Bahkan industri penerbitan, distribusi dan toko buku tak banyak mendukung. Perlahan komik nasional pun memudar dari pentas dunia gemerlap.

Memang komik lokal tidak mati atau kalah begitu saja. Secara sporadis komikus generasi muda lahir dan melahirkan karya dengan cara-cara baru. Go Indie, begitu istilah yang populer bagi para seniman yang secara independen mencoba untuk terus melawan dominasi komik terjemahan. Namun terjangan badai sangat kuat, dan sulit rasanya untuk kembali menjadi raja di negeri sendiri.
Situasi inilah yang melatarbelakangi lahirnya M-Komik. Satu pihak mengajak pihak lain bekerja sama, dan kini lahirlah era baru dalam komik nasional. Tak banyak riwayat masa lalu tentang cikal bakal komik ponsel di Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan negara lain. Di Amerika dan Jepang, contohnya, komik ponsel sudah sangat populer dan mempunyai pasar sendiri.

Sudah satu dekade yang lalu komik sebenarnya memasuki era digital. Di banyak negara sebagian artis sudah memulainya dengan memproduksi komik yang hanya bisa diperoleh secara digital-artinya, tidak tersedia dalam media kertas. Komik digital ini hanya bisa dinikmati melalui layar komputer. Tak lama pembaca pun bisa berlangganan komik secara online, gratis, ataupun bayar. Sepanjang anda terhubung dengan dunia maya, anda sudah dapat menikmatinya. Dimanapun dan kapanpun anda berada. Tentu saja komik digital memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda dengan komik kertas. Tapi pembaca mulai terbiasa dan bukannya tidak mungkin dalam waktu dekat akan lahir sebuah revolusi: anda tak dapat lagi mendapatkan komik tercetak di kertas. Isu pengrusakan lingkungan, pemanasan global, semakin berkurangnya bahan baku kertas, dan makin berkurangnya luas hutan di seantero dunia menjadikan harga kertas tidaklah murah seperti dulu. Dunia membutuhkan alternatif.

Komik digital tidak luput dari kekurangan, termasuk pula komik ponsel. “Kesulitan utama adalah media yang terbatas, sementara komikus harus dapat menyampaikan gagasan dalam ruang yang terbatas tersebut,“ begitu diakui oleh Beng Rahadian dari Akademi Samali. Hal serupa juga diakui Ariela Kristantina dari Splash.”Keterbatasan pada layar ponsel membuat komikus terpaksa mengurangi text balloon pada setiap panel gambar. Bahkan tidak ada sama sekali, karena teks pada balon sulit dibaca," katanya. Padahal, menurut dia, komik ponsel mensyaratkan teks berjalan di setiap panel sebagai pengganti balloon text. Bentuk panel pun harus seragam, yaitu landscape semua atau portrait semua. Tidak bisa bervariasi sebagaimana buku komik. Belum lagi pewarnaan secara digital, bukan dengan kuas dan cat”

Namun semuanya menjadi tantangan bagi komikus. Tidak ada kata menyerah sebelum mencoba. Prinsip ini yang diusung para komikus senior seperti Hans Jaladara, Mansjur Daman, Armin Tanjung, Djair Warni, dan lainnya saat ikut terjun meramaikan M-Komik. Mereka tak mau kalah bersaing dengan semangat komikus muda seperti Zarki, Wahyu Hidayat, Vanessa Maryanto, Olivia Twilanda, Diyan Bijac, dan puluhan lainnya. Karya-karya Teguh Santosa, Wid NS dan Ganes Th pun ikut berpartisipasi, walaupun  terpaksa ’disesuaikan’ agar memenuhi syarat komik ponsel. Semua komikus itu yakin bahwa komik ponsel menjadi alternatif yang menjanjikan, baik dari segi kreatif maupun segi komersial. Keyakinan ini seakan jawaban atas keraguan sebagian komikus yang belum yakin dengan manfaatnya serta awam dengan media dan persyaratan teknis.

Pembaca dapat menikmati pula berbagai efek melalui ponselnya, seperti suara bom atau pistol meletus, derap langkah kaki, atau jeritan korban. Sensasi berupa audio dan getaran pada ponsel tentunya tak didapat pada buku komik. Tetapi untuk bisa menikmati M-Komik ada beberapa persyaratan teknis pada ponsel anda. Mulai dari kapasitas memori, GPRS dan bluetooth, serta operating system berbasis Java atau Symbian. Terdengar eksklusif dan njlimet, memang, tapi teknologi yang dibangun dirancang untuk mendekati imajinasi tim kreatif. Bukannya tidak mungkin dalam perkembangannya, semua menjadi lebih mudah.

Era baru dalam sejarah komik nasional telah lahir. Sudah siapkah anda dan pesawat telepon seluler anda?

KOOL & THE GANG

January 29th, 2008 by surjorimba

dipublikasikan di majalah Sound Up edisi Desember 2007

Lupakanlah artis yang lain, karena malam ini milik Kool & The Gang. Mungkin kalimat ini terasa provokatif, tapi benarlah kenyataannya. Minggu, 25 Nov 2007, pada malam terakhir JakJazz 2007, penampilan Kool & The Gang adalah yang paling dinantikan. Penonton sudah mengantri penuh di semua pintu masuk, dan rasanya antrian tak kunjung habis. Pertunjukan sempat terlambat karena sedang perbaiki sound system. Sebelumnya saat Don Grusin manggung, ada beberapa gangguan. Semoga saja gangguan ini tidak separah penampilan perdana Kool & The Gang di Jakarta tahun 1983.

Kool & The Gang langsung mengajak penonton bergoyang dengan Fresh. Formasi band yang sudah jauh berubah sejak masa keemasannya dua dekade lalu, tidak tampak ada penurunan. Robert ‘Kool’ Bell (sax), Khallis Bayyan (dulu bernama Ronald Bell; bass), dan George Brown (keys), didampingi 9 personil lainnya seakan tak ada matinya. Dengan deretan musisi yang atraktif, rasanya malam ini tak akan pernah berakhir. Suatu kekaguman pada band yang tahun depan akan berusia 40 tahun.

Kenikmatan penonton sempat terganggu dengan masalah suara, namun hal ini segera diselesaikan. Selain hits 80an (Too Hot, Let’s Go Dancing, Joanna, Cherish, Take My Heart) dan 70an (Hollywood Swinging, Jungle Boogie, Open Sesame, Summer Madness), Kool & The Gang memperkenalkan dua buah lagu dari album terbarunya. “Memang kami sudah lama tak mengeluarkan album dengan isi materi baru, tapi kami baru saja merilisnya. Nanti kami akan membawakan beberapa diantaranya,”janji Robert “Kool” Bell saat konferensi pers,“Kamipun sangat senang diundang kemari. Penyelenggaraan JakJazz 2007 sangat rapi dan kami sangat terkesan. Kalian patut bangga dengan profesioalisme panitia, dan kami bangga bisa hadir untuk kalian.”

Lagu-lagu yang pada dekade 70an dan 80an itu memang sangat akrab di telinga. Terbukti dari tak henti-hentinya penonton bergoyang, berteriak, dan melompat sepanjang pertunjukan. Tidak hanya mereka di deretan depan panggung, tapi juga mereka di tribun atas. Malam ini benar-benar menjadi malam reuni 80an, dan Kool & The Gang menjadi rajanya. Terkadang timbul kekaguman, karena nyata Robert, Khallis dan Dennis sudah berusia lanjut. Di usia 60 tahunan, rasanya janggal menyaksikan mereka sedemikian groovy di panggung. Tapi tampak stamina yang prima dengan kemeja putih santai dan celana jeans, membuat mereka lebih muda 30 tahun. Mereka bahkan beberapa kali tampil solo dan rasanya mereka tak ada matinya.

Malam menjadi semakin meriah ketika Get Down On It menghiasi telinga. Penonton tak hentinya menyanyi dan bergoyang, terutama ketika lagu anthem masa itu Ladies Night dinyanyikan. Rasanya masa-masa diskotik Ebony, Pitstop atau Oriental Jakarta, serta Studio East Bandung kembali hidup. Tentu saja hanya lampu disko kerlap-kerlip itu yang malam ini absen. Tapi antusiasme penonton mengalahkan itu semua, dan Kool & The Gang menutup pertunjukan dengan Celebration. Hingga 15 menit setelah itu, para personil masih setia menjabat tangan para penonton dan memberikan tanda tangannya kepada apapun yang disodorkan penonton.

JakJazz 2007 secara tepat menempatkan Kool & The Gang sebagai artis penutup panggung utama. Rasanya tidak ada lagi yang mampu menghibur sedemikian fenomenal pada malam terakhir selain Kool & The Gang.

SATORU SHIONOYA GROUP

January 29th, 2008 by surjorimba

Ketika jadwal penampilan Dji Sam Soe Super Premium JakJazz 2007 dirilis, banyak yang asing dengan nama para artisnya. Satoru Shionoya (Jepang) termasuk satu diantaranya. Warna musik dan kiprahnya tak banyak dikenal. Namun penampilan Satoru Shionoya Group pada Jum’at malam, 23 Nov 2007 mengubah keraguan penonton. Band beranggotakan lima musisi ini membuat penonton terus bergoyang, berdecak kagum, dan tak meninggalkan arena hingga mereka tampil lagi untuk sebuah encore. Satoru Shionoya Group hadir berkat The Japan Foundation bersama seluruh personil yang melahirkan album Hands of Guido (2006), dan juga memainkan hampir semua tembang dalam album tsb. Satoru (grand piano), Yoshito Tanaka (gitar, produser), Katsumi Hirashi (bass), Eiji Tanaka (drum) dan Masatoshi Kainuma (perkusi) membuktikan bahwa janji mereka saat konferensi pers tidaklah omong kosong. Kelima musisi mempertontonkan kemahiran bermusik tingkat dunia, dengan ketrampilan tingkat tinggi dan luasnya wawasan musik diluar musik jazz. Perhatikan saja saat Introduction dilantunkan. Diawali dengan komposisi piano klasik, dilanjutkan dengan dinamika jazz secara penuh energi, dan kembali ditutup dengan komposisi klasik. Atau pada Mr. Tap-man yang kerap memberi tempat bagi Eiji dan Masatoshi untuk berimprovisasi dengan menambah keragaman dibanding versi lagu studionya. Permainan jazz yang menghentak disuguhkan melalui Skinny-Dipper. Walaupun sangat terasa peran piano dalam setiap komposisi, peranan gitar mendapat tempat istimewa dan bersanding harmonis dengan piano. Tidaklah berlebihan jika Yoshito pantas dipuji berkat kehandalannya sebagai penata musik dan produser album Hands of Guido. Permainan gitar akustik sangat menawan, terutama saat berduet dengan Satoru pada lagu Doodle dan Azami.

Pengamat musik senior Bens Leo sempat menyatakan kekagumannya kepada penampilan kelima pemuda Jepang ini. “Mereka sempat memainkan tiga komposisi selama 30 menit pada malam gala dinner, dan penampilan mereka sangat mengagumkan. Kelima musisi semuanya pendekar musik dan mampu berkomunikasi dengan penonton. Malam ini saya sangat antusias untuk menikmati hiburan mereka kembali,”ungkap Bens Leo. Terbukti kelima musisi sangat atraktif sepanjang 1,5 jam. Keragaman wawasan musik sempat dilontarkan saat wawancara. Terasa atmosfir jazz, klasik, rock, latin dan funk silih berganti memberi nyawa. Sungguh rugi mereka yang luput menjadi saksi kehebatan mereka di JakJazz 2007. Album Hands of Guido diyakini dapat diterima di masyarakat, terutama di negerinya sendiri. Diperkirakan sudah terjual 40.000 keping dan menjadi prestasi tersendiri di Jepang, yang saat ini wajah musik jazz tidak semegah beberapa dekade sebelumnya. Yoshito dan Satoru bercerita tentang tanggapan generasi muda dan respon pasar Jepang. Banyak musisi muda, sama halnya dengan mereka, yang berkelana menimba ilmu di luar negeri. Kelak mereka akan kembali ke Jepang ketika sudah berpengalaman. Satoru dan rombongan senang berbagi cerita dan pengalaman dalam bermusik, termasuk pengalaman dalam industri musik. Kehadirannya di Indonesia untuk pertama kalinya ini menjadi salah satu tonggak sejarah bagi Satoru Shionoya Group, dan malam itu penonton JakJazz 2007 menjadi saksinya.

JAKJAZZ 2007 part 2

November 26th, 2007 by surjorimba

Minggu, 25 Nov 2007, adalah hari terakhir JakJazz 2007. Masih lelah karena reuni SMA malam sebelumnya. Malam itu saya tiba di rumah mendekati adzan subuh! Rasanya ingin kembali memeluk bantal…..

Seperti biasa suasana Istora Senayan mulai meriah di sore hari itu. Panggung Garden Stage sudah menampilkan artisnya, dan penonton memenuhi halaman teduh. Saya menyambangi merchandise booth dan menemukan satu lagi CD Satoru Shionoya yang terbaru, Eartheory. Langsung saja saya beli, dan setelah itu menyadari tidak banyak uang tersisa di dompet. Saya harus menghemat malam ini. Jika tidak, saya tidak punya uang untuk pulang ke Bogor.

Seperti biasa pula, saya mampir ke media center dan kali ini kembali bertemu Gideon dan Yuri. Saya dan Gideon sangat bergembira mendapati kami masing-masing mengenakan tshirt Genesis. Kehadiran di JakJazz semata-mata karena tugas, tapi hati kami tetap saja rock=). Melihat barisan internet sedang kosong, saya pun mengaksesnya dan mengunduh lagu I Need Your Love dari Lonnie Liston Smith yang dikirim Yanti. Mengunduhnya di rumah selalu terbentur koneksi yang lambat. Sementara di media center ini, saya menyelesaikan file sebesar 5 MG dalam waktu 3 menit saja!

Di panggung utama Monday Michiru sedang beraksi, setelah dua kali menyaksikannya pada JakJazz 2006, rasanya kali ini saya absen dulu. Kul Kul, band jazz etnik Bali, sudah menunjukan kehebatannya di Big Stage. Saya menikmatinya sambil makan kebab. Senang menyaksikan Kul Kul tampil dengan 3 orang pemusik tradisional Bali. Nanti disini Tompi akan tampil, sementara Bali Lounge akan tampil di panggung sisi lain Istora Senayan. Bazzattack tampil di Garden Stage.

Melewati deretan booth media, saya berjumpa dengan Arsal, music director radio Trijaya. Kami melanjutkan pembicaraan beberapa minggu lalu tentang rencana produksi acara jazzytunes di radio Trijaya FM. Tak lama Beben bergabung ngobrol. Kebetulan ia juga akan diwawancara secara live oleh Trijaya FM. Berpapasan juga dengan Addo, teman semasa SMA dulu. Kami bertukar cerita tentang reuni SMA malam sebelumnya. Tak jauh dari tempat saya duduk, terdapat booth penjual aneka merchandise. Saya tertuju pada dua buah map plastik bergambar Tintin & Snowy di Bulan. Harganya Rp 45.000,-. Duh tidak jadi saya membelinya. Selain harganya, rasanya tidak terlalu penting mengkoleksi map plastik ini. Milik saya bergambar roket saja belum pernah digunakan.

Duduk berbalas sms dengan teman sungguh menyenangkan. Malam itu saya ber-sms ria dengan Liza, sahabat dekat yang tinggal di KL. Ia sangat iri tidak bisa hadir di JakJazz. Lalu ia mengajak untuk ngobrol lebih gampang di internet. Saya segera menuju media center. Namun tertahan karena bertemu seorang sahabat dekat lain yang juga kerabat dan sama-sama pernah bekerja di perusahaan yang sama, Hussein Sutadisastra. Kami ngobrol banyak, terutama seputar keluarga. Ketika Monday Michiru lewat, Hussein meminta tolong saya untuk memotretnya bersama Michiru.

Kebetulan ada PC nganggur, dan saya segera koneksi internet. Berbincang beberapa lama dengan Liza tentang banyak hal. Mulai dari seputar JakJazz, sampai hal lainnya. Chatting terpaksa dihentikan karena panitia JakJazz akan segera konferensi pers. Tak mungkin saya tidak hadir dan berchatting-ria. Lha wong ruang konferensi pers bersebelahan dengan meja saya.

Panitia (Tommy & Esther Maulana, anak2 Ireng Maulana) dan perwakilan Sampoerna, menyampaikan sambutannya. Mereka sangat berterima kasih dengan partisipasi media dan menyampaikan peningkatan mutu dan jumlah penonton dibanding tahun lalu. Usai acara ini, kami para wartawan tetap berjaga karena konferensi pers Kool & The Gang akan segera dimulai.

Hadir dengan 7-8 personil, Robert, Khallis dan George dengan senang menjawab setiap pertanyaan. Saya sempat menyodorkan sampul CD Salute To The Ladies (1995) yang sayangnya gagal di pasaran. Padahal ini adalah salah satu album terbaik mereka, IMHO, terutama disini JT Taylor reuni sebentar. Ketika saya memintakan tanda tangan, mereka sempat tersenyum dan mengatakan ini adalah album yang bagus. Mereka berterima kasih saya sudah memilikinya. Saya juga mengatakan bahwa ini adalah album favorit saya. Sayang saya tak sempat berfoto bersama dengan Kool & The Gang.

Usai konferensi pers, kembali saya berkeliling kompleks Istora. Saya bertemu dengan Andrew and Ade, pasangan yang sebenarnya teman saya di dunia komik dan film. Kebetulan juga Andrew adalah adik kelas semasa SMA. Jadi kami juga membicarakan suasana reuni SMA malam sebelumnya. Ketika waktu mendekati Kool & The Gang, saya pun menuju ke panggung utama.

Sempat tertahan memasuki ruangan, saya berhasil menyelinap diantara ribuan penonton dan mendapatkan posisi dekat panggung. Fresh menjadi lagu pembuka dan semua penonton langsung bergoyang. Take My Heart melanjutkan malam, namun sayang sempat ada gangguan suara. Suara Kool & The Gang hilang dari pendengaran! Cuma drum saja yang terdengar. Beruntung sekitar 2 menit, suasana kembali normal dan kami pun terus bergoyang. Kool & The Gang masih melanjutkan dengan Joanna, dua lagu dari album terbaru, Cherish, Hollywood Swinging, Jungle Boogie, Summer Madness, Open Sesame, hingga akhirnya tiba pada Let’s Go Dancing, Get Down On It, dan tentu saja lagu yang paling saya tunggu: Ladies Night! Buat info aja, album Ladies Night adalah kaset pertama yang saya beli, ketika itu tahun 1980. Kenangan lagu ini nyaris sepajang hidup saya.

Tidaklah berlebihan mengatakan malam itu menjadi milik Kool & The Gang. Sepanjang malam penonton tak henti-hentinya bergoyang, bernyanyi, melambaikan tangan dan melompat. Tidak hanya mereka yang berdiri di depan panggung. Tapi juga mereka yang duduk di tribun. Tak jauh dari tempat saya berdiri, nampak seorang wanita kulit hitam, ramping, dan sangat cantik. Wah tadinya saya kira hanya Halle Berry yang cantik. Ternyata masih ada yang lainnya.

Tak terasa malam sedemikian larut hingga Kool & The Gang menutupnya dengan Celebration. Ingin rasanya mereka bernyanyi terus. Para personil Kool & The Gang menyalami mereka semua di depan panggung dan melayani setiap permintaan tanda tangan. Ini berlangsung hingga 15 menit! Malam itu benar-benar menjadi malam yang indah dan pantas dikenang. Saat itu saya merindukan seseorang yang seharusnya bisa berbagi keceriaan bersama Kool & The Gang dan saya disini…..

JAKJAZZ 2007 part 1

November 26th, 2007 by surjorimba

Malam itu, Jum’at 23 Nov 2007, terus terang aja saya santai. Hadir di Istora Senayan tepat pada waktunya, ketika panitia masih berbenah. Atmosfir jazz mulai terasa pada JakJazz 2007 ini, walaupun suasana belum ‘panas’. Tampak Blues News sedang berbenah di Garden Stage. Terlihat wajah-wajah senior musisi blues Indonesia. Sebagian sudah akrab sebagai Gipsy Band yang dulu diperkuat Keenan Nasution dan alm. Chrisye. Saya langsung menuju media center untuk mengisi absen, mencari info terbaru, dan bersilaturahmi dengan sesama pers. Disini bertemu dengan Gideon dan seorang sahabat sejak masa SD, Yuri. Kami biasa bertemu pada acara-acara festival, karena tugas yang sama. Setelah mencatat beberapa agenda dan menikmati makanan ringan, saya mulai berkeliling melihat apa saja yang ada di JakJazz 2007. Sudah barang tentu yang pertama dikunjungi adalah counter merchandise, sambil berharap ada CD artis yang dijual. Nampaknya belum banyak barang disana. Sempat juga saya rapat singkat dengan teman-teman dari majalah SoundUp. Bagi-bagi tugas, dan rencana liputan kita. Blues News terus menghembuskan nafas blues kepada penonton, dan suasana semakin asyik. Beberapa panggung lain sudah memulai acara, dan saya tidak begitu tune-in. Setelah sholat dan luntang-lantung, saya menghabiskan waktu di media center saja. Kebetulan Satoru Shionoya menjadi artis pertama pengisi konferensi pers. Saya sangat menantikan kesempatan ini. Dua hari sebelumnya sempat ngobrol singkat dengannya, serta manajernya, ketika panitia JakJazz 2007 menyelenggarakan konferensi pers akbar. Ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan. Kebetulan pula merchandise booth akhirnya menyediakan beberapa CD artis, dan salah satunya adalah Hands of Guido dari Satoru. Harganya cukup murah (Rp 120rb), jika dibandingkan harga resmi yang tertera yaitu Yen 3,000. Akhirnya ada harapan saya mendapatkan tanda tangan kelima personil dalam sampul CD. Panitia JakJazz 2007 sangat berbaik hati menjamu rombongan wartawan dengan makan malam berupa yakiniku, teriyaki, dan aneka makanan cepat saji Jepang. Ketika Satoru Shionoya Group sudah siap di ruang pers, seorang wartawan bercanda,”Ajak aja Satoru kesini (ruang makan). Disini ada makanan Jepang.” Tentu saja seluruh ruangan meledak dengan tawa. Suasana konferensi pers berjalan dengan sangat santai. Pers dengan mudah dapat menyampaikan pertanyaan, dan para personil menjawabnya dengan senang hati. Bahkan sebagian diantaranya dengan panjang lebar. Para wartawan menyampaikan beberapa pertanyaan yang tak saya duga, alias tidak standar. Bagi mereka yang sering menghadiri konferensi pers musik artis asing, pasti tak asing dengan pertanyaan seperti,”Bagaimana perasaan anda dengan suasana Indonesia? Apakah anda akan memasukan unsur musik Indonesia dalam musik anda? Apakah anda akan berkolaborasi dengan musisi Indonesia?” Dst dst. Pertanyaan seperti itu masih ada, tapi masih banyak lagi pertanyaan yang membuat saya kagum. Contohnya,”Bagaimana sikap generasi muda Jepang dalam menikmati jazz hari ini? Bagaimana keragaman latar belakang para personil bisa memperkaya komposisi album?” Dll dll. Tapi saya sempat menyampaikan pertanyaan pamungkas pada sesi itu:”Apakah ada perkiraan total penjualan album Hands of Guido?” Mungkin Satoru dkk tak menyangka ada pertanyaan ini. Mereka masih mengenali saya, terutama karena saya mengambil kursi di muka. Saya penasaran, bukan hendak menguji, ingin tahu seberapa besar respon penikmat jazz di Jepang. Setidaknya ada gambaran dimana posisi penjualan album-album jazz Indonesia di negerinya sendiri. Sang manajer sempat gelagapan juga sangat ditanya perihal tersebut. Diakui bahwa ini pertanyaan sulit, tapi data terakhir mengatakan sekitar 30-40ribu keping sudah terjual. Konferensi pers pun berakhir dengan pengambilan foto. Satoru pun sempat membacakan pidato singkat berbahasa Indonesia kepada pers. Sebelum bubar, saya meminta tanda tangan mereka pada sampul album Hands of Guido. Yoshito Tanaka (gitar) mengatakan sambil tersenyum,”Sangat tampak dari pertanyaanmu bahwa anda mengerti dunia musik, tidak sekedar wartawan musik.” Senang mendengar pujian ini dan ia dengan sangat senang menandatangani CD saya. Akhirnya gue punya tandatangan kelima personil dalam CD!!!! Kembali kami menikmati makan malam di media center dan berbincang-bincang dengan sesama wartawan. Sesekali saya mengakses internet yang disediakan. Luar biasa cepat koneksinya. Sangat berbeda dengan koneksi di rumah. Saya pun berkeliling lagi dan berjumpa seorang kawan lama dari tempat terakhir saya bekerja. Bertukar info tentang kondisi kantor lama membuat saya prihatin. Kondisinya semakin memburuk, bahkan jauh dari perkiraan ketika saya memutuskan untuk pergi. Saya berpesan pada sahabat itu untuk kuat dalam menghadapi cobaan. Semakin malam suasana semakin meriah. Penonton semakin memenuhi kompleks Istora Senayan. Disini saya melihat perbedaan antara JakJazz dengan Java Jazz, sebuah perhelatan festival jazz yang juga namanya sudah mendunia. Saya melihat dari dua sisi: sebagai penonton dan sebagai wartawan. Di JakJazz terlihat para penontonnya datang untuk menikmati musik jazz. Namun dalam Java Jazz, terlihat masyarakat menghadirinya untuk menikmati atmosfir sebuah ‘happening’ tersebar di Jakarta. Perbedaan mencolok juga terasa pada panitianya. Dalam Java Jazz para panitia bersikap lebih superstar daripada para artisnya. Berbeda dengan panitia JakJazz yang lebih bersahabat dan kooperatif dengan siapapun, mulai dari penonton walaupun media. Perbedaan lain adalah, dan ini yang paling penting, di JakJazz nyaris semua pertunjukan tidak ada yg mulai terlambat. Sedangkan di Java Jazz nyaris semuanya terlambat. Penyelenggaraan JakJazz kali ini juga makin rapi dibanding tahun lalu. Panggung hanya 7 buah dan tersebar secara cermat. Artinya lokasinya representatif, dan sesuai dengan musik/ artis yang tampil. Jika sekiranya musik yg tampil membutuhkan kenyamanan suasana, maka panggung yang dipilih adalah ruangan yang lebih intim. Jika musiknya menghentak, maka dipilihlah panggung outdoor dengan kapasitas penonton yang cukup. Jika musiknya lebih nikmat sambil menikmati makan dan minum, dipilihlah lokasi yang diteduhi pepohonan dengan meja bulat dan kursi-kursi nyaman. Saya bertemu dengan wartawan musik senior Bens Leo dan kami pun bercakap-cakap. Ketika saya bercerita rencana menonton Satoru Shionoya Group, ia bercerita tentang penampilan mereka pada gala dinner sehari sebelumnya. Grup Jepang ini memukau hadirin dengan 3 buah lagu selama 30 menit. Ia sangat merekomendasikan band ini untuk ditonton, karena kelima personilnya juga atraktif. Saya menemani Bens Leo keliling kompleks sambil berhandai taulan dengan para kenalannya. Mendekati jam 9 malam, kamipun memasuki arena dan penonton sudah mulai memenuhinya. Tak lama Satoru Shionoya Group tampil dan apa yang dijanjikannya saat konferensi pers terbukti. Mereka benar-benar ‘meledak’. Saya bangga bisa menjadi salah satu saksi malam itu. Mereka seakan menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah band jazz rock tampil di panggung. Laporan pandangan mata saya tulis untuk majalah SoundUp. Segera setelah edisinya terbit, salinannya akan saya tampilkan disini. Usai Satoru Shionoya Group saya kembali berkeliling, termasuk ke media center. Berjumpa dengan beberapa rekan lagi dan tertawa lagi. Tak terasa waktu sudah mendekati penampilan special show, Bugz In The Attic. Tidak banyak yang saya ketahui tentang band asal UK ini, selain apa yang kerap ditulis media. Saya hanya bisa menduga bahwa mereka mengusung dance-jazz. Keasingan publik Jakarta dengan mereka terbukti dengan kurangnya penonton di acara spesial itu. Keasingan itu ditambah dengan ketidaktahuan dengan repertoire Bugs In The Attic, sehingga penonton tampak kalem. Sangat berbeda dengan Satoru dkk yang baru saja tampil di tempat yang sama. Saya sendiri sangat menikmati musik Bugz. Mungkin karena saya juga penggemar musik disko. Lama-lama jenuh dengan suasananya, saya pun berencana untuk pulang. Tidak jauh dari pintu keluar, di halaman, Syaharani & The Queenfireworks sedang tampil. Wah, penontonnya banyak sekali! Musiknya pun asyik, dan Syaharani sangat enerjik. Terlihat sahabat saya, Ella sedang duduk menikmati dan mengajak saya mendampinginya. Kamipun bersama menikmati Syaharani & The Queenfireworks. Setelah sekitar 4 lagu, saya pun pamit. Dalam perjalanan kembali bertemu dengan Yuri dan Gideon. Ketika itu tanpa disangka, Satoru Shionoya berjalan menuju kendaraan. Spontan saja saya memintanya untuk berfoto sebentar dengan saya. Betapa senangnya! Tak lama saya pun pamit kepada teman-teman dan berjalan menuju Lagoon Tower, dimana kendaraan saya diparkir. Hari Sabtu saya akan absen, karena akan menghadiri reuni akbar SMA Kolese Kanisius yang merayakan hari jadinya yang ke-80.

TINTIN & CO

November 19th, 2007 by surjorimba

TINTIN & CO.

Oleh: Michael Farr

Egmont/

Moulinsart

,

UK

, 2007

ISBN 978-1-4052-3264-7

 

Ditulis oleh Michael Farr dalam rangka menyambut 100 tahun
lahirnya Herge, pengarang dan pencipta Tintin. Bagi mereka yang sudah membaca
bukunya yang lain, Tintin: The Complete Companion, sebaiknya memiliki atau
membaca buku ini. Jika dalam Tintin: The Complete Companion berfokus pada kisah
dibalik setiap pembuatan komik Tintin, diselingi biografi Herge, maka dalam
Tintin & Co. Farr berkonsentrasi pada beberapa tokoh utamanya.

 

Sepanjang 129
halaman Farr memperkenalkan satu per satu tokoh rekaan Herge. Semakin dibaca,
semakin kita menyadari banyak hal baru yang didapat dari buku ini. Walau Tintin
selalu ditemani anjing setianya Snowy, pada kenyataannya Herge tidak pernah
memelihara anjing dalam kehidupannya. Ia lebih sebagai penggemar kucing. Snowy
adalah anjing yang tidak kenal takut pada binatang lain, kecuali laba-laba
(Rahasia Pulau Hitam). Kapten Haddock yang terkenal itupun terlahir dengan
sedikit bantuan sahabat Herge, Edgar Jacobs (kelak akan berkarir dengan serial
Blake & Mortimer). Perubahan karakter Haddock juga sudah direncanakan,
seperti yang sempat kita lihat dalam sketsa judul komik terakhir yang tak
sempat diselesaikan, Tintin & Alph-Art. Herge wafat sebelum sempat
menyelesaikannya.

 

Calculus,
profesor eksentrik dengan gangguan pendengarannya, merupakan penyempurnaan
berbagai karakter ilmuwan dalam berbagai petualangan Tintin sebelum
kehadirannya di Harta Karun Rackham Merah.
Bianca Castafiore, sang biduanita dari Milan,
sangat terinspirasi penyanyi opera terkenal pada masanya, Maria Callas. Begitu
pula dengan smash-hit nya The Jewel Song, yang memang menjadi lagu primadonna
bagi kebanyakan biduan masa itu.

 

Terkadang kita
sering melupakan Jolyon Wagg, sang penjual asuransi yang kerapkali menyebalkan
dan sangat persuasif. Disini kita bisa mengetahui betapa Herge sangat sebal
dengan para agen asuransi dan mendedikasikan Wagg kepada mereka. Masih ada lagi
Muller, Alcazar, dan tak ketinggalan, Rastapopoulos, yang kelak akan kembali
lagi pada Alph-Art sebagai penentu hidup-matinya Tintin di panel terakhir yang
tak terselesaikan.

 

Buku ini juga
dipenuhi dengan berbagai panel yang diambil dari komik, sketsa, dan foto-foto
referensi yang pernah digunakan Herge. Pendek kata, buku ini wajib punya bagi para
pecinta Tintin.

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS

November 19th, 2007 by surjorimba

Adapted from Agatha Christie’s novel by Francois Riviere

Illustrated by Solidor

Harpercollins

,

UK

, 2007

ISBN 978-0-00-724658-8

 

Novel grafis ini
adalah buku pertama dari serangkaian adaptasi dari novel Agatha Christie. Sering
diakui khalayak sebagai salah satu cerita misteri pembunuhan terbaik sepanjang
masa. Juga pernah meraih penghargaan Academy Awards pada versi adaptasi layar
lebarnya. Tentunya semua pembaca menantikan apakah novel grafis ini sebagus
versi novelnya.

 

Sayangnya saya
tidak akan, atau tepatnya tidak bisa, menjawab hal itu. Kenapa? Karena saya
belum membaca novelnya. Tepatnya, saya belum pernah membaca satupun novel
Christie, kecuali menonton film-filmnya. Jadi saya membaca novel grafis ini
tanpa beban untuk membanding-bandingkannya dengan versi novel.

 

Secara umum bisa
saya katakan bahwa naskah adaptasinya sangat bagus. Mengadaptasi novel yang
tebal itu tentunya tidak mudah. Apalagi harus memindahkannya kedalam jumlah
halaman yang hanya berjumlah 44 halaman. Bagaimana Riviere menempatkan mana
monolog dan dialog dalam sekian banyak teks balon patut diacungi jempol. Tentu
saja yang paling penting adalah bagaimana Riviere membangun suasana mencekam
dan pengusutan sang jagoan Mercule Poirot dalam memecahkan misteri pembunuhan
di kereta api yang sedang terjebak salju.

 

Bagaimana dengan
ilustrasinya? Solidor menggarap buku ini dengan penuh kecermatan. Ini sudah
dapat dilihat saat membuka halaman pertama. Ukuran panel bervariasi, kaya
warna, sangat rinci, dan yang paling penting pemilihan angle sangatlah tepat. Rasanya
tidak bisa lagi pembaca mengharapkan kesempurnaan yang lebih dari ini.

 

Awalnya saya
hanya iseng beli novel grafis ini, tanpa mengharapkan akan berlanjut. Tapi
nampaknya saya harus mulai menyisihkan anggaran untuk mengkoleksi judul-judul
lainnya.
Sempat saya lihat The Murder On The Links tidak dilukis oleh
Solidor. Namun saya sangat menyukai apa yang saya tatap. Mudah-mudahan tidak
dalam waktu lama saya akan segera melalapnya.

THE 99: KOMIK DENGAN NILAI UNIVERSAL

October 28th, 2007 by surjorimba

dipublikasikan di Koran Tempo Minggu, suplemen Ruang Baca, 28 Oktober 2007

Pernahkah terpikir oleh anda, ke-99 sifat-sifat Allah ‘mendarat’ dalam diri manusia? Mampukah manusia menerima berkah (atau cobaan?) yang sungguh amat mulia ini? Mungkinkah manusia menyalahgunakannya demi kepentingan duniawi?

Naif Al-Mutawa, seorang penggemar berat komik asal Kuwait, mendambakan kisah petualangan manusia berkekuatan super yang membawa nilai-nilai ajaran Islam. Tidak tanggung-tanggung ia mengkhayalkan sekelompok anak muda menerima anugerah tak terbayangkan ini. Mereka terpanggil untuk menggunakan anugerah itu untuk kebaikan umat manusia.

Serial The 99 ketika pertama kali diterbitkan penerbit Teshkeel Kuwait, langsung mendapat sambutan meriah di Timur Tengah. Para penggila komik, yang sebelumnya hanya mengkonsumsi produk Amerika seperti DC Comics dan Marvel Comics, mendapatkan ‘teman baru’ yang kebudayaannya lebih dekat dengan mereka. Tidak hanya itu, nilai-nilai yang dihembuskan pun lebih dekat dengan mereka dibanding apa yang didapat dari tokoh-tokoh Superman, X-Men, Batman, ataupun Spiderman.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menjadi salah satu pasar utama The 99. Beberapa waktu lalu penerbit Imaji Comics, menerbitkan edisi pendahuluan The 99 serta menghadirkan Naif Al-Mutawa dalam rangkaian promosinya di Indonesia. Dalam beberapa kesempatan itulah Al-Mutawa dapat menyampaikan visi dan cita-citanya kepada pembaca Indonesia yang menyambut hadirnya The 99 dengan suka cita.

Menyadari kekurangannya, Al-Mutawa mengajak komikus legendaris Fabian Nicieza bergabung dan memperkaya The 99. Awal dekade 90an, Nicieza menjadi ikon penting dalam wabah serial X-Men bersama Jim Lee, Whilce Portacio, Scott Williams, Marc Silvestri, Adam Kubert, dll. “Saya terkesima tidak hanya kepada konsep dasarnya, namun terlebih pada hasrat Naif dan latar belakang pemikirannya untuk meraih pembaca yang benar-benar baru,” ucap Nicieza pada suatu wawancara, “Buku ini bukanlah komik Islami. The 99 menyuarakan nilai-nilai universal, walaupun para tokohnya pemeluk agama Islam. Komik ini tidak ada bedanya dengan X-Men dari Marvel Comics.” Namun the 99 tak urung mendapatkan kritik, selain pujian. Sebuah lembaga di Saudi Arabia mengkritiknya karena berusaha mempersonifikasi sifat-sifat Tuhan, serta membangun sebuah mitos dengan pendekatan budaya Barat. Sebaliknya beberapa institusi Islam lain seperti di Bahrain menyatakan dukungannya.

Al-Mutawa menambahkan,“Buku ini pun menarik, karena seperti halnya Batman dan Superman, para tokoh The 99 tidak ada yang terlihat sholat atau membaca kitab Al-Qur’an. Namun mereka semua menyuarakan kedamaian dan cinta yang universal. Ke-99 atribut Allah disini adalah yang melekat secara global kepada umat manusia”. Ide melahirkan komik The 99 datang dari adik perempuan Al-Mutawa. Ketika itu Al-Mutawa telah dianugerahi penghargaan penulis cerita anak-anak oleh UNESCO. Ia pun berkonsultasi dengan beberapa tokoh industri komik, sampai akhirnya berkenalan dengan Nicieza. “Beberapa tokoh sudah tercipta ketika dia hadir. Namun pengalamannya-lah yang mampu menjadikan The 99 selaras dengan pakem dunia komik internasional. Ia memperlakukannya selayaknya komik pada umumnya. Kemudian menambahkan unsur-unsur budaya yang tepat untuk memperkayanya”.

Terlepas dari perbedaan budaya, The 99 menawarkan suatu konsep yang universal sebagaimana karya komik lainnya. Nicieza mendeskripsikannya sebagai,”…..seorang manusia yang percaya ia dapat berbuat kebaikan, serta mengajak orang lain yang memiliki keyakinan yang sama untuk bergabung, tak peduli dengan beratnya tantangan yang dihadapi,” urai Nicieza. Dan memang kesan inilah yang didapat ketika kita membolak-balik halamannya. Pendekatan The 99 tak beda dengan X-Men, dimana seorang mentor memiliki keyakinan untuk merubah dunia menjadi lebih baik. Ia pun berkeliling dunia mencari orang-orang yang memiliki cita-cita serupa. Dilain pihak ada pula tokoh yang menginginkan ke-99 kekuatan tsb menjadi miliknya, karena ia yakin dapat menggunakannya lebih baik.

Dari edisi pendahuluan, yang telah diterbitkan Imaji Comics, belum tampak pembuktian ambisi dari usaha Al-Mutawa. Edisi pendahuluan ini baru sebatas membuka pintu perkenalan dengan para tokoh dan latar belakangnya. Sepintas pula, The 99 tidaklah lebih dari sebuah komik genre superhero, dan inipun memang menjadi salah satu tujuan Al-Mutawa. The 99 bukanlah sebuah komik agama. Bagi sebagian pembaca, pesan yang disampaikan Al-Mutawa terasa datar. Mungkin ini sebagai implikasi dari naskah komik yang tidak ‘eksplisit Islam’.

Sepintas pula nampak The 99 adalah komik superhero dengan pendekatan dekade 90an. Jika kini anda membaca komik-komik yang terbit pasca 2000, anda akan menyadari bahwa komik telah berubah. Tema yang diusung kini semakin kompleks dan rumit. Bahasa grafis nya pun tidak lagi sesederhana satu dekade sebelumnya. Singkat kata komik superhero, yang tadinya biasa dinikmati pembaca usia 8 tahun, kini melompat jauh. Komik hari ini pada umumnya baru dapat dipahami oleh pembaca minimal usia 16 tahun. The 99 berusaha mengembalikan komik superhero ke pembaca yang lebih belia, dengan tema-tema yang lebih dapat dipahami.

Bagi mereka yang terbiasa menikmati novel grafis, tentunya sudah bisa membayangkan pengembangan The 99 seandainya ditangani kampiun komik semacam Neil Gaiman, Mark Waid ataupun Bill Willingham. Bahasa grafis nya pun dapat lebih kompleks, seiring dengan latar belakang ‘mengemban ke-99 kekuatan Allah’. Semoga saja dalam episode-episode berikutnya, penulisan naskah dapat lebih ‘dalam’ agar nilai-nilai universal tsb dapat lebih mewabah. Tentu saja masih dalam koridor yang dapat dipahami pada segmen usia pembacanya. Niscaya dunia menjadi lebih baik.